Psikologi

Menjelang Mahasiswa lulus

Menjelang hari kelulusan, seorang mahasiswa menelpon ortunya : “Bapak-Ibu. Saya akan pulang setelah lama kuliah di kota ini. Tapi ada satu permintaan yang ingin saya ajukan sebelum saya pulang : Bolehkah saya membawa pulang seorang teman baik saya untuk tinggal bersama dengan keluarga kita?”
“Yaaa…. tentu saja boleh, kalau dia teman akrabmu, maka ia juga jadi bagian dari keluarga kita” Jawab sang Bapak disetujui oleh ibunya.
“Tapi Pak…Bu.., ada satu hal yang harus saya ceritakan…”
“Begini, Dia menghadapi masalah besar. Tanpa sepengetahuan orang tuanya, dia menghabiskan uang kuliah untuk beli motor kesukaannya, dan dia tidak pernah menyelesaikan kuliahnya. Setiap bulan dia mengirim laporan palsu ke orang tuanya seakan2 ia rajin kuliah padahal tidak.
Lebih parahnya lagi, bulan lalu ia mengalami kecelakaan parah dengan motornya, satu kaki-satu tangan harus diamputasi untuk menyelamatkan nyawanya. Kini dia takut pulang dan tidak ada tempat untuk menggantungkan hidupnya yang gagal kuliah dan cacat…” Suara sang anak terdengar agak ragu.
Sang Bapak terdiam sebentar, lalu berkata : “Ya sudah, gak apa2 nak, ajak saja temanmu pulang dan mungkin kita bisa carikan tempat tinggal untuknya…” Suara Ibunya mencoba menguatkan.
“Tapi Bu…Pak…, saya ingin ia tinggal bersama keluarga kita..”
“Nak…, Bapak kira kamu tidak sungguh paham¬† yang kamu minta. Temanmu ini asing bagi keluarga kita; ditambah kondisi yang cacat, bayangkan betapa kita akan menghadapi masalah besar menanggung hidupnya. Sudahlah, kamu pulang segera dan yakinlah, temanmu itu pasti akan menemukan jalan hidupnya sendiri…” Suara Bapaknya seperti tidak sabar untuk bertemu anaknya.
Setelah itu, tidak terdengar suara di telpon, hening dan akhirnya telpon terputus. Bapak-Ibu tidak mendengar kabar apapun tentang anaknya setelah itu. Tetapi 3 hari berikutnya mereka mendapat telpon dari kantor polisi di kota anaknya tinggal. Setelah dikonfirmasi, petugas menyatakan anak mereka meninggal jatuh dari lantai 4 tempat kost nya. Petugas yakin bahwa anak mereka mati bunuh diri.
Shock dan sungguh terpukul, Bapak-Ibu terbang ke tempat anaknya menuntut ilmu. Mereka diantar ke penyimpanan jenazah untuk mengidentifikasi tubuh anaknya. Mereka mengenali dengan mudah, itu jenazah anaknya. Tapi satu hal yang mengejutkan, tubuh anaknya cacat kehilangan satu tangan dan satu kakinya. Menurut kesaksian teman2nya ia mendapat kecelakaan motor sebulan lalu.

 

Orang asing tidak selalu orang yang belum pernah kita lihat dan dikenal sama sekali. Kapanpun bisa terjadi salah seorang dari anggota keluarga kita, atau orang2 yang kita cintai tiba2 menjadi seperti orang asing karena kesalahan dan kekacauan situasi yang mereka hadapi.
Kepekaan mendengarkan, keteguhan hati untuk berani menerima kenyataan, dan kekuatan sebuah pengampunan sangat dibutuhkan untuk memeluk mereka yang merasa terasing dalam hidupnya. Itu panggilan suci untuk siapapun yang punya hati. (Justinus Darmono; sumber :  P.Hend.SCJ)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Lihat Juga
Close
Back to top button
Close
Close