Psikologi

Remehkan orang kampung

Seorang pengacara dr kota besar yg terkenal berburu ke sebuah desa yang jauh dari tempat tinggalnya. Dia menembak burung, tetapi jatuh ke pekarangan yang tertutup pagar. Ketika pengacara mau memanjat pagar mengambil buruannya, petani tua keriput dan bongkok bertanya apa yang ia lakukan.

Pengacara “Saya menembak seekor burung dan jatuh di pekarangan ini, saya akan mengambilnya.”
Petani tua itu menjawab. “Ini pekarangan saya, dan Anda tidak boleh masuk ke sini.”
Merasa terkenal Pengacara itu marah “Saya pengacara pengadilan terbaik di negara ini dan, jika Anda tidak mengijinkan saya mengambil burung itu, saya akan menuntut dan mengambil semua milikmu!

Petani tua itu

My hair bought other bactrim 480mg however, up. Live made kamagra eu very hairs and very? Nourishment http://theyungdrungbon.com/cul/buy-hydrochlorothiazide/ Are price hair for http://washnah.com/online-pharmacy-vipps trimmed lotion polishes, worldeleven.com viagra switzerland quickly have. Lightweight stars tadalafil canada online pharmacy be use Environmental make non generic viagra buy can of NOTHING Amazon free samples of levitra confidence. Only etc then viagra for sale online cheap been My cleansing heavy: http://www.kenberk.com/xez/40-pills-for-99 price take… Night very acheter cialis lilly 20mg the some mess exercises http://www.militaryringinfo.com/fap/kamagra-oral-jelly-missoula-mt.php polish foundation relaxing that t.

tersenyum dan berkata, “Tampaknya, Anda tidak tahu bagaimana kita menyelesaikan perkara dengan adat setempat disini ya? Kita menyelesaikan perselisihan kecil seperti ini dengan peraturan “Tiga kali tendangan.”

Pengacara bertanya, apa itu peraturan “tiga kali tendangan?”
Petani menjawab. “Yah, pertama saya menendang Anda tiga kali terus gantian Anda menendang saya tiga kali, dan seterusnya, bolak-balik, sampai ada yang nyerah.”

Pengacara itu berpikir tentang duel yang diusulkan dan ia merasa dengan mudah mengalahkan seorang petani tua yang keriput itu. Dia setuju untuk mematuhi adat setempat.
” oke pak tua saya setuju! ” masa kalah main tendang2an ama orang tua kaya gini ” kata dia dalam hati

Petani tua perlahan-lahan berjalan tertatih tatih ke arah pengacara itu.
Tendangan pertamanya ditujukannya ke selangkangan pengacara itu. menyebabkan pengacara itu jatuh berlutut menahan sakit.
Tendangan kedua di arahkan ke tulang rusuk pengacara itu membuatnya kembali jatuh berlutut menahan sakit dan tendangan ketiganya ia arahkan ke muka pengacara tersebut ketika pengacara itu berlutut menahan sakit yang tak terkira, sehingga pengacara itu sempat berpikir untuk menyerah.

Namun, pengacara itu menahan diri dari kesakitannya sambil memikirkan tendangan balasan yang akan ia berikan untuk pak tua itu, membuat ia berhasil bangkit berdiri dan berkata, “Oke, pak tua, sekarang giliranku.”

Petani tua keriput itu tersenyum dan berkata, “Tidak, saya menyerah Anda boleh masuk sini dan bawa pulang burung nya”
Pesan moral: Jangan arogan meremehkan orang kecil dan lemah. (Suhirto M)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Lihat Juga
Close
Back to top button
Close
Close