Iptek dan Lingk. Hidup

Waspadai Zaitun

Jakarta – Minyak zaitun kini populer dikonsumsi mereka yang bergaya hidup sehat. Minyak nabati berbagai jenis ini kini mulai dipalsukan. Sebaiknya waspada karena tidak semua minyak zaitun yang beredar di pasaran legal dan murni. Minyak zaitun telah menjadi bagian dari sejarah kuliner dunia sejak lampau. Sayangnya, kejahatan pemalsuan minyak zaitun juga sudah ada sejak dulu. Akhir-akhir ini permintaan minyak zaitun meningkat tajam seiring berkembangnya gaya hidup sehat.

Berdasarkan artikel yang dilansir Daily Mail, sebuah lempeng berukir yang ditemukan di Syria menggambarkan aktivitas pasukan yang bertugas menjaga kemurnian minyak zaitun. Kerajaan Romawi pun memberlakukan aturan ketat untuk meminimalisir pemalsuan minyak zaitun.

Minyak zaitun dibuat dengan cara mengepres buah zaitun utuh, kemudian minyaknya diekstrak dengan mesin atau bahan kimia. Setelah itu, minyak zaitun dipisah menjadi 7 grade, di mana extra virgin olive oil adalah yang paling murni, bermutu paling tinggi, dan paling mahal.

Karena itulah, minyak zaitun jenis ini paling sering mengundang kejahatan. Tidak main-main, pihak yang terlibat adalah mafia kelas kakap dengan jaringan internasional. Penyelundupan berskala besar yang mereka lakukan terorganisir dengan rapi.

Salah satu kasusnya terjadi beberapa tahun lalu. Bertolli, produsen minyak zaitun terbesar di dunia, menderita kerugian hingga jutaan euro akibat pencurian di kilang minyaknya di dekat Milan, Italia.

Menurut Tom Mueller, pengarang buku ‘Extra Virginity: The Sublime and Scandalous World of Olive Oil‘, minyak zaitun berbeda dengan wine dalam hal pelabelan. Jenis dan tahun pembuatan wine jelas tertulis di label botolnya, sesuai dengan isinya. Sebaliknya, informasi yang tertera di label botol minyak zaitun sangat sedikit. Alhasil, minyak zaitun berkualitas tinggi dan rendah sulit dibedakan secara fisik.

Kejahatan terkait minyak zaitun biasanya dilakukan dengan mencampur minyak agar harganya lebih murah dan mendapat keuntungan lebih banyak. Misalnya extra virgin oil dicampur dengan lampante, minyak zaitun kualitas terendah yang biasa digunakan sebagai bahan bakar lampu. Minyak campuran ini tidak cocok dikonsumsi karena tinggi kadar asamnya.

Selain itu, extra virgin olive oil juga sering dicampur dengan minyak jenis lain yang harganya lebih murah, misalnya minyak bunga matahari atau minyak hazelnut.

Pada tahun 2004, seorang produsen minyak zaitun bernama Andreas Marz mengetes extra virgin olive oil yang dijual di supermarket Jerman. Ia menyerahkan 31 sampel ke pakar di Italia. Hasilnya mengejutkan, yaitu hanya satu yang sesuai standar extra virgin. Sebanyak 9 jenis dinyatakan sebagai virgin olive oil, sementara sisanya adalah lampante.

Sayangnya, temuan ini tidak berarti apa-apa karena industri minyak zaitun dilindungi oleh pejabat tinggi. Andreas justru diintimidasi dan dituntut.

Daily Mail menyarankan Anda waspada terhadap extra virgin olive oil seharga kurang dari Rp. 83.000,00 per liter, karena minyak yang murni tidak murah harganya. Beli minyak zaitun dalam botol berwarna gelap karena dapat melindungi isinya dari bau tengik akibat sinar UV. Selain itu, carilah minyak zaitun yang memiliki masa kadaluwarsa paling lama.

(Odi/Odi; http://food.detik.com/read/2012/01/25/095937/1824124/294/waspada-minyak-zaitun-palsu-mulai-banyak-beredar)

Catatan : Terlepas ada tidaknya pemalsuan ini, tapi waspada setidaknya melakukan seperti saran pada alinea terakhir itu. (FatchurR)

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Enter Captcha Here :

Back to top button
Close
Close