P2Tel

Seri OR dan Senam-Bandung Selatan Bersepeda dan Sejarahnya

Sesuai dengan rencana, maka untuk pertama kalinya Komunitas sepeda P2Tel Bandung Selatan memulai kembali menggowes sepedanya. Grup ini berkumpul di Marcab (Markas Cabang) Bandung Selatan di STO Tegalega Jl. Moh. Toha

 

Sebelum berangkat sarapan dulu, karena ada yang menyumbang roti telur daging dan ada yang bawa leupeut. Setelah berdo’a mohon keselamatan, Jam 08.30 rombongan bergerak dan sampai di Soreang jam 11.30. Disoreang makan bersama di rumah makan.

 

Yang berinisial DD sesampai di Bojong Soang kembali pulang (tdk kuat).  Dia tahu diri dengan mengukur kemampuannya. Kami sampai dirumah rata2 pukul.15.10; Kata tetangga saya “Tak kenal maka tak saying. Untuk itu sayaa cuplikkan sejarah sepeda ini.

 

(malangtimes.com)-Sepeda punyasejarah panjang. Mulai dari bentuk sederhana, beroda-3 hingga sepeda modern berbagai tipe dan variasi. Semua itu tak lepas dari kreativitas dan inovasi oleh para ahli dari bidang2 yang saling melengkapi.

 

Sepeda pertama ditemukan Baron Karl Drais von Sauerbronn atau lebih sering dikenal Karl Drais -lahir pada tanggal 29/4/1785 di Karlsruhe, Jerman. Ia berprofesi sebagai kepala pengawas hutan. Untuk menunjang tugasnya, ia butuh alat transportasi dengan mobilitas tinggi.

 

Karl Drais berinovasi menciptakan alat transportasi. Akhirnya ia berhasil membuat terobosan penting bagi teknologi sepeda modern seperti sekarang. Bentuk awal sepedanya masa itu sepeda beroda tiga tanpa pedal.

 

Dikutip dari informasitips.com, Karls Drais melakukan perjalanan pertama (12/6/1817), dari Mannheim ke Schwetzinger Relaishaus. Perjalanan kedua dari Gernsbach ke Baden juga pada tahun yang sama. Dengan kendaraannya itu, Karl Drais dilaporkan mampu melaju lebih cepat.

 

Perjalanan perdananya diliput dan dimuat di koran lokal Jerman tahun 1817. Karl Drais memberi nama sepeda ciptaannya ini dengan Draisienne. Popularitas Draisienne tidak lama. Sebab, setelah itu bermunculan jenis sepeda baru dengan keunggulan masing2.

 

Berkat ide dan kreativitasnya ini, Karls Drais dianugerahi gelar duke (12/1/1818). Grand Duke Karl Drais juga ditunjuk sebagai profesor mekanika. Ini gelar kehormatan yang tak ada kaitan universitas atau lembaga lain. Ketika pensiun dari layanan sipil, Karl Drais tetap menerima gaji sebagai bentuk imbalan sebagai penemu sepeda.

 

Di Indonesia, sepeda dikenalkan di masa kolonial. Orang Belanda membawa sepeda dari Eropa untuk transportasi. Tidak seperti sekarang, dulu rakyat gak bisa menikmati alat transportasi itu. Hanya penguasa dan bangsawan yangboleh naik sepeda. Sepeda, yang umumnya buatan Eropa, itu alat transportasi mewah.

 

Tahun 1960-an, seiring teknologi transportasi, sepeda kendaraan kelas atas perlahan tergeser oleh popularitas motor dan mobil. Sepeda buatan 1930-an sampai 1950-an jadi barang lama yang mudah ditinggalkan, walau ada yang mulai mengoleksi sepeda di era ini.

 

Dilansir dari bernas.id, sepeda kuno buatan Inggris : Humber Cross (1901), Raleigh (1939), Phillips (1956), Hercules (1922). Sepeda buatan Belanda : Batavus (1920), Gazelle (1925), Valuas (1940), Master (1950), dll. Sepeda2 Belanda (Dutch Bike) dijuluki sepeda onthel atau sepeda unta. Kini pada abad ke-21, ada koleksi sepeda awal abad ke-20 merek Veeno yang dicari pecinta sepeda.

 

Selain onthel, kita kenal sepeda jengki. Istilah “jengki” asal kata “yankee”. Sebutan orang AS. Istilah ini muncul ketika orang Amerika tahun 1960-an menginvasi Indocina. Waktu itu, orang AS dan produk2nya membawakan ciri fisik, perilaku, pemikiran, dan tampilan baru pada orang Asia.

 

Presiden Soekarno sempat melarang segala produk Barat. Akibatnya, sepeda Belanda dan Eropa Barat sempat tak dapat masuk Indonesia sehingga pasar sepeda diramaikan sepeda buatan Tiongkok berbentuk dan proporsi baru seperti merek Butterfly dan Phoenix.

 

Rangka sepeda China lebih ringan dan lebih kecil sehingga lebih mudah dikendarai orang Indonesia. Sepeda keluaran baru itu disebut sepeda jengki. Dari situ sepeda jengki populer terkait sepeda antik di samping sebutan lain seperti sepeda kumbang dan sepeda sundung.

 

Di Indonesia telah lama mengenal sepeda balap. Sebelum Perang Dunia II ada pebalap2 profesional Indonesia yang dibiayai perusahaan2 : Mansonia, Triumph, dan Hima. Balap sepeda awalnya di Semarang. Di kota itu didirikan velodrome oleh arsitek Ooiman serta Van Leeuwen. Kegiatan ini terhenti pada masa Jepang. Setelah proklamasi, balap sepeda dilakukan lagi.

 

Pada PON ke-2 (1951), balap sepeda jadi Cabor yang dilombakan. Daerah2 membentuk perkumpulan balap sepeda, dan berdirilah Ikatan Sport Sepeda Indonesia (ISSI) pada (20/5/1956) di Semarang. Mulai 1980-an, popularitas sepeda didominasi sepeda modern misal sepeda gunung (mountain bike), sepeda perkotaan (commuting bike), sepeda anak dan sepeda lipat (folding bike).

 

Dari jenis2 sepeda modern, sepeda gunung paling diminati. Sepeda yang dikenalkan tahun 1977 oleh Joe Breeze, Gary Fisher  dan timnya itu banyak digemari masyarakat perkotaan. Kini di era milenial, modelnya kian berkembang. Ada sepeda MTB (sepeda gunung) n sepeda lipat. Selain itu sepeda BMX mulai diminati anak muda Indonesia.

 

Ini karena sepeda BMX dapat digunakan untuk atraksi ekstrem yang menantang adrenalin. (Aunur Rofiq;  Bahan dari : https://www.malangtimes.com/baca/32264/20181017/134600/sejarah-penemuan-sepeda-dan-perkembangannya-di-indonesia)-FatchurR

*** Catatan : Bertalian dengan sumbangan sarapan dan makan siang bersama, diingatkan bahwa di Usia Lansia ini, kita perlu hati2 memilih asupan makanan, sedemikian sehingga menjaga agar Gizi seimbang tetap harus dipertimbangkan.

*** Foto dan bahan event, kirimaan H. Djuhana. (FR)

Tulisan Lainnya :

Exit mobile version