Psikologi

Kenangan krisis Moneter 1998

Kita ingat ketika krismon 1998. Pada 11/07/97 kurs US Dollar Rp 2,436 / dollar. Pada 15/01/08, hanya 6 bulan kemudian, kurs dollar melewati Rp15,000. Tidak ada yang menghendaki hal ini terjadi. Tak menduga begitu cepat dan drastis (semua berubah). Berantakan sosial, ekonomi dan tatanan hukum.

Krismon 1998 di Indonesia menyapu habis uang simpanan dan harapan rakyat. Uang rupiah tak ada harganya. Krismon menjadi krisis ekonomi-krisis politik. Suharto lengser. Rezim Orba tumbang. Ekonomi kocar-kacir. (KSO Telkom berantakan dan jadi masalah besar Pemerintah & Telkom. Mitra KSO menjadi Musuh KSO.)

Beberapa bulan yang lalu terjadi krisis ekonomi sejenis di *Greek *dan *Cyprus *(dg sekala & tema krisis yg berbeda). Semua berantakan. Menurut pendapat saya, Mesir (*Egypt*) sejak pimpinan Muhammad Mursi (Ikhwanul Muslimin) setahun lalu, kebebasan reformasi dan kepimpinan nasional tidak ber-sinergi positif utk kepentingan nasional bersama.
Hari-hari ini di Mesir dilanda ketegangan dan konflik horizontal yg multi-front. Ada konflik Shiah vs Sunni. Ada konflik Sekuler vs Salafi. Ada konflik pemodal asing vs nasional. Ekonomi Turis turun drastis nyaris zero activities. Ada capital out-flow. Cadangan devisa nasional merosot. Ada  pertentangan oposisi & pemerintah. Demo2 berbalas demo. L’histoire se repete. Sejarah akan selalu berulang. Kita harus mampu membaca tanda zaman. (ThW)

 

Tanggapan 1 :

Yang jelas berita buruk kini bermunculan dari kawasan Asia, walaupun Eropa dan Amerika belum ‘sembuh’ benar dari krisis. Rupiah melemah hingga menembus batas ‘psikologis’ 10.00 / dollar AS. Padahal pemain asing yang invest dalam surat berharga di sini punya patokan kurs 9.700. Lewat dari angka itu investasi tidak menguntungkan. Dan sebentar lagi inflasi akan terbang tinggi.

Di BEI, duit asing yang terbang keluar dari Indonesia (foreign net sell) dari 23/05-Selasa 25/06/13 mencapai 24 triliun rupiah. Jumlah sebesar ini merupakan “tabungan” asing (foreign net buy) sejak awal 2012. Pasar modal biasanya ‘pencium’ paling dini, gejala krisis.

Kalau saja para elit mau bekerja serius dibanding pembiaran, mampu melihat alternatif lain dibanding hanya melihat menaikkan BBM –dan memberi permen– sebagai satu-satunya jalan, serta ikhlas untuk tidak korupsi, krisis mungkin bisa dihindarkan (zar)

 

Tanggapan 2 :

Setuju pendapat pak Zar. Pendapat saya dibawah ini :
Perekonomian dunia sedang bergerak dalam “keseimbangan baru”. Terjadi pergerakan capital (in/flow) diberbagai negara, terutama arus mengalir kembali capital in flow ke USA. Sebagian besar Kapital (sdh sek USD2.4Trilyun) kembali ke USA.

 

Hal ini disebabkan – ekonomi USA ada signal *membaik *dan *Fed mengindikasikan QE3 di-kurangi atau di-stop*. Jadi, empat tahun terakhir ini(sejak 2009) – Ekonomi Indonesia (termasuk Emerging Countries atau BRICS+i) menerima arus masuk “capital murah”(.25%pa) dari Amerika.

Proses menuju “keseimbangan baru itu” yg mungkin butuh waktu 6-8bulan(?). Hal ini  menyebabkan “mengkerutnya” (cripping) perekonomian BRICS+i. Resiko inilah yang sedang dihadapi negera emerging countries tsb. Indonesia termasuk.

 

Resiko untuk Indonesia diperbesar krn Kepimpinan Pemerintah Indonesia yg tidak sepenuhnya kuat(secara ekonomi sedang mengalami defisit Fiscal dan Cadangan Devisa terkuras, terakhir Cadangan Devisa tinggal $105.15 billion (akhir Mei-2013) dr sebelumnya awal 2013 $112 Billion.

 

Kemana uang itu pergi? Pulkam alias pulang kampung (pemilik kapital). Resiko ekonomi indonesia diperbesar karena bulan-bulan mendatang adalah *tahun politik* (perebutan kekuasaan). Perebutan
kekuasaan (pemilu nasional) ini juga mendidihkan perekonomian nasional, paling tidak – menunda langkah atau wait & see para pelaku ekonomi.

Pemerintah China jauh hari awal tahun Fiscal2013 mengerem (memperlambat) laju pertumbuhan ekonomi nasional dan lebih menekankan usaha *pemerataan kue ekonomi. (*Note*: BRICS+i = Brazilia, Russia, India, China, South Africa + indonesia.)-SH

 

Tanggapan 3 :

Capital flow adalah hal yang sangat biasa dalam ekonomi global. Negara-negara BRICS pasar modalnya juga masih dikendalikan modal dari luar negeri. Korea saja masih sangat tergantung
modal luar negeri. Sifat modal adalah seperti air, mengalir menuju ke tempat yang lebih rendah.
JSX beberapa minggu lagi seperti tidak ada ujungnya, naik-naik terus, always high.

 

Pada saat itulah para pemodal LN sudah sempat profit taken, itu keuntungan yang pertama yang dipetik oleh pemodal. Pada saat harga saham pada level yang sangat rendah, mereka menunggu kesempatan untuk belanja lagi dengan harga super discount, itu keuntungan yang kedua.

 

Rupiah nilainya turun, menjadikan harga saham menjadi lebih super murah, ini keuntungan yang ke tiga. Jadi dalam peristiwa ini, sekali menempuh dayung tiga pulau tercapai. Perkiraan saya, awal musim dingin nanti (akhir Juli), JSX mulai stabil, seiring dengan keluarnya laporan keuangan triwulan
kedua.

 

Kinerja perusahaan yang bagus akan menikmati rebound yang manis. Driver utama, adalah sektor Batu Bara, dengan kebutuhan energi yang mulai meningkat, kemudian diikuti oleh sektor perkebunan. Ini analisa analis pinggiran lho. (Sadhono Hadi; Creator of Fundamen Top40; Visit http://fundamen40.blogspot.com)-FatchurR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.




Enter Captcha Here :

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Lihat Juga
Close
Back to top button
Close
Close