Opini dan sukses bisnisPsikologi

Pensiun jadi pemulung kini beternak entog

Jakarta – Membayangkan masa lalu ibarat ombak besar di tengah laut bagi Wahyudin (24). Orang hanya tahu indahnya deburan buih laut di pesisir pantai, tapi tak tahu badai besar di tengah laut.

Terbayang di benaknya akan masa lalu ketika harus memulung lewat sedikit dari tengah malam, hingga waktu jelang masuk sekolah. Masa-masa itu dia lalui hingga gelar sarjana ekonomi dia sandang hampir dua tahun lalu.

“Sejak 2013 saya tidak mulung lagi. Waktu itu saya banyak mengisi acara motivasi di televisi dan ada fee-nya. Uang itu saya pakai untuk modal beternak entok (sejenis itik, -red) dan alhamdulillah berhasil,” tutur Wahyu saat berbincang di kantor detikcom, Warung Buncit, Jakarta Selatan, Jumat (19/6/2015).

Terakhir kali berbincang dengan detikcom di tahun 2013, dia mencari uang dengan memulung di bilangan Bekasi, Jawa Barat. Kini raut wajahnya lebih sering menyunggingkan senyum dan tampak optimistis menjemput perubahan dengan upaya yang maksimal.

“Kan 10 tahun jadi pemulung, saya bukan pribadi yang jadi pemulung terus. Saya jadi pemulung itu batu lompatan ketika ada yang lebih baik kenapa saya harus mulung?” tutur dia.

“Sekarang wirausaha, bikin peternakan kecil, ternak entok di daerah dekat rumah. Usaha sendiri pribadi, mengelola sendiri enggak ada karyawan. Kan tinggal kasih makan, ada 20-an ekor entok. Ini baru sedikit masih riset and development dulu,” lanjut anak sulung dari tiga bersaudara itu.

Tak puas hanya dengan beternak, segala bidang usaha juga dia lakoni. Dia pun menjajaki dagang madu dan apa pun yang bisa dia lakoni di Pasar Jatinegara serta Tanah Abang.

“Saya lihat ada produk apa nih? Saya jual berapa nih? Saya sudah tidak dagang keliling-keliling lagi karena sudah ada facebook dan media sosial lainnya,” imbuh pemuda tersebut.

Masih hangat dalam benak dia ketika dia berjuang kumpulkan uang Rp 2.500.000 per semester dari hasil memulung untuk biaya kuliah S1 dahulu. Padahal dana yang dia butuhkan adalah Rp 5.250.000.

Untunglah ada orang tua angkat dari keluarga Habib Husen Alhabsy dan Ummi Alwiyah Alhabsy yang bersedia menggenapi kebutuhan Wahyu. Hingga akhirnya dia lulus S1 dan langsung dapat beasiswa S2 di Magister of Bussiness Administration (MBA) ITB dari Kemdikbud.

Bisa dibilang akhir tahun 2013 adalah terakhir kalinya dia harus tidur di tumpukan karung hasil memulung. Cerita tentang perjuangannya yang inspiratif itu terdengar sampai negeri kangguru.

“Saya pernah dikasih uang dari Australia, dia orang Indonesia yang suaminya Australia. Dia cuma baca dari detikcom terus hubungi saya di FB. Enggak pernah tatap muka, dia bantu peternakan Rp 4 juta-an. Jadi peternakan itu modalnya dari orang tua angkat dari orang di Australia,” ujar dia yang berkali-kali tersenyum. (bpn/van;l http://m.detik.com/news/read/2015/06/22/121440/2948624/10/pensiun-jadi-pemulung-wahyudin-mas-ganteng-kini-ternak-entok)-FatchurR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Lihat Juga
Close
Back to top button
Close
Close