Iptek dan Lingk. Hidup

Harga Minyak Naik Setelah Pengesahan Anggaran Infrastruktur

(beritasatu.com/ekonomi)-CHICAGO; Harga minyak naik pada Senin (8/11/2021) karena tanda-tanda positif pertumbuhan ekonomi global mendukung prospek permintaan energi menyusul disahkannya anggaran infrastruktur AS. AS mempertimbangkan pilihan mengatasi lonjakan harga energi.

Minyak mentah Brent naik 0,83% menjadi US$ 83,43 per barel, setelah turun hampir 2% minggu lalu. Minyak AS menguat 0,81%, menjadi US$ 81,93, setelah turun hampir 3%.

Presiden AS Joe Biden pada Sabtu (6/11/2021) menyambut baik pengesahan RUU infrastruktur senilai US$ 1 triliun yang telah lama tertunda. Hal ini dapat meningkatkan pertumbuhan permintaan bahan bakar.

Kenaikan harga minyak lebih lanjut didukung keputusan Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya seperti Rusia, OPEC+, tidak mempercepat menaikkan produksi.

Biden meminta OPEC+ memproduksi lebih banyak minyak untuk meredam kenaikan harga. Biden mengatakan pemerintahannya memiliki “alat lain” untuk menghadapi lonjakan harga minyak.

Menteri Energi AS Jennifer Granholm (8/11/2021) mengatakan, Washington mempertimbangkan pilihan mengatasi harga bensin yang menguat di AS. Menurut analis solusinya dapat melibatkan pelepasan Cadangan Minyak Strategis AS.

Menambah sentimen kenaikan harga minyak, pertumbuhan ekspor Tiongkok melambat pada Oktober tetapi mengalahkan perkiraan, didukung meningkatnya permintaan global menjelang liburan musim dingin dan peningkatan rantai pasokan yang terkena virus corona.

Lebih lengkapnya bisa anda lihat melalui Artikel ini yang telah tayang di :  https://www.beritasatu.com/ekonomi/851411/harga-minyak-naik-setelah-pengesahan-anggaran-infrastruktur-as (Bahan dari : Oleh : Whisnu Bagus Prasetyo / WBP; CNBC)-FatchurR *

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.




Enter Captcha Here :

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close
Close