P2Tel

Segera Tinggalkan Zona Nyama

Selengkapnya judul itu adalah : “Segera Tinggalkan Zona Nyaman atau anda akan diterjang Tsunami Online”. Ini yang selalu saya tekankan pada peserta2 training. Apa alasannya? Perubahan teknologi itu akan mengubah budaya. Apalagi jika aplikasinya sudah ramah terhadap para pengguna.

 

Dampaknya, banyak gerai toko dan kantor bank akan tutup terkena budaya  online. Termasuk jalan toll tidak lagi terima uang tunai. Ratusan ribu karyawan bakal dirumahkan. Ini harus dilakukan karena dapat memangkas biaya operasional, terutama gaji karyawan.

 

Karena itu, bagi para karyawan atau juga sahabat2 saya para pensiunan, saya sarankan segera tinggalkan Zona Nyaman, siap2 untuk beralih profesi dan pemikirannya. Jadikan budaya online sebagai penunjang usaha Anda. Tangkap peluang emas ini untuk berani memulai membuka usaha.

 

Ombak itu jangan dilawan, tetapi manfaatkan untuk berselancar. Atau Anda akan tenggelam diterjang tsunami online?

 

Zona nyaman adalah zonanya para orang tua *jaman yes* yang berpotensi melalaikan. Yes terday ….. Jadi kalau kita ndengerin pesennya anak2 jaman now, maka bagi orang yg jiwanya masih ayem tentrem hidup di zona nyaman, ya siap-siap aja hidupnya bakal ter-gagap2 menghadapi berbagai kekacauan akibat adanya perubahan zaman. Apa solusinya?

 

Siap mendobrak perilaku. Jangan merasa sok nyaman. Jangan membawa logika masa lalu ke dlm pijakan hari ini. Sdh tdk relevan. Jangan terbelenggu kebiasaan dan cara pandang kemarin utk solusi hari ini. Sudah ketinggalan. Ketika UIN atau Telkom University mau bikin Fak Kedokteran, atau Perhotelan, pasti banyak orang ngguyu. Padahal itu pemikiran yg bagus, out of the box, kreatif dan inovatif.

 

Saya rasa, salah satu kesulitan dari suatu organisasi yang dalam upaya meningkatkan kemampuan ekonomi anggotanya, karena mereka terjebak dan sulit utk keluar dari Zona Nyaman. Coba saja diajak bisnis, atau diajak melakukan hal2 baru, pasti merasa tidak punya pengalaman.

 

Diajak menjalankan  bisnis tradisional katanya berat dalam persaingan. Diajak menjalankan bisnis model baru katanya MLM. Inilah yang sering disebut, bahwa mereka ini termasuk orang2 bermental miskin dan tidak memiliki keberanian untuk memulai. Ada peluang  gratis mereka pikir jebakan.

 

Ditawarin investasi kecil mereka bilang hasilnya sedikit. Diajak investasi besar tidak punya uang.Diajak buka toko mengeluh tidak bebas. Diajak bisnis apa saja bilang tidak punya keahlian. Enakan hidup di Zona Nyaman. Mereka selalu menolak saat diajak kerjasama merintis usaha.

 

Sepanjang hidup mereka hanya menunggu, dan berharap masih ada kenaikan pensiunan (MP). Padahal seribu rencana akan terpatahkan oleh satu aksi nyata. Gitu loh mas. Mbuh bener mbuh ora, pokoknya ikuti dan amati aja pikiranya anak2 jaman now. (Muchtar AF; dari grup WA-VN)-FR

—–

 

Respon PBU : Nah, itulah kata kuncinya _”jadi pembelajar seumur hidup”_ dengan penuh gairah adalah sebuah _”kenyamanan”_ tersendiri. Karena hidup itu ibarat samudera dan yg telah Kita lalui hanyalah setetes air diujung jarum. Wallahua’lam. (Prasetya B. Utama)

 

Komen MAF : Wouw …pak Ade mantap. Betul pak Ade, seharusnya gunakan prinsip, _usaha sampingan sukses, pekerjaan utama pun beres._ usaha itu jangan hanya coba-coba, hasilnya tdk maksimal. Ditunggu komentar yg lain, terimakasih.

 

Tanggapan SSA : Pak MAF dan para sodara2, bicara isue zona nyaman pangsiunan memang benar, telah jadi jebakan untuk tidak berupaya. Cerita zaman baheula, ketika awal pangsiun, nggak sampai satu tahun menikmati eforia kebebasan, saya sudah mulai jenuh dan capai sekalipun dalam “kenyamanan”.

 

Saya butuh komunitas setidaknya dg orang yang sepaham. Karena kurang ilmu dan latihan dilapangan, serta kurang kawan, bisnispun tidak jalan bahkan sempat ketipu. Akhirnya saya memilih kegiatan yang setengah aman, paling tidak untuk ketemu kawan senasib sepenanggungan yakni organisasi pangsiunan.

 

Awalnya karena adanya isu ketidak adilan, inyong terangsang utk membela kawan2, tapi  mendapatkan keuntungan yg tak terduga yakni punya peluang bikin jaringan kerjasama. Kini ketika kondisi tak berdaya karena phisik, saya coba memelihara jaringan persahabatan dlm bentuk group minimalis yakni  WAG.  Ada vinus utk mengantar kawan seprofesi, ada tetangga, ada keluarga dsb nya.

 

Selain utk say hello,  minimal media ini bisa jadi peluang kawan2 membentuk jaringan kegiatan.

Saya mengalami  dicemooh orang, apa sih maunya, udah pangsiun keluyuran (yang bicara mantan Pejabat). Kadang, anak istri ikut2an kalau saya ber-lama2  pergi dg kawan, katanya : “wong yang kerja aja udah pada pulang, ini ngurus organisasi sampai petang, ngapain sih? ”

 

Terus terang terang terus, saya sdh kecanduan ber organisasi sebagai penyaluran semangat hidup masa pensiun. Kembali ke laptop, kesimpulan obrolan ini bahwa “zona aman” itu hanya bagi orang yg sdh tidak berdaya seperti saya sekarang. Tetapi bagi kawan2 lain, apalagi yg masih berpotensi, itu adalah jebakan menuju ketidak berdayaan.

 

Karenanya, saya berharap bagi mereka yg masih semangat, jangan  ada kata menyerah, manfaatkan peluang yg ada.  Bangkit dan bergabung dlm komunitas sesama pensiunan. Mau bidang sosial, bisnis atau yg lain, tapi tetap bergerak. Insya Allah dlm group kita ada figur2 yg mampu memberi motivasi ataupun inspirasi.  Betulkan p MAF ? (SSA)

 

Lagi dari Ade R : Alhamdulillah pak Narto, banyak kawan, banyak rejeki, yg saya alami selama ini berkecimpung  di beberapa organisasi hanya sbg wakil BP sangat berguna dan cukup nyaman, apalagi ditambah organisasi ke RW an dan DKM. Yang penting exsistensi kita diakui masyarakat, walau tdk mengharapkannya, itu harga mahal. (AR).

 

Dikirimkan oleh (Muchtar AF; dari grup WA-VN)-FR

Tulisan Lainnya :

Exit mobile version