P2Tel

Kita hormati yang tidak berpuasa

Bulan puasa bukan suatu hal yang unik lagi. Dari sejak kita kecil hingga dewasa, tiap tahun kita dikaruniai ketemu bulan suci umat Islam ini. Bahkan, yang merasa terbiasa dengan bulan Ramadhan bukan hanya orang muslim namun juga para penganut agama lain di negara ini.

Selama kita berpuasa di bulan Ramadhan ini kita sering dengar kalimat “Hormatilah orang yang berpuasa”, namun saya yakin kita jarang mendengar kalimat “Hormatilah orang yang tidak berpuasa” atau sejenisnya, benar kan? Kenapa harus menghormati orang yang berpuasa?

Ini pertanyaan polos yang diucapkan anak SD kepada gurunya atau ortunya dan mungkin sebagian dari kita tidak begitu memperhatikan kalimat pertanyaan ini. Coba kita tilik lebih detil pertanyaan ini, tentu saja bukan dari sudut pandang yang setingkat dengan seorang anak SD semata.

Pada hakikatnya alasan mengapa kita harus menghormati orang yang berpuasa adalah karena faktor toleransi umat beragama, baik itu dalam skala sesama umat muslim ataupun skala antar umat beragama.

Tapi sadarkah selama ini kita terlalu jauh “di doktrin” hanya menghormati orang yang berpuasa? Padahal seperti yang kita semua tahu negara ini bukan negara Islam. Negara ini adalah negara majemuk yang jutaan penduduknya tidak turut mengikuti ibadah puasa.

Lalu mengapa kita hampir selalu menekankan pada pentingnya menghormati orang yang berpuasa dengan kurang memperhatikan menghormati orang yang tidak berpuasa? Kenapa harus menghormati orang yang tidak berpuasa?

Ya itu pertanyaan sederhana yang nyata sering dilupakan atau sengaja dilupakan sebagai muslim? Mungkin anda bertanya-tanya “Lho, kenapa kok harus menghormati orang yang tidak puasa?”, yang sebenarnya menurut saya sebuah pertanyaan konyol (aneh jadinya bila anda lulusan perguruan tinggi tapi bertanya seperti itu).

Jawaban atas pertanyaan ini sama seperti jawaban atas pertanyaan mengapa kita harus menghormati orang yang berpuasa, simple kan? Di kehidupan bermasyarakat di Indonesia ini masih sangat miskin toleransi bergama yang menghargai perbedaan pada kaum minoritas atau kaum yang tidak berpuasa.

Lihat saja beberapa waktu lalu pernah ada wacana dari suatu institusi (entah itu organisasi apa namanya saya kurang memperhatikan) untuk melakukan razia tempat makan pada siang hari dengan alasan demi menghormati orang berpuasa. Suatu wacana aksi yang sangat egois dan dangkal menurut saya.

Bagaimana mungkin negara yang penduduknya tidak semuanya puasa mengajukan aksi untuk merazia tempat makan yang buka pada siang hari. Lalu mau dikemanakan orang yang tidak berpuasa? dimana mereka akan sarapan dan makan siang?

Apa mereka dipaksa disuruh berlapar-lapar seperti kita yang berpuasa? kalau begitu mana nilai toleransi antar umat beragama yang selama ini kita kumandangkan? Contoh lainnya adalah dengan membuat suara yang berlebihan ketika sahur. Untuk di kota Jakarta cukuplah suara dari mesjid.

Tidak perlu berlebihan dengan loudspeaker+ teriakan serak2 memekakkan telinga, saya yang muslim terganggu hal itu apalagi yang non-muslim. Pernahkah kita berpikir di kota Jakarta yang sepadat dan sepenuh ini berapa banyak warga non-muslim yang terganggu dengan cara berlebihan seperti itu?

Apalagi ditambah dengan konvoy motor dengan suara knalpot menyakitkan telinga. Orang-orang yang terbangun bisa2 bukan berterimakasih namun malah mencaci maki. Kecenderungan egois seperti ini lama terjadi, terutama di kota besar seperti Jakarta.

Sikap ini kurang lebih muncul akibat rasa “menang” secara kuantitas dibanding agama lain sehingga menimbulkan sikap merasa paling kuat, berkuasa, berhak atas hal-hal tertentu walau dapat dipastikan dapat mengganggu pihak lain.

Orang egois semacam ini kalau di protes dipastikan marah, dan akan mengatasnamakan agama untuk aksi2 anarkis yang berpotensi akan dia lakukan terhadap pihak2 yang berani menentang. Semakin menyedihkan kondisi umat di abad 21 ini, semakin modern semakin tidak terdidik kelakuannya.

Yang semakin membuat miris adalah keengganan para pelaku atau bahkan pemuka agama untuk meminta maaf padahal sudah jelas-jelas telah terjadi suatu pelanggaran, baik itu pelanggaran etika, pelanggaran tata tertib atau bahkan pelanggaran hukum (contoh tak perlu saya tulis).

Orang2 semacam itu merasa yang mereka lakukan yang paling benar, padahal di dunia tidak ada manusia yang paling benar, kebenaran hakiki itu milik Allah SWT, kita manusia hanya menjalankan perintah kebenarannya namun dalam praktiknya kita tidak akan pernah lepas dari kesalahan.

Penyakit “merasa paling benar” telah sukses menjangkiti umat Islam, mulai dari penganut “biasa”nya, hingga ke pemuka2nya bahkan telah terinfeksi virus “merasa paling benar”. Saya tidak tahu kapan tepatnya muncul penyakit ini, tapi penyakit ini membuat kita umat muslim memperoleh namakurang baik bagi umat lain, di Indonesia dan dunia internasional.

Banyak contoh yang tidak mungkin saya jabarkan satu per satu dalam tulisan ini karena akan terlalu panjang, namun kesimpulan yang dapat kita ambil dalam kasus2 ini fakta bahwa kita, kaum mayoritas, cenderung kurang dalam memahami perbedaan yang dialami oleh kaum minoritas.

Kita sering minta toleransi dari umat lain namun kita sendiri kurang bisa mentolerir kepentingan umat lain. Semoga umat muslim dapat segera tersadar bahwa untuk bisa hidup damai seperti yang kita semua idamkan maka kita harus mau untuk menerapkan sikap toleransi dalam hal apapun, amin. Wassalam. (Ajie Marzuki Adsnan; http://www.kompasiana.com/venomaxus/menghormati-orang-yang-tidak-berpuasa_55001746a333117c6f50fd3b)-FatchurR

Tulisan Lainnya :

Exit mobile version