P2Tel

Proyek Ramadhan (TA 82)

Banyak Ustadz dan penceramah menganjurkan untuk meningkatkan ibadah selama bulan Ramadhan. Membaca dan mempelajari kitab suci Al Qur’an, membaca Hadits, yang shahih tentunya, Tadarus dan Dzikir, mengikuti tauziah dan ceramah-ceramah dari para ustadz ataupun Kyai. Bulan ini memang bulan penuh bonus. Semua amalan dilipat gandakan ganjarannya.

Akan halnya dengan saya, bertekad melaksanakan proyek tambahan, mendobrak kebiasaan jelek saat bulan Ramadhan. Puasa selalu menjadi semacam excuse untuk tidak berolah raga. Alih-alih menurunkan berat badan, puasa menjadi proyek peningkatan berat badan.

 

Asupan tetap, malah mungkin makin meningkat, sedang kegiatan fisik menurun. Celakanya, ketika bulan Syawal tiba, kaki masih enggan untuk diajak kembali ke lapangan rumput. Alhasil kembali berlari setelah satu bahkan dua bulan lepas Ramadhan. Itupun mulai dari awal lagi.

Siklus itu terjadi bertahun-tahun, seumur-umur seolah tradisi yang memang “taken for granted”, ya begitulah adanya. Ini tentu tidak benar. Tauladan Nabi Muhammad SAW yang tetap berperang dalam bulan Ramadhan, perang Badar, ternyata hasilnya gemilang.

 

Kaum muslimin mendapatkan kemenangan besar menghadapi kaum musyrik Mekkah. Banyak alasan bekerja di bulan Ramadhan mestinya bisa lebih produktif, karena tidak terganggu jeda minum atau makan.

Jauh sebelum Ramadhan tiba saya sudah mulai berlatih. Saat puasa sunnah, tetap melakukan olah raga rutin. Untuk menghindari dehidrasi, waktu berolah raga saya geser sore hari. Saat buka minum banyak dan kalau masih sempat mandi dengan guyuran banyak air.

 

Asupan makanan malah berkurang, karena perut telah terisi air. Ketika bulan Ramadhan tiba, saya sudah terbiasa dan tidak ragu-ragu berolah raga. Saya menggunakan tread-mill di rumah, sehingga aktivitas olah raga tetap berlangsung sekalipun cuaca tidak bagus. Jarak dan jumlah pencapaian juga lebih terukur.

 

Saya lakukan dengan metode 2:1, artinya dua hari berturut-turut olah raga dan satu hari jeda. Kadang jadwal ini terganggu, sehingga tidak sempat dua hari, masih dalam batas toleransi. Namun saya jaga jangan sampai 3 hari berturut-turut tanpa lari, bila terpaksa saya berlari pada malam hari. Apa boleh buat.

Menjelang hari ke 20 ini, Alhamdulillah proyek saya lancar. Jarak tempuh 4 km lebih untuk waktu 35 menit lebih. Kecepatan rata-rata antara 6 sampai 7 km per jam.

 

Kalori yang dibakar lebih dari 300 kcal, masih kurang mungkin, tapi bila ditambahkan dengan kebutuhan kalori untuk hidup yang sekitar 2500 kcal, sudah cukup. Buktinya berat badan sudah menurun sekitar 3 atau 4 kg, jadi sudah tidak ada kelebihan kalori yang disimpan dalam bentuk lemak.

Angka BMI (Body Mass Index) ideal memang belum tercapai, masih 25 koma sekian. Untuk masuk katagori ideal masih harus turun sedikiiit lagi. Mudah-mudahan di akhir bulan Ramadhan bisa tercapai. Namun yang lebih penting, mitos kalau puasa itu loyo dan tidak perlu olah raga, sama sekali tidak benar. (Sadhono Hadi; dari grup FB ILP)-FR

Tulisan Lainnya :

Exit mobile version