IBO

Fungsi dan makna upacara Bhuta Yadnya

Dipandang dari sudut fungsinya upacara bhuta yadnya merupakan sarana untuk menetralisir ( Nyomya ) semua kekuatan2 yang bersifat Asuri Sampad ( sifat keburukan ) yang telah bersemayam ke dalam bhuwana agung ( makrokosmos ) maupun bhuwana alit ( mikrokosmos ).

 

Tujuanya untuk mencapai bhuta hita agar keseimbangan, keselarasan dan keserasian antara bhuwana agung dengan bhuwana alit dapat dipertahankan secara berkesinambungan, untuk mencapai tujuan akhir dari ajaran agama yaitu Moksartham Jagadhita Ya Ca Iti Dharma dan Moksartham Atmanam.

Sedangkan kalau di pandang dari sudut makna upacara bhuta yadnya memiliki beberapa makna, yaitu :

 

  1. Bermakna sebagai pengeruat ( penyupatan )
  2. Bermakna sebagai kesejahteraan
  3. Bermakna sebagai peleburan dosa
  4. Bermakna sebagai korban suci ( Yadnya )

 

  1. BERMAKNA SEBAGAI PENGERUAT ( PENYUPATAN )

Pelaksanaan upacara bhuta yadnya khususnya di Bali mempergunakan korban dari binatang-binatang, dirangkai sedemikian rupa dijadikan satu paket upakara bhuta yadnya. Hal inilah yang sering menjadi pertanyaan di masyarakat sehubungan dengan membunuh ( himsa karma ).

Sesungguhnya tidak demikian, seharusnya perbuatan itu harus dipilah-pilah, diantara perbuatan yang himsa karma dengan perbuatan suba karma. Dalam hal pelaksanaan upacara bhuta yadnya ini perbuatan itu bersifat suba karma karena membunuh dalam konteks ini adalah bertujuan penyupatan ( nyomya ) memberikan jalan kelepasan kepada binatang yang dipergunakan sebagai korban upacara bhuta yadnya dengan tujuan akhir agar nantinya roh binatang tersebut kalau reinkarnasi kembali ke dunia lahirlah dia menjadi manusia.

 

Di dalam lontar “ Tutur Sanghyang Tapeni” menyebutkan sebagai berikut :

Ih sira sang rumaga yadnya, rengenan pewarah mami weruha rumuhun make hingganing gama kerthi ulahing wang kamanusan, rediata jagat kerthi, maka sapta bhuwana wenang molih pakerthi luirnia, Dewa Yadnya, Rsi Yadnya, Pitra Yadnya, Manusa Yadnya, Bhuta Yadnya, Aswameda Yadnya. Apan yadnya maka panelasing papa, petaka, geleh pate leteh, gering sasab merana, duk ika para kerthi apan kabeh Dewa, Bethara, kala bhuta, raksasa, detya, danawa, pisaca, damya, atma pitri, pitara, jin, setan, moro, pulung, pemala-pemali, muah ikang sarwa ika kabeh pawaking papa, pada amerih kamanusan, ya manusa juga wenang nyupat sira kabeh, kunang yan ring manusa sang Brahmana Pandita Siwa Budha juga yogya ingentasaken ika kabeh.

 

Setelah memperhatikan isi lontar diatas dapat dipahami maknanya bahwa bukan setiap kita membunuh binatang untuk kepentingan korban suci ( yadnya ), atau untuk kepentingan kehidupan ( pangan ) adalah merupakan perbuatan subha karma karena sifat membunuh pada kepentingan tersebut adalah untuk kepentingan dua aspek yang besar yaitu: sebagai penyupatan agar nantinya kalau reinkarnasi kembali menjadilah kelahiran sebagai manusia ( kelepasan ), sedangkan pada aspek yang lainnya adalah sebagai korban suci, untuk dijadikan sarana simbol-simbol dan manifestasi Sang Hyang Widhi yang bersifat bhuta kala untuk memelihara kekuatan panca maha bhuta di alam semesta ini agar menjadi bhuta hita, sehingga keseimbangan alam semesta dengan isinya tetap dapat dipertahankan secara berkesinambungan.

 

Di dalam “Puja Pepada” di ungkapkan antara lain :

Ong, na, ma, si, wa, ya, endah ta kita sang dua pada, sang catur pada, ingsun ngadeg Sang Hyang Dharma, tumon ta mangke, ingsun amerih anyupata sira, aja lupa aja lali sira ring tutur Sang Hyang Dharma, Sang dua pada mantuk sira ring Bethara Iswara pasang sarga ta sira, rumekasan yan sira numadi ke merca pada , menadi ta sira manusa wiku sadu dharma, muah mangke sira menadi yadnya menadi larapan bhaktin sang yajamana, aja sira asilik gawe, elingakna suarganta maring Iswara loka, Ong Sang namah.

Ih kita sang catur pada riwekasan yang sira numadi ke merca pada, menadi ta sira manusa mawibawa apan mangke sira manadi yadnya, larapan bhaktin sang yajamana aja sira asilik gawe aja lupa aja lali ring tutur Sang Hyang Dharma, elingakna suarganta ring Brahma loka, Ong Bang namah.

Ung Ang Mang sarwa atma murswah wesat, ah ang, a, ta, sa, ba, I, sarwa bhuta murswah maring pertiwi.

Dari isi kutipan diatas sudah sangat jelas bahwa pembunuhan dalam konteks ini adalah merupakan perantara yang bermakna penyupatan ( kelepasan ) bagi binatang yang di sembelih, namun bagi manusia bermakna sebagai korban suci (Yadnya). Oleh karena itu tidak semua pembunuhan terhadap binatang di katagorikan himsa karma, persepsi yang demikian adalah sangat keliru, karena hanya memandang dari satu sudut saja, tidak mengikut sertakan dari pandangan yang lain.

Melihat dari isi dialog Hyang Siwa kepada Begawan Wrespati bahwa manusialah yang diberikan anugrah oleh Hyang Siwa untuk mengatur alam semesta dan mengatur mahluk-mahluk di luar manusia, malahan samapi mengatur para Dewa karena manusia adalah mahluk tertinggi di dunia ( Wrespati tattwa ).

Dalam “Pustaka Bhagavadgita X-15” di ungkapkan sebagai berikut :

SWAYAM EWA “TMANAM, WETTHA TWAM PURUSOTTAMA,

BHUTA BHAWANA BHUTESA, DEWA DEWA JAGATPATE

Maksudnya :

Engkau sendirilah yang mengetahui, dirinya sendiri dengan Atmanmu,

                        Oh manusia utama pengatur segala insani, penguasa atas segala mahluk semua Dewa-Dewa dan dunia ini.

Dengan adanya isi sloka diatas, dapat memberikan pengertian bahwa setiap pembunuhan terhadap mahluk lain asal berdasarkan atas yadnya, tidak termasuk himsa karma melainkan sebaliknya termasuk perbuatan kebajikan ( subha karma ) karena memiliki tujuan sebagai pengeruat ( penyupatan ) terhadap binatang atau tumbuh-tumbuhan agar nantinya pada saat reinkarnasi di harapkan lahir menjadi manusia utama.

 

  1. BERMAKNA SEBAGAI KESEJAHTERAAN

Upacara bhuta yadnya memiliki makna sebagai sarana untuk mensejahterakan alam semesta, sehubungan dengan adanya kekuatan-kekuatan yang memiliki kecendrungan Asuri Sampad yaitu adanya kekuatan-kekuatan bhuta, kala, raksasa, pisaca, danawa, dunaja dan lain-lain. Kekuatan ini ada yang bersifat positif dan ada yang bersifat negatif, kekuatan yang bersifat negatif inilah yang perlu di netralisir ( disomya) agar menjadi sifat positif ( bhuta hita ) untuk kesejahteraan bhuwana agung dan bhuwana alit ( makrokosmos dan mikrokosmos ).

Mengenai pengaruh negatif dari kekuatan ini yang terjadi di bhuwana agung seperti adanya bencana alam, adanya orang disambar petir, adanya penyakit-penyakit yang aneh aneh muncul sehingga para ahli kedokteran merasa kewalahan untuk menghadapi dan telah banyak merenggut nyawa.

Kekuatan negatif yang berpengaruh terhadap bhuwana alit dengan munculnya perilaku manusia sebagai kekejaman membunuh sesama manusia, adanya perilaku yang melawan norma-norma agama dan norma negara seperti pemakaian obat terlarang, perampokan, kebebasan mengadakan hubungan seksual, adanya penderita penyakit jiwa, dan lain-lain.

Dengan demikian ada tiga macam sakit kehidupan di dunia ini antara lain :

a.Adhyatmika Dukha

Adhyatmika adalah sakit karena sebab-sebab dari dalam badan sendiri atau alat-alat tubuh yang mengalami gangguan sehingga kelihatan terganggunya jasmani atau rohani seperti sakit kepala, rasa takut, sakit jiwa, rasa marah dan sebagainya.

b.Adhibautika Duhkha

Adhibautika Duhkha adalah sakit yang disebabkan oleh faktor luar secara nyata seperti terpukul, kecelakaan, bencana alam, gigitan binatang dan serangga sehingga mengalami penderitaan dan kadang-kadang sebagai penyebab kematian, contoh : penyakit demam berdarah, penyakit rabies dan lain-lain.

c.Adhidaiwika Duhkha

Adhidaiwika adalah sakit yang disebabkan oleh tenaga gaib seperti setan, hantu, perbuatan orang jahat, guna-guna, kesisipan dari leluhur ( kepongor ), pemali, kedestian dan lain-lain.

(Wrespati Tattwa ).

Kejadian-kejadian seperti yang dijelaskan di atas tadi perlu suatu upacara bhuta yadnya sesuai dengan keperluan sebagai sarana penetralisirnya, yakni untuk mengembalikan keseimbangan, keselarasan dan keserasian antara bhuwana agung dan bhuwana alit, sehingga dapat tercapainya Moksartham Jagadhita Ya Ca Iti Dharmah. Kesejahteraan bhuwana agung dan bhuwana alit sangat ditentukan oleh pengaruh dari yadnya, makin tidak beryadnya manusia di dunia maka makin hancurlah alam semesta ini, demikian juga akan lahir manusia-manusia amoral, yang memiliki sifat-sifat keraksasaan. Oleh karena itu manusia harus beryadnya agar kelestarian bhuwana agung dan bhuwana alit dapat terpelihara.

Pustaka Bhagawadgita” mengungkapkan antara lain :

“Adanya mahluk hidup karena makanan, adanya makanan karena hujan, adanya hujan karena yadnya, adanya yadnya karena karma “

(Bhg. G.III-15)

“Adanya Dewa-Dewa adalah karena ini, semoga Dewa-Dewa menjadikan engkau demikian dengan saling memberi,engkau akan memperoleh keasrian yang paling utama “                                                                                       (Bhg.G.III-11)

Dari isi sloka diatas , telah dijelaskan bahwa dengan kekuatan Yadnyalah kesejahteraan bhuwana agung dan bhuwana alit akan tercipta.

  1. BERMAKNA SEBAGAI PELEBURAN DOSA

Upacara bhuta yadnya dikatakan mengandung makna sebagai peleburan dosa manusia khususnya umat Hindu. Sehubungan dengan ini umat Hindu telaah melaksanakan penyucian diri terhadap panca maha bhuta, melalui perbuatan kebajikan, baik yang berada di bhuwana agung maupun yang di bhuwana alit. Dengan penucian terhadap panca maha bhuta mengandung maksud dan tujuan bahwa kekuatan panca maha bhuta yang bersifat negative ( keburukan ) dapat dinetralisir, sehingga dapat member pengaruh kebajikan terhadap manah dan budhi, sehingga perilaku akan dipengaruhi, dan berperilaku berdasarkan suara budhinya, secara kenyataan segala perbuatan adalah perbuatan kemanusiaan atau kebajikan ( subha karma ).

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa segala perbuatan yang selalu didasari oleh kebajikan maka karma wasananya ( subha karma ) lambat laun akan berfungsi sebagai penetralisir segala dosanya ( asubha karma ), sehingga tercapainya Moksartham Jagadhita Ya Ca Iti Dharmah, dan jikalau hal ini dapat dipertahankan selama hidup di dunia, maka di akhir kehidupan akan mencapai Moksartham Atmanam.

Oleh karena demikian maka upacara bhuta yadnya dapat dikatakan memiliki makna peleburan dosa.

  1. BERMAKNA SEBAGAI KORBAN SUCI

Upacara Bhuta yadnya dapat dikatan memiliki makna sebagai korban suci, karena pada dasarnya pelaksanaannya berdasarkan pengorbanan baik berupa material maupun moral spiritual yang berlandaskan ketulus ikhlasan. Dengan jiwa yang tulus dan perbuatan yang ikhlas, umat Hindu telah menyadari bahwa Sang Hyang Widhi menciptakan alam semesta beserta isinya termasuk manusia adalah melalui yadnyaNya. Dengan demikian, khususnya umat Hindu memiliki hutang yadnya kehadapan Sang Hyang Widhi sesuai dengan ajaran “Tri Rnam”. Oleh karena itu umat Hindu harus beryadnya berdasarkan ajaran “ Tri Sila Parartha” , yaitu : Bhakti yang tulus berdasarkan Sradha, memiliki perasaan welas asih kehadapan Sang Pencipta, dan ikhlas melaksanakan punia ke hadapanNya .

Dalam  “Pustaka Bhagawadgita III-10”, menyebutkan antara lain :

SAHAYAJNAH PRAJAH SRISTWA

PURO WACA PRAJAPATIH

ANENA PRASAWISYA DHIWAM

ESA WO ‘STWISTA KAMADUK.

Maksudnya :

“Sesungguhnya sejak dahulu dikatakan Tuhan telah mencipta manusia melalui yadnya, dengan cara ini engkau akan berkembang, sebagaimana lembu perahan yang memerah susunya karena keinginanmu”

Dengan memetik isi sloka diatas, bahwa semua mahluk di dunia sebagai hasil ciptaanNya terutama manusia, sangat berhutang kehadapan Sang Hyang Widhi karena Beliau memberikan kesempatan kepada para Roh lahir ke dunia, agar berkarma, meningkatkan hasil karma di kehidupan terdahulu, untuk lebih baik, sehingga bias terciptanya Moksartham Atmanam. Oleh karena itulah manusia khususnya umat Hindu harus beryadnya sebagai sarana pembayaran hutang ke hadapan Sang Hyang Widhi melalui pelaksanaan upacara panca yadnya yang telah dilaksanakan dari sejak dahulu sampai sekarang. (Ketut sumerta P2Tel Cabang Denpasar; Sumber : Yayasan Dharma Acharya)-Subroto

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Enter Captcha Here :

Back to top button
Close
Close