IslamPengalaman Anggota

17/19 Garuda

Menjalankan Umrah dalam rombongan, berbeda dengan melaksanakan Umrah dengan jalan sendiri. Umrah jalan sendiri harus menyiapkan sendiri Visa, booking hotel di Mekah dan Madinah. Perjalanan Jeddah – Madinah selain dengan bus Saptco bisa juga dengan pesawat terbang.

 

Kecuali bus, yang harus dibeli langsung ticketnya di stasiun bus, semua dapat dibooking dari Indonesia
dan ini tidak lebih murah dari perjalanan Umrah dalam rombongan. Masing-masing ada kelebihan dan kekurangannya. Perjalanan individu, bebas kita kemana suka, sekalipun untuk city tour terpaksa menyewa taksi.

 

Jangan khawatir, banyak supir taksi orang Indonesia. Kalau kita beruntung, malah bisa diajak mampir
ke rumahnya dan disuguhi makan. Sedang perjalanan dengan rombongan semua pasrah bongkokan kepada penyelenggara Umrah, kita tidak perlu repot memilih, booking dan lain sebagainya.

Saya beruntung, mendapat penyelenggara yang bisa menginapkan saya di Zam-zam Pulman Hotel, hotel pencakar langit yang termegah dan tertinggi (saat ini). Menginap dan sarapan saya mendapatkan pelayanan kelas satu, bahkan bila dibanding dengan hotel2 bintang lima di kota-kota besar lainnya.
Yang lebih menguntungkan, halaman mall dibawah hotel, menjadi satu dengan pelataran barat Masjidil Haram. Ini tentu memudahkan saya dalam menjalankan ibadah. Penerbangan pulang balik Jakarta – Jeddah penyelenggara menggunakan Garuda non regular, dengan type pesawat Jumbo Jet Boeing 747 seri 400.

 

Zam-zam Pulman HotelPelayanan Garuda secara umum excellent, angkat jempol, bahkan dibandingkan dengan ANA atau SIA. Memang ada pramugari yang keras kepada penumpang yang bandel, saya maklum mereka manusia biasa yang bisa letih dan jengkel.

Makanan cocok, padahal saya termasuk yang selera kurang soal makanan. Pada waktu berangkat penumpang disuguhi nasi uduk sambal goreng kentang dan udang. Saya minta tambah kepada
pramugara yang sangat ramah, namun nasib saya, nasi uduk tersebut habis.

 

Pramugara menawarkan nasi goreng tapi saya tidak berminat. Minuman melimpah baik berbagai juice atau teh. Ada berbagai tombol terpasang di setiap kursi penumpang. Ada tombol untuk menyalakan lampu baca, ada tombol untuk memilih channel audio, berbagai pilihan musik, ataupun channel
untuk suara film yang sedang diputar, lewat earphone yang disediakan di setiap kursi. Ada pula tombol untuk memanggil pramugari bila kita membutuhkan, ada pula tombol untuk mematikan.

Saat take-off atau landing selain kita harus mengenakan sabuk pengaman, melipat meja, menegakan sandaran kursi, ini semua untuk keselamatan kita sendiri maupun penumpang lain, bila terjadi keadaan darurat. Jendela, harus pula dibuka, saya tidak tahu apa alasannya. Kita dilarang menyalakan apapun peralatan elektronik saat landing maupun take-off.

 

Dalam hati saya tersenyum, apakah saya harus mencopot hearing aid saya, wah bisa berabe. Ketika sudah melayang, tanda kenakan sabun pengaman dipadamkan, kita boleh menyalakan lagi, termasuk Tablet yang sedang saya pakai menulis laporan saya.

Saya perhatikan masih banyak penumpang yang belum memahami seluk beluk menggunakan pesawat berbadan lebar. Ada baiknya tata-cara ini diajarkan saat manasik. Untuk economy class di pesawat Jumbo ini disediakan dua grup toilet.

 

Satu di depan dan satu lagi di bagian ekor. Bila seluruh toilet terpakai (occupied), maka ada lampu tanda yang menyala di bagian dalam pesawat. Ada dua jenis pintu toilet, jenis dorong, yang melipat terbuka,
sedangkan yang lain, pintu bi asa, yang berdaun pintu biasa.
Lampu di dalam toilet akan menyala manakala kita menselot pintu, tanda terisi atau occupied yang berada di luar pintu juga menyala. Ada berbagai barang dan peralatan di dalam toilet. Ada flush
untuk membilas coset, pembillasan ini dibantu oleh kompressor yang menyedot semua kotoran dengan suara yang cukup keras.

 

Ada keran diatas wastafel dengan dua jenis air, panas maupun dingin. Tersedia juga meja yang bisa dilipat bila ibu akan mengganti popok anaknya. Kemudian ada cantolan baju yang terletak di setiap pintu bagian dalam toilet. Ada juga tempat sampah yang tutupnya bisa didorong ke bawah.

Sedangkan perlengkapan toilet, ada sabun cair dan audo lotion dengan bau ringan, untuk mewangikan tangan. Ada juga gelas kertas untuk penumpang yang akan gosok gigi. Berbagai kertas tissue untuk berbagai keperluan disediakan sebagai perlengkapan standar.

 

Ada tissue gulung untuk menyeka kotoran. Bila kita tidak biasa dengan tissue kering, kita basahi terlebih dahulu dengan air. Ada pula tissue persegi untuk lap tangan. Ada pula perlengkapan standar berupa kertas pelapis closet duduk, yang penting untuk hygienis.

Yang perlu dicatat, bahwa tidak ada tempat wudlu dalam toilet. Hal ini saya akali dengan membasahi kertas tissue dan menyeka bagian tubuh yang perlu dibasahin. Saya tidak tahu apakah cara wudhu saya ini sah, menurut aturan.

 

Penumpang juga disarankan untuk menyeka bersih bak wastafel sebelum keluar toilet. Hal ini untuk menghormati penumpang berikutnya. Penumpang ANA, yang kebanyakan orang Jepang sangat disiplin dalam hal ini.

Untuk mengatasi jet-lag, bagi yang sulit tidur, Garuda menyediakan tutup mata hitam. Tutup mata ini sangat membantu tidur. Seperti diketahui, waktu Arab lebih lambat 4 jam, sehingga saat biasanya kita di Indonesia tidur malam, di sana masih terang benderang. Sayangnya banyak penumpang yang memakainya sebagai penutup mulut.

Terjadi insiden kecil saat saya penerbangan pulang dari Jeddah menuju Jakarta. Dari atas kabin barang ada tetesan air kecoklatan menetes membasahi 2 baris tempat duduk di depan saya. Saya mengusapnya dengan tissue, semula saya pikir ini air AC yang mengembun, namun karena deras, saya panggil pramugari dengan tombol yang ada dikursi saya.

Pramugari yang masih mengantuk menghampiri saya dan mengambil tissue untuk menyeka tetesan air. Dengan dibantu penumpang lain, dicari sumber dari mana air menetes, mungkin salah satu penumpang membawa air zam-zam yang tumpah membasahi coklat oleh-oleh. Celakanya, tas hitam tersebut bukan pemilik penumpang dibawahnya.

Hal teraebut terjadi karena saat check-in penumpang rombongan melakukan check-in secara bulk, jadi terpaksa tercampur pasangan-pasangan suami istri atau pendamping. Keributan terjadi saat pesawat akan take-off atau setelah di atas angkasa adegan change partner terjadi.

 

Bila pesawat kosong tidak masalah, tetapi bila pesawat full-booked, tentu tidak nyaman kita berpisah dengan istri atau orang tua kita selama perjalanan 9 jam. Saya jadi ingat pengalaman saya memimpin rombongan jemaah haji 38 orang yang terlantar karena penyelenggara terkenal saat itu (krismon, 1997), tidak berhasil memulangkan kami.

 

Di rombongan kami ada lima orang perwira menengah dari TNI-AD dan TNI-AU, mereka disiplin, kompak, saling membantu diantara sesama anggota rombongan. Memang kekompokan dan saling membantu sangat dibutuhkan untuk kelancaran ibadah.

Menurut hemat saya, bagian yang paling besar dari ongkos perjalanan Umroh adalah komponen ticket pesawat, jadi adalah hak penumpang untuk memilih tempat isle atau window. Para crew di darat dengan senang hati memenuhi keinginan kita.

 

Bahkan bila banyak tempat kosong mereka bersedia, untuk memberikan tiga seats untuk dua penumpang dan itu samasekali bukan pekerjaan yang sulit untuk mengaturnya. (On board Jeddah – Jakarta, 20150224 (Sadhono Hadi; Creator of Fundamen Top40; Visit http://fundamen40.blogspot.com dan http://rumahkudidesa.blogspot.com)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Lihat Juga
Close
Back to top button
Close
Close