Psikologi

Budaya mengantri

Seorang guru di Jepang berkata, “Kami tak khawatir jika anak2 SD kami tidak pandai Matematika. Kami jauh lebih khawatir jika mereka tidak pandai antri. Sewaktu ditanya : “Mengapa bisa begitu ? Kerena yang terjadi di negara kami justru sebaliknya”. Inilah jawabannya :

 

1. Hanya perlu 3 bulan secara intensif untuk melatih mampu Matematika. Kita perlu 12 Tahun atau lebih melatih untuk bisa antri dan selalu ingat pelajaran berharga di balik proses mengantri.

2. Tidak semua anak akan berprofesi menggunakan ilmu matematika kecuali TAMBAH, KALI, KURANG DAN BAGI. Sebagian mereka anak menjadi Penari, Atlet Olimpiade, Penyanyi, Musisi, Pelukis dsb.

 

3. Biasanya sebagian kecil dari murid dalam satu kelas kelak memilih profesi di bidang yang berhubungan dengan Matematika. Sementara SEMUA MURID DALAM SATU KELAS ini pasti akan membutuhkan Etika Moral dan Pelajaran Berharga dari mengantri di sepanjang hidup mereka kelak.

 

Pelajaran berharga apa dibalik MENGANTRI :
1. Anak belajar manajemen waktu jika ingin antri terdepan datang lebih awal dan persiapan lebih awal.
2. Anak belajar bersabar menunggu giliran tiba terutama jika ia di antrian paling belakang.
3. Anak belajar menghormati hak orang lain, yang datang lebih awal dapat giliran lebih awal dan tidak saling serobot merasa diri penting.

 

4. Anak belajar berdisiplin dan tidak menyerobot hak orang lain.
5. Anak belajar kreatif memikirkan kegiatan yang bisa dilakukan mengatasi kebosanan saat antri. (di Jepang biasanya orang akan membaca buku saat mengantri)
6. Anak bisa belajar bersosialisasi menyapa dan mengobrol dengan orang lain di antrian.

 

7. Anak belajar tabah dan sabar menjalani proses dalam mencapai tujuannya.
8. Anak belajar hukum sebab akibat. Jika terlambat harus menerima konsekuensi antrian dibelakang.
9. Anak belajar disiplin, teratur dan kerapihan.

 

10. Anak belajar memiliki RASA MALU, jika ia menyerobot antrian dan hak orang lain.

11. Anak belajar bekerjasama dengan orang2 yang ada di dekatnya jika sementara mengantri ia harus keluar antrian sebentar untuk ke kamar kecil.
12. Anak belajar jujur pada diri sendiri dan pada orang lain dan mungkin banyak pelajaran berharga lain.

Saya sempat tertegun mendengarkan. Dan baru saja menyadari hal ini saat satu ketika mengajak anak kami berkunjung ke tempat bermain anak XXX di Jakarta.
Yang di pertontonkan para ortu pada anaknya, mengantri menunggu giliran sungguh memprihatinkan.

1. Ada orang tua yang memaksa anaknya untuk “menyusup” ke antrian depan dan mengambil hak anak lain yang lebih dulu mengantri dengan rapi. Dan berkata, “Sudah cuek saja, pura-pura gak tau aja !!”

 

2. Ada ortu yang memarahi anaknya, “Dasar Penakut”, karena anaknya tidak mau menyerobot antrian.

3. Ada ortu menggunakan taktik dan sejuta alasan agar anaknya di perbolehkan masuk antrian depan, karena alasan masih kecil capek ngantri, rumahnya jauh harus segera pulang, dsb. Dan menggunakan taktik yang sama di lokasi antrian permainan yang berbeda.

 

4. Ada ortu malah marah2 karena di tegur saat anaknya menyerobot antrian, dan menyalahkan orang tua yang menegurnya.
5. Dan berbagai macam kasus lainnya. (Frans Nong; Dikutip dari artikel Ayah Edi Konsultan Parenting)-Yong Sidharta

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.




Enter Captcha Here :

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close
Close