P2Tel

Norwegia tanpa korupsi-Negara paling bahagia

Jakarta- Bebas korupsi dan masyarakat mengedepankan jujur, dan pendapatan penduduk tinggi menjadikan Norwegia sebagai negara paling bahagia di dunia (2017) versi Sustainable Development Solutions Network (SDSN). Capaian itu sulit disamai Indonesia yang turun drastis kebahagiaannya dari sebelumnya.

 

Tahun ini Indonesia terdampar di peringkat ke-81, anjlok dari posisi ke-79 pada 2016. Indeks kebahagiaan Norwegia meloncat dari urutan keempat ke posisi puncak tahun ini. Di belakangnya terdapat Denmark (peringkat pertama pada 2016), Islandia, dan Swiss dalam skor yang sangat ketat.

Artinya perubahan sedikit dapat mengubah susunan peringkat teratas. Ke-4 negara itu bahagia karena santun, kedermawanan, jujur, kesehatan, dan pendapatan bangsanya. Keuangan, Norwegia memberi kejutan besar karena terpuruk akibat rendahnya harga minyak. Norwegia membuktikan uang bukan asupan utama jiwa.

Justru penjualan minyak yang kian ketat dan melambat, mereka lebih rajin menabung dan mengurangi uang belanja yang tidak perlu. Prinsip hidup sederhana itu lalu didukung berbagai faktor lain. Bangsa Norwegia hidup bahagia karena bersyukur, saling percaya, dan saling mengasihi, dan membantu. Pemerintah Norwegia bersih dari korupsi dan fokus pada rakyat.

Mereka berusaha agar rakyat sejahtera. “Hal terpaling penting berkaitan kemanusiaan,” ujar penulis utama laporan itu, John Helliwell, yang ahli ekonomi dari University of British Columbia Kanada  dikutip NBC News. “Jika kekayaan membuat seseorang kian sulit membangun kepercayaan orang lain, apakah itu setimpal?” tambahnya.

Negara2 yang masuk 10 besar juga bertipe kehidupan yang hampir sama dengan peringkat empat besar. Finlandia yang menduduki posisi kelima juga memiliki tingkat kesehatan, pendapatan, sosial, dan kepercayaan yang tinggi. Begitu juga dengan Belanda, Kanada, Selandia Baru, Australia, dan Swedia.

Perbandingan 10 peringkat teratas dan 10 peringkat terbawah menunjukkan beda kepedulian sosial, kedermawanan, kebebasan, pemerintahan jujur, pendapatan per kapita, dan harapan kesehatan hidup. Di negara maju, kesenjangan tidak disebabkan perbedaan pendapatan, tetapi oleh kesehatan mental.

“Beda pendapatan lebih dipermasalahkan di negara berkembang meski kesehatan mental juga jadi sumber utama kesengsaraan,” ungkap SDSN.

Pekerjaan faktor lain yang menentukan. Orang nganggur lebih cepat menurun kebahagiaannya dari orang yang bekerja. Tingkat kebahagiaan di AS menurun dari tahun ke tahun. Pada 2007, AS dikenal  negara ke-3 terbahagia di antara negara anggota OECD. Namun, tahun ini, AS menduduki posisi ke-14.

Penyebabnya, AS mengalami peningkatan kasus korupsi, penembakan, dan rendahnya dukungan sosial. Raksasa Asia China juga tidak mengalami peningkatan kebahagiaan signifikan sejak 25 tahun lalu. Saat ini China menduduki posisi ke-79 atau lebih tinggi dua posisi bila dibandingkan dengan Indonesia.

“Hal itu kontras dengan pertumbuhan pendapatan per kapita China yang naik tajam sejak 1990-an,” ungkap SDSN. Kini berkembangnya teknologi, kebutuhan norma sosial yang stabil lebih meningkat bila dibanding uang. Ahli ekonomi Skotlandia Adam Smith berpendapat manusia mudah simpati pada nasib orang lain. “Tapi kekuatan mencapai kebahagiaan umum di dunia terletak di tangan Tuhan,” kata Smith.

 

Riset2 di bidang ekonomi dan psikologi cenderung ikut praduga Smith, simpati moral tiap orang terbatasi oleh keluarga dan sahabat. Orang yang mementingkan diri diduga lebih stres. Sebab hubungan sosial itu fondasi penting, baik dalam menjalin bisnis ataupun persahabatan. Helliwell menyatakan pengurangan stres juga dapat meningkatkan kesehatan fisik.

Faktanya, sebuah penelitian di Swedia, stres terbukti meningkatkan angka kematian di antara orang2 yang sebelumnya tampak sehat. Risiko itu dapat dihapus di antara mereka yang didukung emosional dari orang terdekat. Hubungan sosial negatif seperti orang yang sering terlibat konflik 2x lipat lebih cepat terkena penyakit. Jadi peran sikap murah hati sangat besar dalam membantu menyehatkan tubuh.

Berbagai macam studi juga menunjukkan orang yang sering menyumbang lebih sehat daripada orang yang kikir. “Bukti nyata dari kasus ini dapat dilihat dari intervensi sosial saat seseorang mengalami kecelakaan atau memerlukan bantuan darurat,” ungkap SDSN.

“Memiliki seseorang yang dapat diandalkan di saat genting memberikan dampak yang sangat besar sekalipun tidak memiliki pendapatan dan kesehatan yang bagus,” tambah SDSN.

Lebih dari 90% responden memiliki seseorang yang diandalkan. Namun SDSN sadar ini multidimensi karena dukungan sosial tidak hanya dibutuhkan di rumah, tetapi juga di perjalanan, di tempat kerja, dan luar daerah. Artinya dukungan jaringan sosial secara keseluruhan di satu negeri jauh lebih penting. (esn; Muh Shamil; https://international.sindonews.com/read/1190383/41/tanpa-korupsi-norwegia-negara-paling-bahagia-1490099824)-FatchurR

Tulisan Lainnya :

Exit mobile version