Cermin bisnis Anggota

Aku cinta produk Pepeng-Workshop Ecoprint

Ayo para pensiunan Telkom khususnya Pepeng (Pensiunan Pengusaha) atau calon kita berkreasi

Tempat : di Jalan Sekelimus XI/3 bandung

Waktu ditentukan setelah ada 15 peminat

 

Biaya : Juga akan ditentukan besarnya setelah ada 15 peminat

Bagi para Pensiunan Telkom yang berminat silahkan hubungi (WA 0811 223 955; Pan Supandi)-FR

 

Ilustrasi tambahan salah satu tentang Ecoprint

(wargajogja.net)- Kain batik menjadi tren busana belakangan tahun ini. Selain batik tulis dan batik cap, berkembang batik kontemporer, diantaranya batik eco-print. Sesuai namanya, eco dari ekosistem (alam) dan print artinya mencetak, batik ini dibuat dengan mencetak bahan2 yang ada di alam, misalnya daun.

 

Proses pembuatan batik ini diawali pengolahan kain atau mordanting. Sebelum dibatik, kain direndam lebih dulu menggunakan air campuran tawas selama satu jam. Cara ini untuk mempertahankan warna dasar kain, dan membuka pori2 kain agar gambar tercetak. Dilanjutkan pengeringan di sinar matahari.

 

Selanjutnya dilakukan proses pencetakan. Kain dibagi dua sisi simetris, satu sisi jadi alas, dan sisi yang lain berfungsi seperti kaca. Objek yang akan dicetak pada kain adalah daun jati. Daun yang dipilih harus yang muda, agar bisa mengeluarkan warna.

 

Daun ditata di satu sisi kain, dan sisi yang lain dijadikan penutup. Setelah itu, kain di-pukul2 dengan palu atau batu. Kekuatan dalam memukul harus dikontrol, agar daun tidak hancur. Lanjut kain dilipat jadi bagian lebih kecil dengan tetap mempertahankan posisi daun agar tidak bergeser. Kain yang sudah terlipat, diikat kencang dengan tali kenur.

 

Lanjut pengukusan agar warna daun keluar. Lipatan kain dikukus setengah hingga satu jam pada 100°C. Setelah proses pengukusan, batik terlihat tercetak di kain. Kain dibersihkan dari sisa daun yang nempel. Tahap terakhir : Fiksasi.

 

Proses ini dengan merendam kain yang sudah dibatik dengan air campuran tawas. Proses ini untuk mengikat motif dan warna yang tercetak di kain. Setelah satu jam perendaman, kain batik eco-print dapat dijemur dibawah terik matahari.

 

Batik eco-print pertamai digagas warga negara Australia bernama India. Melihat peluang yang besar, salah satunya pada ketersediaan bahan baku, untuk mulai mengembangkan batik. Sebelumnya, tren batik yang berkembang : Jumputan, sibori dan itajime. Tahun 2017, popularitas 3 jenis itu dikhawatirkan bergeser oleh batik eco-print. Karena tren gaya hidup masyarakat yang ramah lingkungan.

 

Dari workshop itu diharapkan peserta terinspirasi membangun bisnis batik eco-print. Ini karena harga jualnya tinggi. Di jakarta, kain batik eco-print semi sutra ukuran 2 x 2 mt dijual 1, 2 juta rupiah.  “Semoga mampu memberdayakan peserta”.  Mari para Pepeng daftarkan diri. (Bahan dari http://wargajogja.net/bisnis/batik-eco-print-yang-sederhana-jadi-barang-mahal.html)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Enter Captcha Here :

Back to top button
Close
Close