Islam

Ketika Waktu Tidak Berpihak

Suatu malam sebelum tidur saya melihat suatu tayangan di citi channel, walau saya tidak tahu tayangan ini siapa sponsornya, karena sepertinya bukan iklan suatu produk bisnis. Dalam tayangan tersebut ditampilkan suatu cerita yang alurnya menggambarkan hubungan antara seorang ayah dengan putra laki-laki tunggalnya.

 

Waktu anaknya masih kecil diperlihatkan bagaimana khawatirnya si ayah saat anaknya jatuh dari sepedah, ke sekolahpun selalu diantar dengan mobil tua kesayangannya. Waktupun berjalan, sampai akhirnya anaknya menjadi seorang remaja, konflik antara mereka mulai terjadi, sampai mencapai puncaknya ketika si anak ingin menyalurkan bakatnya di bidang kesenian.

 

Ayahnya marah besar karena tidak setuju dengan keinginan anaknya, si anak bersikukuh untuk berkiprah di bidang kesenian, kemudian yang terjadi si ayah mengusirnya dan si anak pergi dengan rasa marah yang tak terkira yang digambarkan dengan membanting sesuatu ke meja dihadapannya.

 

Dengan tekunnya si anak berlatih bermain musik sampai akhirnya dia akan menyelenggarakan konser, ayahnya diundang untuk menghadiri konser tersebut. Gambaran berikutnya, si ayah pergi untuk menonton konser musik anaknya, di dalam mobil dia simpan undangan konser di kursi sebelah sehingga dia bisa mudah melihatnya.

 

Dalam kondisi memegang kemudi, dia menoleh surat undangan yang memuat foto anaknya yang sedang memegang gitar, namun tiba-tiba di depannya menghadang sebuah truk besar yang sedang melaju. Tabrakanpun tak terhindarkan, divisualkan lewat adegan lamban bagaimana kerasnya benturan kedua mobil tersebut.

 

Bagian depan mobil si ayah menghantam truk, dan remuk, si ayah terpental kebelakang dengan wajah yang tampak ketakutan, kaca mobil pecah, kacamata si ayahpun diperlihatkan pecah, sampai jam tangannyapun secara perlahan terurai menjadi serpihan-serpihan kecil.

 

Berbarengan dengan akhir tayangan yang masih menggambarkan detik-detik akhir tragedi muncul dua barisan kalimat berturut-turut “Ketika waktu sudah tidak berfihak”. “Hanya penyesalan yang terjadi” (Walau malu saya sampaikan sama istri, bahwa tayangan itu sangat menyentuh, dan rasa sedihpun merambah dalam jiwa tua saya, air matapun menitik tak terelakkan).

 

Setelah reda rasa sedih, saya coba memaknai kejadian dan pesan yang terkandung dalam kalimat yang muncul di akhir tayangan, saya ingat suatu hadits. Rasul Saw pernah bersabda bahwa semua anak Adam yang meninggal akan menyesal, yang suka berbuat kejelekan menyesal karena tidak menghentikan kejelekannya, yang suka berbuat kebaikan menyesal karena tidak memperbanyak kebaikannya.

 

Menurut para ulama kelak di alam barzah akan ditampilkan amal kebaikan dan kejelekan, sehingga boleh jadi anak Adam yang meninggal itu dapat melihat semuanya, dan disanalah terjadinya penyesalan. Dalam kehidupanpun akan banyak terjadi penyesalan, terutama yang mempunyai kesempatan untuk berbuat kebaikan namun tidak memanfaatkannya dengan maksimal.

 

Salah satu contoh adalah yang berkesempatan memperbaiki nasib suatu golongan, atau berkesempatan meniadakan atau mengurangi ketidak-adilan, namun tidak memanfaatkannya, saat dia telah berhenti boleh jadi secara manusiawi akan menyesal karena tidak berbuat sesuatu untuk golongan yang dapat dibantunya.

 

Untuk itu senyampang masih punya waktu, marilah kita manfaatkan dengan maksimal, agar kelak kita bisa mengurangi penyesalan, baik di dunia apalagi kelak di alam berikutnya. Wallohu ‘alam. (Nanang Hidajat)-FR.

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.




Enter Captcha Here :

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close
Close