Islam

Berpuasa di Brisbane

BAGI orang yang pertama kali bersekolah dan hidup di negara lain dengan mayoritas penduduk yang nonmuslim, menjalani ibadah puasa sesuatu yang berat dan punya tantangan lebih. Selain khawatir bakal merasa kesepian karena jauh dari keluarga, seorang mahasiswa atau keluarga muslim dihadapkan kepada persoalan menghadapi lingkungan pertemanan yang tidak berpuasa.

Bahkan, tak jarang harus menghadapi waktu ibadah puasa lebih dari 16 jam karena tinggal di negara yang sedang mengalami musim panas. Namun, itu tidak dialami mahasiswa ataupun masyarakat Indonesia yang tinggal di Brisbane, Australia. Pada Ramadan tahun ini, masyarakat muslim di kota terbesar ketiga di Australia itu menjalani puasa sekitar 12 jam karena sedang musim dingin.

Bahkan, untuk beberapa hal, menjalani ibadah puasa di Brisbane tak ubahnya seperti menjalani puasa di Tanah Air. Suasana berpuasa setidaknya sudah terjadi sepekan sebelum Ramadan. Ketika berbelanja di Woolworths Supermarket, di Indooroopilly Shopping Center, pengunjung bisa melihat satu keranjang besar bertuliskan ‘Selamat datang Ramadan’.

Di dalam keranjang itu, ada sejumlah penganan yang biasa kita dapati selama Ramadan, seperti kurma, biskuit, dan kebutuhan lain. “Wah tampaknya puasa yang kita jalani bakal tidak sesulit yang diperkirakan nih,” kata Indra, mahasiswa doktoral yang tengah berkuliah di The University of Queensland, beberapa waktu lalu.

Kondisi yang tidak jauh berbeda juga dijumpai di Kampus UQ, di kawasan St Lucia, Brisbane. Saat memasuki kelas seminar, di papan tulis terpampang tulisan berbahasa Inggris yang artinya kurang lebih ‘Selamat Menjalankan Ibadah Puasa.’ Walaupun suasana di halaman kampus atau kantin tidak ubahnya seperti hari biasa, setidaknya ucapan itu membuktikan toleransi beragama di kampus dan Kota Brisbane terhadap mahasiswa serta penduduk muslim cukup tinggi.

Buka puasa bersama
Ramadan juga identik dengan suasana kekeluargaan antarwarga negara Indonesia dan penduduk muslim di sana. Hampir setiap hari ada acara buka puasa bersama. Bagi yang kangen dengan masakan Indonesia, tentu pilihan yang paling mungkin ialah mendatangi rumah atau acara buka puasa yang diadakan komunitas Indonesia.

Sebut saja acara buka puasa yang diadakan Indonesia Islamic Society of Brisbane (IISB) yang menghidangkan menu nasi rawon dan soto betawi serta hidangan khas Indonesia lainnya. Semua masakan tersebut, kecuali buah-buahan dan minuman, dimasak secara kolektif oleh warga dan mahasiswa Indonesia.

“Lumayan bisa makan masakan Indonesia gratis. Maklum anak kos,” kata Wisnu, mahasiswa doktoral yang tengah berkuliah di Queensland University of Technology (QUT). Tahun ini juga acara buka puasa bersama yang didahului dengan pengajian dan ditutup dengan salat tarawih diadakan di rumah dinas General Manager PT Garuda Indonesia Tbk cabang Brisbane, Aryo Wijoseno.

Dalam acara tersebut, setiap undangan membawa makanan dari rumah masing-masing untuk disantap bersama. “Selain meningkatkan silaturahim,, acara ini dilakukan agar kita tidak lupa dengan Sang Pencipta. Apalagi acara pengajian ini sebenarnya rutin diselenggarakan,” kata Aryo. Kebersamaan Ramadan juga dirasakan anak-anak.

Secara khusus, pihak IISB menyiapkan waktu setengah hari bagi anak-anak Indonesia untuk mengikuti pesantren kilat. Pesantren diikuti hampir seratus anak yang berumur 5-12 tahun. Di sini, anak-anak diajarkan membaca Alquran, bermain gim bernuansa Islami, dan lainnya.

“Kegiatan ini diharapkan bisa menjadi benteng bagi mereka agar lebih mengingat agamanya di tengah kehidupan barat yang mengelilingi mereka sehari-hari,” kata Aryo. (http://www.mediaindonesia.com/mipagi/read/13390/Nikmati-Berpuasa-di-Brisbane/2015/07/10)-FatchurR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Enter Captcha Here :

Back to top button
Close
Close