P2Tel

Indikator Untuk Menilai Intensitas Aktivitas Fisik

Dalam berolahraga seringkali kita selalu menentukan indikator beraktivitas fisik dengan berkeringat. Padahal keringat bukan indikator untuk mengukur intensitas dalam beraktivitas fisik. Keringat sangat bergantung pada suhu dan metabolisme seseorang yang tentunya berbeda tiap orangnya.

 

Lantas apa yang menjadi indikator dalam menilai aktivitas fisik? Santosa Giriwiyono selaku narasumber di Preventif Centre Area III menerangkan bahwa Denyut nadi merupakan indikator untuk menilai intensitas olahraga kerja yang sedang dilakukan.

 

Pada suatu orang,  terdapat hubungan yang linier antara intensitas aktivitas fisik dengan denyut nadi, artinya : peningkatan intensitas kerja atau olahraga akan diikuti dengan peningkatan denyut nadi yang sesuai.sedangkan pada dua orang yang berbeda, tinggi frekuensi denyut nadi yang dicapai untuk beban kerja yang sama ditentukan oleh tingkat kebugaran jasmaninya masing-masing.

 

Artinya beban kerja sama akan memberikan intensitas yang relatif berbeda, tergantung pada tingkat kebugaran jasmaninya. Semakin tinggi tingkat kebugaran jasmaninya maka semakin rendah denyut nadi kerjanya.

 

Oleh karena pada orang bugar, beban kerja yang sama akan memberikan intensitas kerja yang relatif lebih rendah (ringan) dan karena itu peningkatan denyut nadinya juga lebih rendah. Adapun untuk menghitung denyut nadi maksimal adalah sebagai berikut :

 

DNM = 220 – Usia

 

 

 

Sedangkan untuk denyut nadi submaksimal yang adekuat (DNSA) Untuk olahraga kesehatan dihitung berdasarkan rumus (Cooper, 1994) :

DNSA= 65 – 80 % (220 – Usia)

 

Misalkan usia si A itu 45 tahun, maka dapat di hitung denyut nadi maksimalnya 220 – 45 = 175. Maka denyut nadi 100% nya adalah 175. Sedangkan untuk mengukur denyut nadi submaksimal sesuai zona latihan 65 – 80 % adalah 65% x 175 = 114 dan 80% x 175 = 140. Maka di dapat zona latihan kesehatan 65 – 80% nya adalah 114 – 140.

 

Pemantauan denyut nadi setiap kali dilakukan segera setelah selesai melakukan olahraga kesehatan dalam batas waktu 10 detik dan selalu harus dilakukan untuk mengetahui berapa nilai denyut nadi yang dicapainya agar intensitas olahraga kesehatan dapat terpantau.

 

Menghitung denyut nadi latihan selama melakukan aktivitas fisik olahraga sulit dilakukan, oleh karena itu denyut nadi latihan dihitung segera setelah orang menghentikan olahraganya. Namun waktu yang tersedia hanya 10 detik. Lebih dari waktu itu, nadi latihan sudah menurun sehingga bila terlambat menghitung denyut nadi maka nadi yang diperoleh tidak mencerminkan nadi latihan yang sebenarnya.

 

Akibat hal itu, maka penilaian terhadap intensitas olahraga kesehatan yang dilakukan menjadi keliru. Yaitu menjadi lebih rendah dari yang seharusnya, sehingga menyebabkan intensitas itu menjadi berat baginya. (Ghalib; VIP Fitness Area-3; https://yakestelkom.or.id/artikel/print/indikator-untuk-menilai.849.html)-FR

Tulisan Lainnya :

Exit mobile version