P2Tel

Memahami Hadits-Hukum Bermaafan-Jelang Ramadan

Membahas sebuah tradisi yang banyak dilestarikan masyarakat, terutama di kalangan aktivis da’wah yang beramal tanpa didasari ilmu yang mumpuni, dapat menimbulkan pro dan kontra. Tradisi yang sedang populer di minggu ini adalah tradisi ber-maaf2an sebelum Ramadan melalui medsos.

 

Anehnya, hampir semua orang yang menuliskan hadits melalui medsos itu hanya meng-copas, tapi tidak ada yang menyebutkan periwayat haditsnya. Mereka yang melestarikan tradisi ini beralasan hadits (sebut saja hadits ini adalah hadits pertama)  yang terjemahannya sebagai berikut:

 

Ketika Rasullullah berkhutbah pada Shalat Jum’at (di bulan Sya’ban), beliau mengatakan Aamiin 3x, dan para sahabat begitu mendengar Rasul mengatakan Aamiin, terkejut dan spontan mereka ikut mengatakan Aamiin. Tapi para sahabat bingung, kenapa Rasul berkata Aamiin 3x.

 

Ketika selesai shalat Jum’at, para sahabat bertanya kepada Rasullullah, dan beliau menjelaskan: “ketika aku sedang berkhutbah, datanglah Malaikat Jibril dan berbisik, hai Rasullullah Aamiin-kan do’a ku ini,” jawab Rasullullah.”

 

Do’a Malaikat Jibril itu : Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, bila sebelum memasuki bulan Ramadan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut:

1) Tidak memohon maaf lebih dulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada);

2) Tidak bermaafan terlebih dahulu antara suami istri;

3) Tidak bermaafan lebih dulu dengan orang2 sekitarnya.

 

Ada yang janggal dari hadits yang katanya shahih dan diriwayatkan oleh Ibu Khuzaimah, Ahmad dan Al Baihaqi dari sahabat Abu Hurairah ra itu. Riwayat ini tidak terdapat di kitab2 hadits. Adapun hadits yang serupa dengan ini, terdapat pada kitab Shahih Ibnu Khuzaimah (3/192) juga pada kitab Musnad Imam Ahmad (2/246. 254), namun isinya berbeda:

 

“Dari Abu Hurairah; Rasulullah SAW naik mimbar lalu bersabda, ‘Aamiin … aamiin … aamiin.’ Para sahabat bertanya, ‘Kenapa engkau berkata demikian, wahai Rasul?’ Beliau bersabda, ‘Baru saja Jibril berkata padaku, ‘Allah melaknat hamba yang melewati Ramadan tanpa mendapat ampunan,’ maka kukatakan, ‘Aamiin.’

 

Jibril : ‘Allah melaknat hamba yang mengetahui kedua orang tuanya hidup, namun itu tidak membuatnya masuk Jannah (karena tidak berbakti kepada mereka),’ maka aku berkata, ‘Aamiin.’ Jibril berkata lagi, ‘Allah melaknat hamba yang tidak bersalawat ketika disebut namamu,’ maka kukatakan, ‘Aamiin.”” (Al-A’zhami berkata, “Sanad hadis ini jayyid.”)

 

Hadis ini dinilai sahih oleh Al-Mundziri dalam At-Targhib wa At-Tarhib, 2:114, 2:406, 2:407, dan 3:295; juga oleh Adz-Dzahabi dalam Al-Madzhab, 4:1682. Dinilai hasan oleh Al-Haitsami dalam Majma’ Az-Zawaid, 8:142; juga oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Al-Qaulul Badi‘, no. 212; juga oleh Al-Albani di Shahih At-Targhib, no. 1679.

 

Dari sini, jelas kedua hadits di atas, berbeda. Entah siapa orang iseng yang membuat hadits pertama, berinovasi membuat tradisi ber-maaf2an sebelum Ramadan, lalu sengaja menyelewengkan hadits kedua ini untuk mengesahkan tradisi itu.

 

Yang jelas, hadits yang tersebar luas di medos ini tidak ada asal-usulnya. Kita pun tidak tahu siapa yang mengatakan hal itu. Itu bukan hadits dan tidak perlu kita amalkan, namun yang diharuskan adalah memohon maaf ketika kita melakukan kesalahan sesegera mungkin.

 

Rasulul SAW bersabda, “Orang yang pernah menzdalimi saudaranya dalam hal apapun, maka hari ini ia wajib minta perbuatannya dihalalkan oleh saudaranya, sebelum datang hari ketika tidak ada dinar dan dirham. Karena jika orang itu memiliki amal shalih, amalnya dikurangi untuk melunasi kedzalimannya. Jika ia tidak memiliki amal shalih, maka ditambahkan kepadanya dosa2 dari orang yang ia dzalimi” (HR. Bukhari no.2449). (Muchtar AF; dari grup WA-VN)-FR

Tulisan Lainnya :

Exit mobile version