P2Tel

Doeloe disepelekan-kini Fesyen berbahan Goni lagi tren

(medan.tribunnews.com)-Selama ini kain goni dipakai sebagai bahan kemasan, khususnya produk pertanian. Kini fungsi goni kian luas. Belakangan, material ini jadi bahan produk Fesyen seperti tas, dompet, sandal hingga pakaian.

 

Dengan model kian beragam dan unik, produk Fesyen ini memikat penggemar Fesyen. Produk Fesyen dari kain goni juga diburu penyuka Fesyen dari luar negeri. M.Fariz Adisukmawan, Manager Operasional Rumah Karung Goni asal Bandung, mengamininya. “Pasar mulai aware dan muncul ketertarikannya. Konsumen banyak yang pakai produk Fesyen dan itu pertanda baik” jelasnya, kontan.co. (4/8/18).

 

Rumah Karung Goni menyulap kain goni jadi dompet, tas punggung, tas selempang, sandal, dompet kecil hingga sepatu cantik. Mereka jual dari Rp 135.000 sd Rp 275.000 per unit. Dalam sebulan, rata2 total produksinya 200 unit. Terbatasnya jumlah produksi ini lantaran proses pembuatannya konvensional.

 

Fariz bekerjasama dengan penjahit2 untuk membuat barang2 koleksinya. Butuh Keahlian dan ketelitian membuat produk yang berkualitas dengan banyak detil yang rapi. Selain jual produk siap pakai, mereka menerima pesanaan disain khusus. Proses pengerjaannya cepat, sekitar 10 hari untuk jumlah pesanan hingga 100 unit dengan model sama.

 

Di Yogya, produk Fesyen dari kain goni lebih populer. Banyak konsumennya berasal dari pecinta Fesyen kelas atas. Bimo Wijoseno, pemilik Guna Goni asal Yogya mengatakan, pasar mulai menyukai produk2  unik dan nyentrik. “Produk kain goni masih bisa terus berkembang,” tegasnya.

 

Guna Goni tak kesulitan memasarkan produknya. Cukup dengan edukasi sederhana seperti pengenalan via website dan penjelasan label, produknya laku terjual. Laki2 (44) ini memanfaatkan medsos sebagai tempat berjualan. Selain itu, dia juga menjalin kerjasama dengan galeri produk fashion dan oleh2.

 

Hampir sama jugaa, produk Fesyen goni buatannya berbentuk sampul buku, tas, topi, dompet, dan sandal. Bimo mematok harga dari Rp 50.000 sd Rp 250.000 per unit. Selain memenuhi konsumen lokal, dia mengirim produknya ke China dan Belanda.

 

Menggunakan kain goni bekas dengan proses produksi sederhana, dia tak dapat mematok jumlah produksi saban bulan. “Bisa jadi pesanan 12 unit juga tidak bisa dibuat kalau sama sekali tidak ada pasokan kain goninya,” tambahnya.

 

Pemain baru bermunculan

Makin populernya produk Fesyen karung goni, menarik desainer2 sekaligus pencinta Fesyen dunia. Seperti Madaew, desainer muda Thailand, yang jadi buah bibir pemerhati Fesyen dunia melalui koleksi Fesyen dari goni yang dibuatnya. Fenomena ini menginspirasi desainer2 lokal. Kian banyak bermunculan produk dari material ini, dan beragam jenis produk Fesyen. Dampaknya, persaingan terasa.

 

Bimo, desainer dan pemilik Guna Goni mengamini hal itu. Namun, dia tidak mau ambil pusing dengan banyaknya pemain. Bimo tak pernah pasang target penjualan per bulan. Dia tak dapat memastikan jumlah produksi saban bulannya. “Sebab, tiap proses produksi butuh mood dan rasa untuk membuat tiap barangnya hingga terlihat karakter dan jiwa saya didalamnya” katanya pada KONTAN, (28/7).

 

Meski tidak berpengalaman di dunia Fesyen, laki2 ini belajar otodidak cara menjahit sampai membuat pola. Sampai sekarang dia dibantu oleh anak dan istrinya dalam proses produksi.

 

Hal sama diungkap M. Fariz, Manager Operasional Rumah Karung Goni asal Bandung. Ia tak merasa ada persaingan meski banyak produsen di kota2 besar. Pasar dalam negeri masih potensial dan usahanya masih bisa terus berkembang seiring makin teredukasinya pasar akan produk Fesyen unik ini.

 

Kendala usaha yang dihadapinya ada pada tahap produksi. ” Bahan goni itu dilipat tidak digulung jadi kami harus meluruskan dan menghilangkan lipatan itu agar tak merusak desain produk” jelasnya.

 

Selain itu, proses jahit perluh waktu lama karena dibutuhkan kejelian saat memotong pola, karena goni cenderung tidak lurus serta tingkat jahitan yang lebih rapat agar tidak terurai. Fariz bilang. mereka banyak mendapat inspirasi desain produk dari desain yang dibuat oleh pelanggan. Agar nampak berbeda, mereka melakukan modifikasi desain.

Maklum, selain memproduksi ready to wear, Rumah Karung Goni menerima pesanan custom. Para pelanggan membawa contoh desain yang diinginkannya. Jadi pemain yang baru eksis sejak 2017, membuat dia dan tim fokus membranding. Media digital digunakan membentuk awareness merek.

 

Fariz juga giat menambah jumlah produksi dan pengembangan produk dengan menjajal membuat baju dari material goni. Tujuannya, melengkapi koleksi produk dan dapat ikut di ajang pameran.

 

(Artikel ini sudah tayang di kontan.co.id berjudul: Menjahit untung dari produk fesyen berbahan kain goni  dan juga tayang di tribun-medan.com; dengan judul Dulu Disepelekan, Fesyen Berbahan Karung Goni Lagi Tren, Ini Cerita Pengusahanya, Editor: Tariden Turnip; Bahan dari : http://medan.tribunnews.com/2018/08/04/dulu-disepelakan-kini-fesyen-berbahan-karung-goni-lagi-tren-ini-cerita)-FatchurR *

Tulisan Lainnya :

Exit mobile version