P2Tel

Hasil tax amnesty (andai) Buyback Telkomsel

UU No. 11/2016 tentang Pengampunan Pajak (Tax Amnesty) disyahkan. Pemberlakuannya diharapkan berdampak pada banjirnya dana yang mengalir masuk ke Indonesia. Pada saat selesainya masa UU tersebut pada akhir Maret 2017, penerimaan pajak negara diharapkan bertambah Rp165 triliun.

Dari pelbagai berita, ada Rp4.000 triliun uang WNI yang disimpan di Singapura. Oleh karena itulah tidak mengherankan bila pemerintah Singapura gencar menyiapkan perlawanan terhadap kebijakan tax amnesty Indonesia.

 

Ya maklumlah, bila uang tersebut pulang mudik ke Indonesia, maka pastilah ekonomi Singapura langsung letoy, kekurangan likuiditas. Apa artinya Rp4.000 triliun ini bagi kita? Jumlah ini adalah setara dengan dua kali APBN Indonesia tahun 2015. Luar biasa!

Dana yang diperoleh dari tax amnesty direncanakan Pemerintah untuk memperkuat perekonomian negara, meningkatkan kualitas hidup masyarakat, dan sekaligus menggeber pembangunan infrastruktur di Indonesia supaya gak kalah dibandingkan dengan negeri jiran.

Eh ngomong2, uang yang di seberang lautan di-uber2, tapi uang yang di depan mata kok dicuekin aja? Di Indonesia ada operator seluler terbesar, terluas dan terkaya. Namanya? Betul, bro, Telkomsel pasti. Operator seluler nomor wahid ini, sekarang pelanggannya berjumlah lebih dari 160 juta.

Anda tahu, berapa kapitalisasi (harga total saham) Telkomsel? Tahun 2013-2014, US$24 milyar. Pada tahun 2002, Singapore Telecom (SingTel) beli saham Telkomsel 35% hanya US$1,031 milyar. Nah harga itu tahun 2014 sudah setara dengan US$8,4 milyar, artinya dalam 12 tahun, SingTel menikmati capital gain 8 kali lipat dibandingkan saat membelinya. Di Telkomsel, Telkom memiliki saham 65%.

Laba bersih Telkomsel di tahun yang sama, 2014, mencapai Rp19,4 triliun; jadi SingTel (35%) menerima Rp6,8 trilyun. Telkom (65%) memperoleh net Rp12,6 trilyun; dari jumlah ini Telkom membayar dividen kepada Negara 52%.

 

Artinya Republik Indonesia (dengan populasi lebih dari 250 juta penduduk) menerima sekitar Rp6,55 triliun, nota bene lebih kecil dari yang diterima SingTel! Dan dividen yang diterima SingTel ini jauh lebih besar ketimbang laba kotor yang bisa diperoleh banyak BUMN kita saat ini.

Bila tahun pada tahun 2002 Telkom menjual sahamnya kepada SingTel karena kebutuhan fresh money untuk investasi, sekarang sudah tiba saatnya untuk menanggulanginya. Bila capres Jokowi pada masa kampanye pilpres 22 Juni 2014 berjanji untuk mem-buyback Indosat, sepertinya ini tempo bagi kita mensuport beliau melunasi janjinya.

Sebentar lagi hasil dari tax amnesty, uang yang kembali dari Singapura akan mengucur. Maaf kata, mengapa harus buyback Indosat bila bisa dapat Telkomsel? Dari pada kita kerja sampai temehek-mehek, yang menikmati hasilnya SingTel, lebih baik kita ambil kembali saham Telkomsel.
Jangan lagi ada eksekutif yang berbasa-basi mengatakan tidak berniat apalagi berminat mem-buyback perusahan seluler petelur emas ini. Presiden Jokowi sudah mencontohkan kita untuk berani melakukan revolusi, mengapa tidak kita melakukan akuisisi.

Telkomsel 100% Indonesia? Ehm, ini baru kereen beneran! Salam Indonesia. [garuda sugardo, pernah bod di telkomsel, indosat dan telkom]-FR

Tulisan Lainnya :

Exit mobile version