P2Tel

Bensantap di atmosfir tidak lazim(1)

ADA kalanya rumah makan disinggahi bukan karena cita rasa masakan semata. Ada yang cari cara lain menyedot pengunjung. Salah satunya menawarkan sensasi bersantap di atmosfer tak lazim, misal di kabin pesawat atau di tengah suasana rumah sakit.

Saat jam makan siang tiba (21/10/15), suasana di dalam kabin pesawat Boeing 737-400 itu riuh. Ada puluhan ”penumpang” yang asyik berfoto selfie dan leluasa menyambangi ruang kokpit sembari menunggu hidangan disajikan.

Wajar karena mereka tak berada di pesawat yang mengudara. Meski asli, pesawat itu menetap di darat dan disulap jadi rumah makan. Di Restoran Taman Santap Rumah Kayu itu, pesawat berkapasitas 162 penumpang ini diparkir di tepi pantai Ancol dan menjadi tempat makan berisi 16 meja dengan 64 kursi.

Pengunjung tertarik nuansa pesawat asli yang dihadirkan. Salah satunya adalah Wenny Tanuwidjaja (42). Sejak menginjakkan kaki di pesawat, telepon seluler Wenny tak pernah lepas dari genggaman. Setelah menyapa teman2nya, ibu dua anak ini duduk di pinggir jendela. Posisi favorit orang2 saat berada di pesawat.

”Klik… klik….” Sejumlah pose selfie bersama rekan-rekannya ia buat. ”Saya baru pertama kali ke sini. Awalnya lihat teman-teman lain posting foto (tempat ini) di Instagram, jadi penasaran. Kayaknya seru berada dalam pesawat sambil makan,” ucap Wenny.

 

Rumah makan ini memang berada di dalam sebuah pesawat bekas yang tidak terpakai lagi. Interior pesawat itu sebagian besar masih orisinal. Pemiliknya mengklaim sekitar 70 persen interior restoran adalah bagian dari pesawat asli.

16 meja dengan masing2 empat kursi berada di dalam kabin pesawat ini. Kursi2nya juga kursi asli pesawat yang dimodifikasi dengan tambahan kaki2 dan roda. Tombol pemanggil yang biasa digunakan untuk memanggil pramugari masih berfungsi. Tombol itu digunakan memanggil pelayan yang tampak sibuk melayani satu per satu pengunjung.

Ini menarik minat Ling Ling Wijaya (50) merayakan HUT emasnya di resto ini. Rasa penasaran terpuaskan. ”Pengen tahu saja makan di restoran di pesawat itu. Soalnya saya belum pernah makan di tempat seperti ini. Makanya, ngerayain HUT di sini” ucapnya. Ling Ling mengundang sekitar 30 rekannya.

Selain berfoto di meja masing2, bagian kokpit juga jadi daya tarik utama. Topi pilot yang disediakan jadi asesori utama. Bagian kokpit itu utuh, lengkap dengan kursi pilot dan kopilot serta tuas-tuas kendali. Sebagian besar instrumen sudah dilepas. Bagian ekor pesawat juga tetap difungsikan sebagai tempat transit makanan sebelum disajikan.

Manajer Pemasaran Rumah Kayu Fendy Kurniawan menuturkan, rumah makan yang dibuka untuk umum sejak Juli 2015 ini bisa jadi restoran dengan konsep pesawat asli yang pertama di Jakarta. ”Intinya, kami ingin menawarkan tempat makan yang berbeda dan baru,” kata Fendy.

Menu di resto ini beraneka ragam. Salah satu menu andalan Ayam Bakar Kampung Rumah Kayu. Ayam bakar berbumbu kecap ini terasa gurih dan empuk. Selain itu, ada Udang Tiger Saus Dabu-Dabu dan Ikan Gurame Saus Mangga. Untuk datang ke tempat ini sebaiknya pesan tempat lebih dulu, mengingat jumlah kursi terbatas.

”Apalagi akhir pekan. Saat ini untuk dapat tempat saat weekend harus menunggu 2 minggu. Itu kalau tak ada yang membatalkan (pesanan),” kata staf pemasaran Rumah Kayu Ancol, Ricardo Siregar. Pengunjung disarankan minimal ber-4 atau kelipatannya. Sebab, ujar Ricardo, pengunjung diarahkan untuk pesan satu meja berkapasitas 4 orang.

Dari konsep itu, ditawarkan 4 paket menu sekitar Rp 600.000 per paket. ”Untuk keluarga, menurut kami harga itu terjangkau,” kata Ricardo. Taman Santap Rumah Kayu dibangun bersama oleh keluarga Susanto Wijaya dengan manajemen Sriwijaya Air.

 

Pesawat Boeing 737-400 itu didatangkan langsung dari Bandara Soekarno-Hatta setelah habis masa pakainya. (HARRY SUSILO dan SAIFUL RIJAL YUNUS; I Made Asdhiana; Harian Kompas; http://travel.kompas.com/read/2015/10/25/092100027/Sensasi.Bersantap.di.Atmosfer.Tak.Lazim?page=all)-FatchurR

Tulisan Lainnya :

Exit mobile version