Psikologi

Jangan tinggal di hutan terus

Setelah pulang dari luar negeri dan bergelar Master, Robby semakin sombong dan menganggap dirinya paling pintar ketimbang orang lain. Robby adalah anak seorang konglomerat yang memiliki perkebunan kelapa sawit.

 

Suatu hari, ia diminta ayahnya untuk menengok perkebunan miliknya yang berada di daerah pedalaman, yang hanya bisa ditempuh melalui jalan sungai. Maka, dengan menggunakan sebuah perahu nelayan, Robby berangkat menuju lokasi perkebunan yang membutuhkan waktu sekitar tiga jam.

 

Untuk menghilangkan kejenuhan, Robby membuka ponsel BlackBerry-nya dan segera bercengkerama (chatting) dengan kawan-kawannya. Si nelayan heran dengan tingkah laku Robby yang tersenyum dan tertawa sendiri, memberanikan diri bertanya. “Maaf, Pak, itu alat apa? Kok Bapak kelihatan asyik sekali.”

 

“Oh, alit ini namanya BlackBerry, ponsel canggih yang hanya dimiliki orang-orang tertentu. Dengan alat ini, saya bisa ngobrol dengan pacar saya yang ada di Amerika,” jawab Robby sembari menunjukkan ponsel BlackBerry model terbaru yang dimilikinya.

 

“Tapi, kok bisa ya, Pak, alat sekecil ini digunakan untuk berbicara dengan orang yang berada jauh di luar negeri,” tanya si nelayan kebingungan.

“Makanya, jangan tinggal di hutan terus, baca koran dong, biar bisa mengikuti perkembangan zaman,” kata Robby menyombongkan diri.

 

“Baca koran? Bagaimana mungkin, Pak, saya ini buta huruf,” Sambil dia terus mendayung perahunya.

“Wah, kalau begitu hidup kamu benar sia-sia. Kamu akan kehilangan banyak kesempatan jika tidak bisa membaca,” jelas Robby.

 

Merasa dirinya hanya seorang nelayan yang tidak mengerti perkembangan ilmu pengetahuan, maka si nelayan hanya terdiam dan melanjutkan tugasnya mendayung perahu.

Namun, tiba-tiba si nelayan nyeletuk, “Pak Robby, apakah Anda bisa berenang?”

“Oh, itu tidak penting,” jawab Robby dengan santai.

 

“Kalau begitu sayang sekali, Pak. Hidup Bapak akan sia-sia. Bapak akan banyak kehilangan kesempatan jika Bapak tidak bisa berenang,” ujar si nelayan.

“Lho, apa hubungannya tidak bisa berenang dengan kehilangan kesempatan?,” tanya Robby penasaran.

 

“Perahu kita bocor dan mulai memasuki bagian dalam perahu, jadi yang kita butuhkan sekarang bukan BlackBerry atau peralatan komunikasi canggih lainnya, yang kita perlukan sekarang adalah kemampuan berenang agar bisa selamat sampai ke tepi sungai,” jawab si nelayan sembari bergegas meninggalkan perahu yang mulai tenggelam.

 

“Hei, tunggu, jangan tinggalkan aku,” teriak Robby yang mulai ketakutan.

“Makanya, jangan sombong, baru punya BlackBerry saja udah berani meremehkan orang lain,” celetuk si nelayan sambil mengulurkan tangannya untuk memberikan pertolongan kepada Robby yang sedang megap-megap kelelahan.

——————-

Setiap orang memiliki dunianya sendiri-sendiri. Ada orang yang karena faktor keadaan dan lingkungan hanya bisa menjalani hidup sebagai nelayan atau petani di pedesaan. Ada yang beruntung memiliki kesempatan sekolah hingga ke luar negeri karena lahir dari orangtu yang kaya raya.

 

Namun, siapa pun Anda, kita tidak boleh sombong, apalagi menyepelekan orang lain yang hidupnya kurang beruntung dibandingkan kita, karena hidup manusia tidak bisa berjalan sendirian, setiap saat kita pasti membutuhkan orang lain. Selalu, dan selalu akan demikian.

 

Golden word : “Pengalaman yang menyakitka n selaku mengandung pelajaran.”-Benjamin Franklin-

(http://www.ceritakamu.com/2012/07/cerita-motivasi-jangan-sombong/)-FatchurR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.




Enter Captcha Here :

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Lihat Juga
Close
Back to top button
Close
Close