P2Tel

Raup Jutaan dari Bisnis Penyewaan Alat mendaki Gunung

(finance.detik.com)-Jakareta; Mendaki, melintas bukit. Berjalan letih menahan berat beban’ Berikut sepenggal bait lirik Mahameru milik band Dewa 19. Buat ‘anung’ anak gunung, rasanya itu jadi playlist wajib saat mendaki.

Mendaki gunung jadi hits dengan banyaknya jalur pendakian yang dibuka. Selain menenangkan pikiran, kini banyak orang yang mendaki untuk memenuhi album foto di Instagram. Buat pendaki serius, butuh peralatan2 : Tas carrier, sepatu, tenda, trekking pole, kompor, matras, sleeping bag hingga flysheet.

 

Harga alat2 ini juga serius, nggak main2 anda bisa merogoh kocek jutaan rupiah jika beli alat berkualitas baik dan lengkap. Tapi jika bisa sewa kenapa harus beli?

 

Menurut Dwi Widyastuti atau Wiwit pemilik rental Avaya Outdoor, dia mendirikan penyewaan ini hari Selasa 22/4/2014 berdasarkan kecintaanya mendaki gunung. Namun ia tak punya perlengkapan dan tak membeli karena harga yang mahal. Jadi ia pinjam kepada teman2nya.

Wiwit pernah ketika musim mendaki, alat sang teman dipinjam teman lain. Wiwit pergi ke penyewaan tapi ia tak berhasil mendapat alat yang dibutuhkan. Alhasil ia batal mendaki karena tak ada alatnya.

“Saya pikir kasihan kalau ada yang senasib sama saya. Mau naik gunung nggak punya alat. Saya diskusi sama suami (waktu itu pacar) bikin rental outdoor, dia yang sehobi setuju. Jadi cuma mau bantu teman sehobi, kalau jadi untung itu bonus” kata Wiwit ke detikFinance, (28/4/18).

 

Akhirnya Wiwit membuka Avaya Outdoor bermodal awal Rp 2 juta. Saat itu ia beli tenda berkapasitas 4 orang, carrier, matras, kompor, nesting, sleeping bag, headlamp dsb. Wiwit juga memanfaatkan peralatan yang ia dan suaminya miliki seperti tenda, sleeping bag dan carrier. Kala itu, stok barang sewaan tersedia 1-2 saja. Penambahan dilakukan bertahap sampai lebih banyak.

Untuk beli barang, Wiwit cari harga yang pas, online atau offline. Misal untuk carrier dia beli dari teman reseller supaya dapat diskon, juga tenda, matras dan nesting hingga sleeping bag ia cari harga jual terbaik. Yang namanya usaha ada saja kendalanya. Seperti perawatan dan perbaikan. Ada yang mengembalikan alat dalam keadaan rusak.

 

Misal tenda framenya patah, carrier buckle nya patah atau hilang hingga jahitan lepas, coverbag sobek, sepatu outsole nya lepas hingga kompor mampet. Ibu dari Keisara ini menjelaskan, musim sewa yang ramai pada April-Desember. Terutama tanggal merah atau longweekend. Musim sepi Januari-Maret karena masuk musim hujan banyak gunung ditutup.

Saat musim pendakian ditutup. Avaya Outdoor mengikuti. “Selain bahaya naik gunung di musim
hujan, saya ingin berpartisipasi untuk pemulihan ekosistem gunung. Caranya ya saya tidak memfasilitasi orang naik gunung saat gunungnya butuh rehat. Berbisnis tapi tetep idealis,” ujar dia.

Untuk menjamin alatnya tidak dibawa kabur oleh peminjam. Wiwit memiliki cara yakni penyewa wajib mengisi formulir booking lengkap dan minta jaminan kartu identitas yg memiliki ‘value’.

“Sebagai informasi, saya gak menerima jaminan berupa kartu asuransi/BPJS, NPWP, kartu mahasiswa atau kartu pelajar. Karena gak ada ‘value’nya. Kalau kartu itu gak diambil mudah bikin lagi. Itu yg bikin kewajiban buat balikin barang lemah. Peraturan soal ini saya infokan sejak booking ke calon penyewa”.

Dari penyewaan ini omzet perbulan rata2 Rp 5 juta-Rp 8 juta. Omzet ini tergantung dari ramai atau tidaknya seperti longweekend dan musim mendaki. Wiwit mengiklankan rental di forum outdoor seperti Kaskus dan FB. Avaya Outdoor juga punya blog. Untuk menarik penyewa, Wiwit juga memberi harga promo untuk penyewa yang baru pertama kali. Potongan harga untuk yang menyewanya lama.

Karena usahanya ini teman2 jadi terinspirasi ikut membuat rental alat. Jadi kalau ada penyewa yang lokasinya jauh dari Avaya Outdoor Wiwit arahkam ke rental teman yang dekat dengan si penyewa. Selain Wiwit, ada Jariyanto pemilik Wastu Outdoor juga membangun penyewaan ini karena alat yang mahal, padahal saat itu dia pendatang baru di dunia pendakian.

“Mau beli mahal banget waktu itu karena masih newbie. Agak sayang kalo langsung beli ini itu. Dari situ mulai kepikiran buat bikin usaha jasa sewaan. Alhamdulillah, responnya positif” kata dia ke detikFinance. Jari menjelaskan, modal awal untuk Wastu Outdoor ini ia juga pinjam teman yang membuka lebih dulu. Kemudian setelah itu untungnya dibuat belanja barang lagi dalam jumlah yang lebih banyak.

Nama Wastu terinspirasi saat Jari kuliah arsitektur. Dia jelaskan Wastu berasal dari bahasa Sansekerta artinya harta benda. “Ya sudah, karena alat gunung punya gue itu harta makanya namanya Wastu Outdoor” Jelas dia.  Ada saja kendala yang dihadapi di usaha persewaan ini. Misal penyewa  pendaki baru dan minta dijelaskan panjang lebar cara pemakaian dan perawatan barang.

 

Selain itu pria yang berprofesi arsitek ini sering deg2an barangnya dibawa kabur penyewa. Akhirnya ia berpikiran positif. “Pernah ada seperti itu, tapi akhirnya dibalikin sama penyewanya. Bukan dibawa kabur sih ya, Cuma karena ga sempet balikin aja dan kontak nya nggak bisa dihubungi,” jelas dia.

Omzet perbulan dari penyewaan ini jika ramai bisa Rp 5 juta / bulan. Untuk mendorong pertumbuhan bisnis, Jari rutin berinteraksi di forum pendakian, mengadakan opentrip dan beriklan di marketplace. Bagi anda yang ingin menyewa biasanya harus meninggalkan id card asli seperti (KTP, SIM, KTM, kartu karyawan atau paspor, dll). Minimal sewa 2 hari dan tidak ada jangka waktu maksimal

 

Avaya Outdoor
Harga sewa di : https://avaya-outdoor.blogspot.co.id/2015/08/rental-alat-outdoor-hiking-camping.html?m=1; dan Blog : https://avaya-outdoor.blogspot.co.id
Wastu Outdoor
Wastu Outdoor di kawasan Harapan Indah Bekasi. Klik saja https://wastu-outdoor.blogspot.co.id di sana berisi tips pendakian hingga daftar harga alat yang disewakan. (hns/hns; Sylke Febrina Laucereno;  Bahan dari :  https://finance.detik.com/solusiukm/d-3995862/raup-omzet-jutaan-dari-bisnis-penyewaan-alat-mendaki-gunung)-FatchurR

Tulisan Lainnya :

Exit mobile version