P2Tel

Pohon Jelatang

Tiba-tiba saja saya menemukan pohon Jelatang (Toxicodendron radicans) menyembul diantara simpanan bambu-bambu saya di bawah pagar. Wee Laah, kok ya ada Jelatang tumbuh di halaman rumah saya. Saya banyak punya pengalaman pahit dengan rumpun Jelatang ini.

Pengalaman pertama saat saya lari OR di hutan Juanda di Dago Pakar Bandung, saat itu turun hujan deras dan seperti biasanya saya tidak berhenti lari, malah kesempatan hujan2an seperti pengalaman saat bocah. Tanpa saya sadari saya berlari dibawah tebing, rupanya air hujan menimpa rumpun
Jelatang dan mengguyur tubuh saya.

 

Reaksi racun Jelatang sangat hebat, seluruh kulit saya, terutama punggung terserang gatal luar biasa. Saya lari seperti dikejar setan menuju ke rumah yang tidak terlampau jauh, tapi tidak juga dekat. Saya
tidak mampu menuliskan penderitaan yang saya alami saat itu. Saya kira tidak ada seorang penulispun yang mampu melukiskannya. Setiba di rumah saya segera mandi dan berulang kali saya gosok sabun. Selesai mandi, saya balur kulit saya dengan minyak kayu putih. Sembuh.

Pengalaman ke-2, saat mendaki G.Tambora (2003), Kalau tidak salah jelang Pos ke 3, disana diingatkan Pemandu ada hutan Jelatang yang tingginya lebih dari 2 Mt. Pemandu di depan sudah menebas batang-batang Jelatang dengan parang, namun tak luput lengan saya tergores juga oleh daun berbahaya itu.

 

Segera rasa gatal menjalar, seperti saran para pendaki yang lain, saya gosok bagian yang gatal itu dengan tanah dan saya diamkan tidak saya garuk. Saya menggigit gigi menahan gatal dan gatal itu akhirnya hilang dengan sendirinya.

Pengalaman ketiga, belum lama ini, saat bersama teman-teman 4T mendaki bukit Karumbi. Entah dimana lengan saya tergores Jelatang. Gatal saya rasakan saat beristirahat di area perkemahan. Kali ini saya sudah bisa bersahabat dengan gatalnya Jelatang. Saya ambil tanah saya gosok dan saya nikmati gatalnya selama sekitar sepuluh menit. Rasa gatal itu lenyap dengan sendirinya.

Tapi sesungguhnya, dibalik kenakalan Jelatang, tumbuhan ini juga sangat banyak khasiatnya. Jelatang bisa menyembuhkan penyakit-penyakit anemia, artritis, gout, sakit otot, nyeri sendi, rhinitis alergi, infeksi saluran kencing, gigitan serangga dan tendonitis. Alam ini memang kadang-kadang jenaka… (Sadhono Hadi)-FR

————–

 

Sajian lainnya : Generasi Tangguh
Tahun-tahun 1943 sampai 1949 adalah tahun2 sulit bagi bangsa kami. Tahun-tahun pahit dibawah kaki serdadu Jepang sampai awal Republik baru belajar merdeka diganggu oleh tentera Belanda yang ingin kembali meneguk madunya Nusantara yang sempat terebut saat PD II. Generasi yang banyak masa kecil
bahkan lahir di pengungsian.

 

Mereka tidur dibawah selimut kain batik usang yang tipis yang tiris karena tetesan atap bocor yang belum sempat dibenahi. Mereka dalam dekapan ibunya yang terpontang panting mengungsi dibawa oleh derikan roda pedati. Mereka tidak tahu Bapak atau pamannya berjuang entah dimana. Mereka yang kehilangan kakak atau pamannya gugur diterjang peluru tentera pendudukan.

Generasi tangguh yang sempat makan burgur, atau nasi jagung. Generasi yang sempat makan hanya berlauk terasi atau rebusan rebung muda yang tidak sempat menjadi bamboo runcing. Generasi yang tulangnya liat karena banyak makan ulat, gangsir atau laron goreng.

 

Generasi yang dapurnya warna hitam sehitam kulitnya karena kayu bakar adalah satu2nya bahan bakar memasak nasi. Mereka yang saat bayi telinganya akrab dengan desingan suara bedil, metraliur atau mortir. Generasi yang merayakan HUT dibawah lubang perlindungan dengan alunan sirene me-raung2.

Generasi yang sempat merasakan uangnya tergunting karena sanering. Generasi yang pernah menggigit jari. Karena tiba-tiba uangnya yang lima ribu menjadi hanya lima perak. Generasi yang mengalami dahsyatnya hama tikus di seluruh negeri.

 

Generasi yang mengalami panasnya perang saudara antar sesama anak negeri. Kami alami perjuangan Trikora, Dwikora. Kami terbiasa dengar teriakan semangat bebaskan Irian atau Ganyang Malaysia. Kami bukan generasi pengeluh. Kami ganti keluh dengan peluh. Rawe2 rantas malang-malang putung.

Tapi kami bersyukur. Kami pernah dengar gelegar pidato orator. Kami tahu arif dan rendah hatinya Bung Hatta. Kami akrab agung dan bijaknya Sri Sultan HB IX. Kami merasa dekat dengan pemimpin bangsa. Kami pernah merasakan susah dan sengsaranya bangsa bersama mereka. Kami bangga dengan mereka.

Kini kami berusia antara 65 sampai 75. Mungkin kami sudah berbau tanah, satu persatu teman kami antar teman kami ke pemakaman. Tapi ya Allah, terima kasih atas gemerlap untaian pernak-pernik kehidupan kami. Semoga kami saat Kau jemput, dalam keadaan ingat kepada-Mu. (Sadhono H)-FR

Tulisan Lainnya :

Exit mobile version