P2Tel

Menikmati Ikan Etong Bakar Subang

Ini ada cerita sisa liburan: Yang diremehkan tidak selamanya jelek, bahkan ada istilah Jawa  “nyolong pethek”. Diajak anak, menjelang  maghrib, kami  berangkat dari Lembang sekeluarga. Bukan mau silaturahmi ke saudara, bukan pula mau cari beras Subang yg terkenal, tapi mau berburu etong bakar.
Berhenti istirahat sebentar  di Patrol, yang terkenal pedagang  durennya, kami sholat maghrib dulu baru kemudian  dilanjutkan kekota Subang. Setelah berputar putar cari alamatnya, akhirnya ketemu dekat rumah sakit.
Yang kubayangkan semacam restoran Sunda ternyata beda. Menempati tenda trotoar yang memanjang, bara api pembakar ikan sedang dibuat  api unggun besar untuk dapatkan bara yang banyak. Kami duduk sengaja didekatnya sambil  menghangatkan badan dari dampak gerimis sepanjang jalan. Anakku pesan ikan Etong bakar dan tak lupa ikan  cumi juga buat cucu.
Ikan ini diambil dari pantai utara Jawa Indramayu dan termasuk yang kurang diminati dipasar. Susah mengolahnya karena kulitnya super keras untuk dikerjakan level ibu rumah tangga. Namun bukan alasan bagi tukang ikan pemilik warung tenda ini. Selesai di pesan, semua dari kepala hingga ekor, dicuci dan  dibumbui, siaplah untuk dibakar.
Nama lain etong katanya adalah *ikan ayam ayaman*. Mungkin anda juga tahu. Kubilang tadi, nyolong pethek, karena setelah disajikan dengan sambal kecap manis pedas, heeemmmm empuk dagingnya yang tebal dan bumbu yang gurih, menghapus prasangka kalau etong ikan jelek.

 

Sebaliknya aku acungkan jempol, tidak kalah dengan gurami apapun. Nyamiiii, murah dan menggoyang lidah. (Soenarto SA; dari grup WA-VN)-FR

Tulisan Lainnya :

Exit mobile version