P2Tel

Lidah (TA 182)

Coba tekuk ujung lidah kebawah dan bicaralah. Sulit mengerti apa yang kita omongkan. Kita boleh punya pita suara, tapi bila tidak memiliki lidah, kita hanya bisa berkokok seperti ayam jantan. Jadi lidahlah aktor utama suara kita.

 

Mulut dan bibir hanya pemeran pembantu. Kadang kita tak sadar betapa besar anugrah nikmat memiliki lidah. Lidah, salah satu sumber kebaikan dan sumber kita menangguk pahala, ucapan yang menyejukan dan menghibur berasal dari lidah. Nasihat yang baik juga timbul dari gerakan lidah. Guru atau ulama membagikan ilmu melalui lidah. Ucapan iman, kesaksian akan Allah dan Rasul-Nya juga melalui lidah.

 

Bahkan perjanjian Agung antara sepasang umat yang menempuh mahligai rumah tangga juga diucapkan oleh lidah dihadapan penghulu. Tapi lidah juga sekaligus menjadi pengambil keputusan terakhir saat sebuah pasangan pernikahan bersepakat untuk berpisah.

 

Lidah juga muara tempat berakhirnya ribuan syaraf pengecap rasa. Lidah-lah yang pertama kali mengecap asupan yang baik dan halal, sebelum makanan dicerna dan diolah menjadi sumber daya dan tenaga bagi seluruh sel-sel tubuh.

Sebaliknya lidah juga jadi awal dan sumber malapetaka yang menyeret ke pertengkaran, perkelahian bahkan perang. Lidah lah yang menyebar fitnah dan berita buruk dan bohong.. Lidah juga yang menjadi pengecap pertama barang-barang haram yang kelak menyeret pemilik lidah ke neraka jahanam.

Lidah memang bisa menjadi penyiram embun yang sejuk, damai dan menentramkan, namun juga kadang berubah menjadi monster yang tajam, runcing, panas seperti jilatan ujung api. Kelak, lidah ini akan dikunci dalam mulut (Yasin, 36:65) yang tertutup rapat dan tangan serta kaki-lah yang menjadi saksi perjalanan hidup seorang umat. (Sadhono Hadi; dari grup FB ILP)-FR

Tulisan Lainnya :

Exit mobile version