Selingan

Garong terhormat

Ada garong konvensional, ada garong inkonvensional. Garong konvensional yang ada di tingkat hilir dimaknai perampok, kawanan pencuri/penyamun. Adapun garong inkonvensional identik dengan garong halus yang bekerja secara tersistem dan terkait dengan jabatan serta kekuasaan di level negara.

Garong konvensional identik garong kasar. Perampokan/penjarahan/pembegalan harta benda yang dilakukan terbuka, dramatis dan mengandung unsur kekerasan fisik dan pembunuhan. Nyawa dan darah jadi realitas ikutan. Sebelum diadili, garong kasar ini lebih akrab berurusan dengan pihak keamanan level bawah: Polsek dan Polres.

Adapun garong inkonvensional lebih terhormat dibanding garong konvensional. Kedudukan dan kekuasaan mereka secara struktural dalam sistem atau birokrasi penyelenggaraan negara jadi salah satu penyebabnya, di samping latar belakang mereka: kelas sosial menengah, pendidikan S-1, S-2, S-3, karier politik, akademik, birokratik, dan lainnya.

Juga tingkat kedekatan dengan kekuasaan atau penguasa politik dan ekonomi. Faktor lain, umumnya mereka kaya, banyak aset, baik deposito tak terhitung dan benda2 lainnya. Kehidupan mereka kental dengan aroma jetset tetapi bisa sangat cair luluh berinteraksi dengan berbagai komunitas.

Etos kriminal mereka tak jauh berbeda dengan etos kaum mafioso. Jika garong konvensional merampok secara terbuka, transparan, dan langsung, bisa dilihat, kaum garong inkonvensional melakukan tertutup, bahkan penuh cita rasa etika dan estetika tinggi.

Perampokan dilakukan dengan sopan santun, penuh ”penalaran”, rasionalisasi (pembenaran), sehingga terkesan wajar. Misalnya, dalam merampok APBN atau APBD hingga mencapai triliunan rupiah. Garong inkonvensional memiliki ”kreativitas” tinggi untuk mengakali sistem.

Misalnya, sistem politik anggaran negara untuk rakyat/masyarakat. Mereka menguasai regulasi dari filosofi, penafsiran, pemaknaan, hingga pengoperasiannya yang memungkinkan dana besar bisa dibelokkan dan digenggam, sementara rakyat hanya mendapatkan remah-remahnya.

Dalam soal membuat fiksi, mereka mampu ”mengalahkan” penyair, cerpenis, dan novelis papan atas sekalipun. Jika para sastrawan berprinsip ”berbohong” dalam penciptaan demi kebenaran, mereka justru bicara ”kebenaran” demi kebohongan.

Tak ada kebenaran otentik bagi mereka. ”Kebenaran” bagi mereka sejatinya tak lebih dari ”pembenaran” yang melabrak nilai, moral, norma, dan hukum dan menyembah kepentingan secara sepihak, subyektif.

Imajinasi mereka liar. Mereka mampu mengubah hal-hal fiksional jadi ”realitas”. Mereka bisa membuat praktik lelang proyek sandiwara, membuat perseroan, CV, dan lembaga bisnis palsu, atau membuat proyek-proyek fiktif, ”rakyat” fiktif, dan lainnya.

Pencinta koruptor
Jangan mengira garong inkonvensional ini dikutuk. Mereka ”dihormati”, secara sosial dan yuridis. Di masyarakat mereka bisa ”beli” citra sebagai ”orang terhormat” dengan bederma. Di tingkat elite, mereka punya pendukung dari politisi, konglomerat, birokrat, sampai penegak hukum. Maka, jangan heran jika remisi terhadap koruptor progresif dan tinggi.

Para pencinta koruptor mendadak lupa atas kebengisan para garong inkonvensional yang tidak hanya membuat negara pailit dan tak berdaya, juga membunuh rakyat melalui perampokan hak2 sipil warga. Para pencinta koruptor pintar mengakali pasal2 hukum pidana berdalih koruptor punya hak asasi manusia dan tidak boleh didiskriminasi. Kenapa justru kepada kaum garong inkonvensional toleransi mereka tinggi, sementara kepada rakyat yang jadi korban justru tidak dibela?

HAM atau hak-hak sipil, hak politik, mestinya milik masyarakat yang tingkat keadaban dan peradaban tinggi, bukan masyarakat garong yang anti keadaban dan peradaban. Hukum formal sering beku, gagap, dan gugup sehingga tidak memiliki kemampuan serta keberanian menerapkan hukuman berbasis keadilan dan rasa keadilan publik. Inilah kehebatan kaum garong inkonvensional yang mampu menciptakan sistem yang nyaman bagi mereka.

Berbagai upaya pemberantasan korupsi akhirnya hanya jadi dongeng ninabobo, yang tampaknya menenteramkan, tetapi membuka mara bahaya bagi rakyat. Ironisnya, ini terjadi di dalam praktik rezim yang semula berniat mulia memberantas korupsi.

Adakah kaum garong inkonvensional jadi prioritas? (ThW; Indra Tranggono, Pemerhati Kebudayaan; http://doa-bagirajatega.blogspot.com/2015/04/garong-terhormat-indra-tranggono.html)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.




Enter Captcha Here :

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close
Close