P2Tel

Cerita waktoe itoe Ular lare angon

// Cerita ‘Waktoe Itoe’ ini cerita tentang Indonesia di masa lalu. Kita batasi paling tidak 40 tahun yang lalu ya. Anda juga sangat ditunggu cerita pengalamannya. Cerita bisa apa saja, pokoknya menarik. Bisa juga mengambil cerita sendiri, orang tua, kakek-nenek, guru, dsb. //

Sebelum pestisida hadir di Indonesia, sebelum tahun 1964-an, di kampung saya, di Indonesia umumnya, banyak sekali binatang. Berbagai burung ada, begitu juga berbagai ular, ikan, musang, belalang, ulat dan masih banyak lagi.

Setiap hari saya dan anak lain jalan kaki dari rumah ke Sekolah SD, yang terletak di jalan besar. Namun saat itu di jalan besar itu lalu lintas masih sepi, yang ada hanya dokar (sado), sepeda dan orang jalan kaki. Mobil dan sepeda motor tiap harinya hanya satu dua yang lewat.

Kiri dan kanan jalan itu masih berupa persawahan. Nah di sawah itu ketika kami sering lewat, bahkan banyak ditemukan ular yang disebut ular “lare angon” yang bahasa Indonesianya ular kisik dan bahasa biologinya Xenochrophis vittatus.

 

Ular ini banyak terdapat di sawah atau selokan atau semak2 dekat air. Mereka memakan ikan kecil, katak kecil sampai berudunya. Ular “lare angon” artinya ular anak gembala (lare = anak, angon = menggembala). Mengapa disebut demikian, karena ular ini sering ditangkap anak penggembala bebek, kambing atau kerbau untuk dibuat mainan. Kalau sudah bosan, lalu dilepas kembal ke sawah.

Ya benar, anak-anak kecil berani memegang ular ini karena memang kecil, badannya hanya sebesar jari dengan panjang sekitar 50 kalau sudah dewasa. Ular ini juga aman, tidak menggigit (kecuali terpojok) dan gigitannya tidak begitu sakit dan tidak beracun.

Bagaimana cara memainkannya? Ya dipegang-pegang saja. Kadang dikalungkan ke tangan, leher atau badan.

Nah, kadang ada tukang jamu yang membawa ular ini. Sudah menjadi hal yang lazim di jaman itu, tukang jamu atau tukang obat (tukang = penjual) di pinggir jalan, keliling kampung atau mangkal di alun-alun kota suka membawa permainan untuk menarik calon pembeli, salah satunya ya ular ini.

 

Tukang obat ini sering memasukkan ular ini (yang masih kecil) dari lubang hidungnya, lalu ular akan keluar dari mulut. Anak-anak kecil banyak yang meniru, melakukan hal ini juga dan berhasil dengan baik.

 

Bangga kalau bisa melakukannya, karena memerlukan keberanian dan ketegaan (karena bagi yang tidak suka akan merasa jijik memegangnya, apalagi masuk ke mulut). Selain itu kadang ular ini mengeluarkan bau tidak enak (langu).

Saya pernah lihat TV, di Thailand ada permainan memasukkan ular melalui hidung dan keluar dari mulut dan jadi atraksi untuk dipertontonkan ke turis asing. Bagus juga ya idenya. Padahal jaman dulu hal begitu itu hanya permainan tukang obat dan anak kecil di sini. Anda berani melakukan juga? Atau perlu ditampilkan untuk atraksi bagi turis asing ya? (Widartoks 2016; dari grup FB-MKPB-Telkom)-FR

Tulisan Lainnya :

Exit mobile version