P2Tel

Dikira kita Kebo

Seorang Eksekutif Muda (Eksmud)  menyetir sedan mewah ke luar kota. Saat lewat perbukitan yang berkelok, ia lihat truk dari arah berlawanan. Ketika berpapasan di tikungan jalan, pengemudi truk agak melambat, membuka kaca jendela dan berteriak dengan keras, KEBO

Eksmud tadi tersinggung. Ia langsung buka kaca jendela dan membalas dengan penuh emosi, Kamu yang KEBO. Dan ia terus memaki, KEBO jelek tidak punya otak, Dasar gembel. Dan kemudian tancap gas lagi. Tiba-tiba, saat mobilnya melewati tikungan, ada puluhan kebo yang bertubuh besar, turun dari perbukitan memenuhi jalan.

 

Terlambat bagi Si Eksmud menghentikan mobilnya. Akhirnya mobilnya menabrak kebo seberat 300 kg. Saat berusaha menghindari kebo lainnya, mobil mewah itu terguling dan jatuh ke dalam lembah. Ternyata, teriakan sopir truk tadi bukan ejekan, tetapi peringatan untuk Si Eksmud bahwa ada kawanan kebo yang akan melintas di jalannya.

Ego seringkali menjadi bibit yang bisa memicu emosi. Seperti kasus itu, penyampaian yang tidak sesuai  kaidah dianutnya, dianggap tidak layak, tidak sopan dan kurang ajar. Padahal ia berada di luar zonanya, berada di lingkungan berbeda, dengan sifat orang berbeda pula. Itu area umum yang punya kultur dan kondisi berbeda. Tidak semua dapat disesuaikan dengan dirinya. Akibatnya merugikan diri sendiri.

Jika anda punya ego tinggi dan temperamental, mari belajar mengalihkan emosi buta anda pada hal2 konstruktif. Jangan emosi saat menghadapi kondisi yang tidak sesuai dengan keinginan anda. Belajarlah sabar dan cari tahu keadaan di baliknya. Niscaya ini akan lebih menguntungkan anda.

 

Karena melampiaskan emosi, nyaman untuk sesaat, tetapi bisa menjadi penyakit yang merugikan untuk jangka panjang. Mari belajar, cepat mendengar tapi lambat untuk ber-kata2 dan lambat untuk marah. (Bambang Herijanto; dari grup WA-RisTI)

 

Monggo lengkapnya klik aja :  (http://halumum.blogspot.co.id/2016/08/k-e-r-b-u.html)-FR

Tulisan Lainnya :

Exit mobile version