Info Daerah n OpiniYAKESTEL DAN OLAH RAGA

Senam Virtual Aerobika (23-07-21) Dan Beda OR Dengan Beraktivitas Fisik

Hari Jumat tanggal (23-07-21), de Sonci, (YWC Bandung) dan Mas Imam (YWC Jakarta,  membuka acara Senam Aerobik. Selanjutnya mas Rifk Jakartai memulai dengan pemanasan,

Dilanjurkan pakde Sonci ditemani Kang Adit berhasil membawa 253 peserta Aerobik dari Regional 1 hingga 7 punya harapan kesehatannya makin baik dan mudah mudahan bisa tercapai. Keberhasilan senam itu tidak lepas dari dukungan YWC

Jelang senam dimulai sekitar jam 07.27 tercatat kurang dari 150 peserta. Saat itu dikomenari Seksi OR Ujungberung yang juga aktif di BP PP mengatakan “Tunggu saja, sebentar lagi jumllahnya 300an”. Menurut penulis idealnya minimal 400 peserta yang berarti 80% kapasitas Zoom yang disdiakan Yakes

Ngomong ngomong soal jumlah peserta, sejak diberlakukan Senam Virtual ini, penulis adalah salah satu yang tidak bosan bosannya mengajak teman teman untuk bergabung. Dan banyak argumen yang dikemukakan dan sebagian bisa kita terima

Tetapi ada alasan menarik yaitu : “Gak ikut Senam karena banyak aktivitas di rumah yang mereka  lakukan diantaranya : Belanja ke Pasar,  memasak, Ngepel lantai,, berkebun (merawat tanaman), mecuci mobil dll. Tapi apakah aktivitas itu setara dengan Senam yang difasilitasi Yakes? Silahkan simak berikut ini :

Aktivitas fisik seperti disebutkan diatas atau lari, bermain, lompat yang tidak terstruktur itu memang kegiatan harian yang  mengeluarkan energi. Namun, sering orang beranggapan ketika sudah beraktivitas fisik maka dikatakan sudah ber-OR. Padahal tidak seperti itu.

“Aktivitas fisik itu tidak terstruktur, sedang OR itu direncanakan, bertujuan misalnya menurunkan berat badan, menjaga kebugaran, dan OR itu terukur misalnya melalui denyut nadi,” tutur dr Sophia Hage, Residen Kedokteran OR FKUI dan salah satu aktivitas fisik adalah olahraga. Lantas apa bedanya?

“Misalnya mengerjakan pekerjaan rumah termasuk OR? Tidak. Atau jalan dari halte busway ke kantor, itu juga belum bisa disebut OR” lanjutnya.

Ber-OR pasti beraktivitas fisik, sebaliknya beraktivitas fisik belum tentu ber-OR. Dalam keseharian, saat ber-OR, sering orang beranggapan ketika banyak keringat keluar, maka aktivitas fisiknya tinggi.

Menanggapi hal ini, dr Sophia menekankan hal itu bukanlah indikator tepat. “Fisiologis orang berbeda, respons pada suhu dan metabolisme masing-masing orang berbeda,” tuturnya.

Dia tekankan perlu tambahan OR (aktivitas fisik) karena OR ada tujuan dan parameter yang bisa diukur. Tak hanya bagi orang dewasa, pada anak-anak OR bisa menurunkan risiko kesehatan seperti diabetes, obesitas, serta penyakit kardiovaskular. Kapasitas jantung, otot, tulang, dan paru-paru mereka lebih kuat.

Jadi kenapa fasilitas dari Yakes tidak Anda manfaatkan secara optimal? Banyak lho kinerja Yakes yang memanjakkan kita Dallm mencapai sejahtera melalui kegiatan yang disediakan. (Djuhana; KJS BLA Tegallega)-FatchurR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.




Enter Captcha Here :

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close
Close