P2Tel

Main Gawai picu Rabun

(m.mediaindonesia.com)-TANGIS Fikri pecah saat sang ibu, Risa(36), membujuknya berhenti menonton video di Ipad. Anak TK itu berusaha merebut tablet itu dari tangan ibunya. “Sekali lagi Mama, aku mau nonton 1x lagi. Habis itu udahan, janji, Mama aku mau nonton” katanya berurai air mata.

 

Dengan sabar Risa menggendongnya, berusaha menenangkan dan membujuknya. “Kita main gambar-gambaran saja yuk, kemarin gambar jerapahnya belum selesai diwarnai,” bujuk Risa. Setelah mengerahkan berbagai ‘jurus’, Fikri akhirnya berhenti menangis. Tak selang berapa lama, ia asyik dengan permainan menyusun balok.

 

Fikri tengah dalam program berhenti dari kegemaran nonton gawai. Ia terlambat membatasi Fikri dari gawai. “Awalnya, minggu lalu dia dibawa ke dokter mata. Matanya enggak beres, dia sering kedip2 dan kucek2 mata. Anaknya nggak mengeluh, tapi saya lihat ada yang nggak nyaman. Kata dokter, dia terkena gangguan mata karena terlalu banyak nonton Ipad,” tuturnya  yang kerja di perusahaan kargo itu.

 

Dirinya membebaskan Fikri menonton video dan main gim di gawai sesuka hatinya. “Pikir saya waktu itu, biar anaknya anteng. Eh, lama2 makin enggak bisa dikontrol. Sepanjang waktu, kalau enggak tidur dan sekolah, maunya pegang Ipad. Kalau enggak diikuti, rewelnya minta ampun sampai ngamuk2.”

 

Kini, setelah diingatkan dokter mata, Risa bertekad membebaskan anaknya dari ‘candu’ gawai. “Saya sampai ambil cuti seminggu nih. Harapannya, setelah seminggu saya dampingi, dia bisa berangsur lepas dari gadget. Repot sedikit tak jadi soal, yang penting mata anak saya bisa sehat”.

 

Penggunaan gawai pada anak tak terhindarkan. Namun, orangtua wajib mengawasi dan membatasi penggunaannya. Salah2, anak terkena gangguan mata jika penggunaan gawai tak terkontrol.

 

Menurut dokter spesialis mata RS Mata Aini Jakarta, Prima Retnosuri, penggunaan gawai pada anak bisa menyebabkan gangguan dan kelainan. Gangguan itu : Kelelahan mata dan mata kering. Yang berdampak jangka panjang, yakni kelainan refraksi seperti miopia (rabun jauh).

 

“Terlalu lama lihat layar gawai bisa mengganggu refraksi mata. Yang paling serius bisa  mata minus (miopia)” jelasnya di seminar Pengaruh Gadget pada Kesehatan Anak digelar di RS Aini Jakarta (28/7).

 

Batasan
Karena itu, pembatasan penggunaan gawai pada anak penting agar bisa terhindar dari gangguan mata. Sesuai standar Akademi Pediatri AS (AAP) yang jamak diacu, lanjut dr Prima, anak2 usia 0-2 tahun tak boleh terpapar layar digital baik itu gawai, televisi, dan komputer.

 

“Batasan melihat layar ponsel pintar, televisi, dan tablet, untuk usia 0-2 tahun itu tidak boleh sama sekali. Semua dokter meyarankan begitu. Untuk usia 3-5 tahun, batasannya satu jam sehari. Untuk umur 6-8 tahun ialah 2 jam dan usia 8-13 tahun sebanyak 3 jam,” ungkapnya.

 

Gejala gangguan ini bisa diamati. Anak umumnya mengeluhkan mata perih seperti berpasir. Gejala lain, bisa diamati ketika anak kerap meng-usap2 mata dan matanya berkedip terlalu banyak. Normalnya, anak berkedip 15-20x dalam 1 menit.

“Biasanya di bawah usia 4 tahun anak belum bisa bilang sakit. Dari gejala, jika anak ber-kedip2 dan mengucek mata, itu sudah mulai harus dicurigai mengalami gangguan atau bisa jadi karena alergi. Harus diperiksakan ke dokter,” ucapnya.

 

Anak yang mengalami gejala2 itu, harus segera diperiksakan ke dokter spesialis mata. “Anak umur 2-3 tahun seharusnya fiksasi ke objek tapi kalau belum bisa melihat fokus, itu bisa jadi ada kelainan pada mata dan harus segera diperiksakan. Deteksi harus sedini-dininya,” pungkasnya.

Dia sarankan agar orangtua mengawasi anak saat bermain gawai agar tak terlalu dekat layar gawai. Jarak minimalnya ialah 30 sentimeter (cm) untuk ponsel pintar dan tablet serta 50 cm untuk televisi.

 

Terlambat bicara
Terpisah, Menkes Nila Moeloek mengingatkan para ortu selalu mendampingi anak dalam masa tumbuh kembangnya dan mencurahkan kasih sayang. Nila minta orangtua2 menstimulasi kemampuan anak dengan hal2 sederhana. “Seperti menyapa, bercerita, mengajak jalan2, atau menonton acara anak di TV bersama” kata dia.

 

Khusus soal gawai dan nonton TV dia menekankan agar anak tidak dibiarkan asyik sendiri. “Membiarkan anak terlalu lama nonton TV atau main gawai sendirian bisa menyebabkan keterlambatan bicara sebab ketika asyik dengan gawai, anak hanya diam tidak ada interaksi”. (H-2; Dhika Kusuma Winata; Bahan dari : http:// http://m.mediaindonesia.com/read/detail/175474-main-gawai-picu-rabun /read/detail/175474-main-gawai-picu-rabun)-FatchurR

Tulisan Lainnya :

Exit mobile version