P2Tel

Rahasia Tertibnya Orang Jepang naik Kereta(1/2)

(properti.kompas.com)-TOKYO; Semrawut, itu gambaran se-hari2 stasiun2 besar di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) pada jam2 sibuk pagi dan sore hari. Di Stasiun2 : Bogor, Tebet, atau Bekasi, misalnya,

 

Pagi hari pengguna commuter line mengular tak beraturan saat hendak memasuki kereta. Tak jarang mereka saling ber-desak2an agar dapat masuk ke kereta. Pemandangan serupa bisa didapati di Stasiun Tanah Abang, penumpang yang ingin turun dari kereta yang berasal dari relasi Maja, Serpong, dan Parung Panjang, terhambat penumpang yang ingin masuk kereta.

 

Meski dipisahkan jalur kedatangan dan keberangkatan, namun karena kondisi tangga yang sempit membuat keberadaan pemisah itu seakan tak berfungsi. Sistem manajemen stasiun yang baik diperlukan agar masyarakat dapat leluasa dan nyaman saat naik dan turun dari kereta. Juga saat mereka bergerak di area stasiun.

 

 

 

Di Jepang,

Pengguna kereta diatur sedemikian rupa. Meski pergerakan manusia cepat, hal itu tidak membuat pemandangan semrawut. Keteraturan itu dapat dilihat di Stasiun Subway Yokohama. Pada bagian peron, pengelola stasiun membuat garis2 yang jadi tanda calon penumpang kereta harus menunggu sesuai garis itu.

 

Keberadaan garis itu membantu mengatur pergerakkan penumpang, terutama saat turun dari kereta. Mereka tak perlu ber-desak2an karena penumpang yang hendak naik berbaris rapi ikut pola garis yang ada. Di sisi lain, petugas simultan mengingatkan penumpang melalui pengeras suara agar mengikuti garis tunggu yang disediakan.

 

Aturan di Semua Stasiun

Aturan naik kereta ini tak hanya di subway, tapi semua stasiun kereta di Jepang. Di stasiun manapun terlihat garis2 pengarah pergerakkan orang. “Dan aturan ini harus dipatuhi terutama saat jam2 sibuk agar tidak terjadi tabrakkan,” tutur Deputi Direktur Management Station Office Yokohama Municipal Subway, Nakano di kantornya (30/11/2018).

 

Di samping garis pengatur, terdapat guidance block yang memudahkan penyandang disabilitas saat hendak turun dan naik kereta. Jalur khusus itu berada di depan garis pengatur, guna memberikan prioritas kepada penyandang disabilitas saat hendak mengakses kereta.

Tak hanya di area stasiun, ketika di dalam kereta ada aturan2 yang harus diikuti. Misalnya, tidak boleh makan dan minum saat kondisi kereta penuh, dilarang duduk di kursi prioritas bagi disabilitas, orang tua, dan ibu hamil, larangan mendengarkan musik dengan volume tinggi, hingga berdiri di depan pintu.

 

General Affair Asosiasi Operator Railway Swasta Jepang Ochi Masahiro menambahkan, untuk mencegah tindakan asusila pada wanita, disediakan satu gerbong khusus wanita pada jam sibuk. Juga terdapat gerbong khusus yang menyediakan ruang bagi wanita yang bepergian bersama anak2nya dengan membawa kereta bayi atau strooler.

 

“Di Jepang, angka kelahiran anak menurun dan angka manula meningkat. Sebab itu, antisipasi terhadap penurunan angka kelahiran itu dengan menciptakan lingkungan yang memudahkan bagi pengasuhan anak,” kata Ochi. Bagi mereka yang hendak meninggalkan area peron menuju concourse, ada pembagian jalur yang jelas.

 

Mereka yang ingin turun ke peron bisa pakai anak tangga.Bagi yang hendak ke concourse dapat pakai eskalator atau anak tangga. Penggunaannya tidak sembarangan. Bagi yang ingin berjalan santai, harus menggunakan sisi kiri. Sisi sebelah kanan ditujukan bagi penumpang yang ingin bergerak lebih cepat.

(Artikel ini telah tayang di Kompas.com; dengan judul “Rahasia Tertibnya Orang Jepang Naik Kereta…”, Penulis : Dani Prabowo; Editor : Hilda B Alexander; Bahan dari : https://properti.kompas.com/read/2018/12/04/103742921/rahasia-tertibnya-orang-jepang-naik-kereta)-FatchurR * Bersambung………..

Tulisan Lainnya :

Exit mobile version