Islam

Jejak Islam di Tanah Maros

(travel.detik.com)-Maros; Jejak-jejak Islam di Maros, Sulsel bisa traveler telusuri di Masjid Nurul Falah. Masjid usia 2 abad ini saksi penyebaran Islam. Hampir 2 abad, masjid di Maros, Sulawesi Selatan, kokoh berdiri dan jadi saksi sejarah penyebaran Islam di kabupaten yang kini berpenduduk 399 ribu jiwa.

 

Dulu, masjid itu lambang kejayaan Kerajaan Marusu cikal bakal nama kabupaten yang berbatasan dengan Makassar ini. Oleh Raja Marusu, masjid yang dulu hanya langgar itu diberi nama Masjid Nurul Falah (cahaya kemenangan). Lokasinya beberapa meter dari Istana Kerajaan Marusu yang dikenal bernama Balla Lompoa di Kelurahan Baju Bodoa, Kec-Maros Baru, Maros.

Karena tidak mampu mengampung jemaah yang tiap tahunnya bertambah, masjid ini dipugar 3x seperti bentuknya yang sekarang. Namun, meski telah mengalami perubahan, ornamen dan arsitekturnya tetap mengacu pada masjid kebanyakan di Makassar yang kubahnya berbentuk persegi empat lancip.

“Kami tetap mempertahankan arsitektur aslinya seperti kubah dan atap depan yang bersusun tiga seperti istana raja. Satu2nya bangunan asli di Masjid ini gerbang di pagar,” ujar Raja Marusu ke-24, Abdul Waris Karaeng Sioja pada detikTravel, (2/6/18).

 

“Saat masih Langgar, masjid ini berlokasi di pinggir Sungai Maros. Saat Istana Kerajaan Marusu dipindah, langgar ini juga dipindahkan dan jadi masjid pertama di Kerajaan Marusu kala itu” lanjutnya. Bagi Kerajaan Marusu, masjid tak hanya jadi tempat beribadah sejak dahulu, namun juga jadi tempat bermusyawarah membicarakan hal2 penting menyangkut hajat rakyat.

Tradisi ini tetap berlaku hingga saat ini. Selain itu, masjid ini jadi tempat pusat kegiatan Islam, mulai dari kajian hingga pembelajaran agama bagi remaja dan anak2.

“Satu hal yang terjaga hingga kini, Masjid ini jadi tempat bermusyawarah. Dulu, raja2 selalu bermusyawarah dengan rakyatnya di masjid ini. Sekarang pun begitu. Pemerintah setempat sering membuat musyawarah di sini juga,” sebutnya.

Seperti masjid2 tua lainnya, di belakang Masjid Nurul Falah ini ada kompleks pemakaman Raja Marusu dan keluarga. Ada 2 Raja Marusu yang dimakamkan di belakang Masjid, yakni Raja Marusu ke 17 dan 18. Makam ini sering diziarahi oleh keturunan keluarga raja dan masuk dalam situs cagar budaya.

 

“Selain makam itu, ada kompleks pemakaman raja2 Marusu yang biasa kita sebut Kobbanga di pinggir Sungai Marusu, tempat dulunya Istana Marusu dan langgar dibangun pertama kali,” terangnya.

 

Masjid ini, tak lepas dari adanya istana Kerajaan Marusu. Dari literatur2 kuno, Kerajaan Marusu berdiri abad 15 oleh raja pertama : Karaeng Loe Ri Pakere sebagai Tumanurung atau orang yang turun dari langit. Kala itu, Islam dibawa pedagang dari Melayu. Islam masuk di ke kerajaan Marusu tahun 1596, saat Raja Marusu ke-3 yang menjabat sebagai Tu Mailalang (menteri dalam negeri Kerajaan Gowa).

Meski begitu, dalam catatan Raja Bone ke-22 yang memerintah antara 1752-1762, Kerajaan Bone sebelumnya pernah mendirikan langgar di Marampesu yang saat ini di wilayah Kelurahan Boribellaya, Kecamatan Turikale, Maros. Sayangnya, masjid itu tak ada lagi. Tahun 1756 raja Bone menggelar salat Idul Adha di langgar yang kemudian ia bangun jadi masjid.

“Jadi kalau bicara sejarah masuknya Islam di Maros ini, sebelum di Kerajaan Marusu, Raja Bone pernah membuat langgar di Marampesu yang jadi pusat pemerintahan Raja Bone. Saat era ekspansi kerajaan Gowa pada kerajaan lain di Sulsel, Marampesu ini direbut,” sebut penggiat Budaya Maros, Andi Muhammad Riza AB.

 

Menurutnya, sejarah Islam di Maros tidak terlepas dari masuknya Islam di Kerajaan Tallo yang secara kelembagaan membuat kerajaan Gowa berubah jadi kesultanan (abad ke-16). Kesultanan Gowa itu kerajaan besar di Sulsel, lalu menyebar luaskan Islam ke semua kerajaan lain, termasuk Kerajaan Marusu dan Kerajaan Bone.

Masuknya Islam di Sulsel, tidak terlepas dari peran ulama Minangkabau yakni Datuk Ri Bandang, Datuk Patimang dan Datuk Di Tiro. Ketiga orang ini pertama berhasil meng-Islamkan Raja Luwu, La Patiware Daeng Parabu yang berganti nama Sultan Muhammad Mahyuddin awal (1605). Di tahun sama, Raja Tallo, Imalingkaan Daeng Manyonri Karaeng Katangka dan Raja Gowa, Sultan Alauddin memeluk Islam.

“Ada 3 tokoh Islam berjasa membawa kerajaan besar di Sulsel memeluk Islam. Di Maros mengikut setelah Raja Gowa memproklamirkan kerajaannya sebagai kerajaan Islam di Sulsel. Meski akhirnya kerajaan Gowa Tallo dan sekutunya takluk dengan VOC tahun 1669, Islam tetap menyebar hingga ke pelosok Sulsel,” pungkasnya. (Wsw; Fay; Moehammad Bakrie;  Bahan dari :  https://travel.detik.com/domestic-destination/d-4051807/menelusuri-jejak-islam-di-tanah-maros)-FatchurR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Enter Captcha Here :

Back to top button
Close
Close