Psikologi

Cara Rasul menyongsong Ramadhan

Alhamdulillah, kita masih bisa menemui tamu yang di-nanti2 ber-bulan2. Itulah Ramadhan yang penuh berkah. Entah sudah berapa Ramadhan yang berhasil kita lewati? Itu bergantung umur yang telah kita lalui. Siapa yang tidak ingin dapat penghargaan itu? Karena itu, wajar jika banyak orang selalu merindu dan mendamba bulan ini sehingga butuh persiapan sedini mungkin menyambut kehadirannya.

Ramadhan yang disemarakkan dalam acara tarhib Ramadhan sering dimanfaatkan banyak orang sebagai waktu berbenah diri, membersihkan hati dan mempererat kembali tali silahturahim dengan sanak famili. Kebersihan dan kesiapan hati terasa lebih indah jika dicerminkan dari hati yang suci.

Jelang kehadiran bulan ini, kita seringkali melakukan berbagai seremonial dan acara keagamaan untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan. Ya, itulah yang biasa kita kenal dengan istilah tarhib Ramadhan alias menyambut Ramadhan.

Di lingkungan kita, saat menjelang bulan Ramadhan, terdapat tradisi unik mengungkapkan kebahagiaan. Ada yang konvoi, ada yang menyebar jadwal imsak, ada yang silaturahim seperti halnya lebaran, ada yang bermaafan, ada yang kumpulan, ziarah ke makam keluarga alias nyekar, ngariung, megengan, munggahan, kirab, dan banyak lagi tradisi sejenis lainnya.

Apapun kegiatannya, itu bentuk kegembiraan menyambut Ramadhan. Jika kita bisa bergembira menyambut Ramadhan, maka seharusnya kita bisa lebih bergembira dan semangat lagi kalau Ramadhan tersebut telah datang, seperti saat ini.

Rasulullah saw menyambutnya, jauh hari sebelum datangnya Ramadhan. Pada bulan Sya’ban, Rasul meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadahnya. Beliau saw, misalnya, tidak pernah melakukan puasa sunah sebanyak yang dilakukan di bulan Sya’ban.

Salah satu dari hikmah memperbanyak puasa di bulan Sya’ban adalah latihan puasa sebulan penuh di bulan Ramadhan. Apakah itu bukan sebuah tarhib? Ya, begitulah salah satu cara Nabi menyambut kehadiran Ramadhan, sebulan sebelumnya telah dipersiapkan matang-matang.

Adalah baginda Nabi Muhammad yang benar2 bertarhib Ramadhan paling meriah dan terlama. Beliau melakukan tarhib Ramadhan tidak cukup 1 atau 2 hari. Beliau menyambut Ramadhan mulai dari menjelang kedatangannya hingga kepulangannya.

Penyambutan Ramadhan tidak dilakukan sekadar rasa bahagia saja, tapi persiapan matang secara fisik dan mental agar kuat dalam menjalankan ibadah spesial ini. Riwayat tentang jaminan bebas neraka karena kegembiraan menyambut Ramadhan yang populer di kalangan kita tidak berdasar alias palsu.

Bergembira menyambut Ramadhan adalah sah saja dilakukan. Namun, jika menjadikan hadis palsu sebagai dasarnya, hal ini bermasalah. Cukuplah bagi kita dasar2 dari al-Quran dan sunnah nabi yang sahih sebagai acuan beragama kita, di dalam maupun di luar Ramadhan.

Adalah Nabi Muhammad saw orang yang selalu memotivasi para sahabatnya dalam berbagai hal, khususnya masalah keislaman dan Ramadhan. Beliau selalu menyemarakkan malam-malam Ramadhan untuk qiyamullail. Beliau bersabda,
ذَنْبِهِ مِنْ تَقَدَّمَ مَا لَهُ غُفِرَ وَاحْتِسَابًا إِيْمَانَا رَمَضَانَ قَامَ مَنْ
“Siapa yang bangun (menyemarakkan malam2) Ramadhan karena iman dan mengharap ridha Allah, pasti akan diampuni dosa-dosanya yang lalu.”

Tentu, yang dosa yang diampuni adalah dosa kecil, karena dosa besar seperti syirik, zina, membunuh orang, dsb perlu taubat nasuha. Apalagi jika dosa itu menyangkut hak orang lain, maka harus minta maaf terlebih dahulu kepada yang berhak. Begitulah cara Nabi menyambut ramadhan di malam hari.
Cara beliau menyambut hari2 Ramadhan siang hari : Rasulullah saw bersabda,
ذَنْبِهِ مِنْ تَقَدَّمَ مَا لَهُ غُفِرَ وَاحْتِسَابًا إِيْمَانَا رَمَضَانَ صَامَ مَن
“Siapa yang puasa (di siang) Ramadhan karena iman dan mengharap ridha Allah, pasti akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

Kalau malam hari, Nabi memotivasi kita untuk diisi ibadah alias qiyamullail, maka siang harinya, kita diperintahkan berpuasa. Awas jangan sampe bolong kalau tidak benar-benar dalam kondisi darurat karena sakit, musafir, atau datang bulan bagi wanita.

Itu pun harus diganti. Demikian, kalau semua itu kita lakukan dengan ikhlas karena Allah, pasti bakal diampuni dosa-dosa kita yang telah lalu. Dengan ampunan itulah, kita bisa selamat dari lahapan Neraka, Si jago merah itu. Mudah, bukan?

Malam hari tidak perlu ber-lama2, asalkan penuh keihlasan dan istikamah, yang penting bergadangnya tidak disalahgunakan. Begitulah Nabi kita menyambut hari per hari di bulan Ramadhan. Berikut adalah testimonial istri-istri beliau mengenai amaliyah Nabi saw di bulan suci,
مِئزَرَهُ وَشَدَّ أهْلَهُ وَأيْقَظَ لَيْلَهُ أحْيَا رَمَضَانَ مِنْ الأَوَاخِرَ العَشْرَ دَخَلَ إِذَا وَسَلَّمَ عَلَيْهِ اللهُ صَلَّى اللهِ رَسُوْلُ كَان
((متفقٌ عَلَيْهِ))
“Dulu, Nabi saw ketika masuk 10 hari terakhir (bulan Ramadhan) selalu menghidupkan malamnya, membangunkan keluarga, mengencangkan sarungnya (tidak menggauli istri-istrinya).” (HR. Bukhari dan Muslim)

لا مَا مِنْهُ الأوَاخِرِ العَشْرِ وَفِي ،غَيْرِهِ في يَجْتَهِدُ لاَ مَا رَمَضَانَ في يَجْتَهِدُ – وَسَلَّمَ عَلَيْهِ اللهُ صَلَّى- اللهِ رَسُوْلُ كَان
(رواه مسلم).غَيْرِهِ في يَجْتَهِد

“Dulu, Nabi saw selalu ber-sungguh2 ibadah di bulan Ramadhan melebihi kesungguhan beliau di bulan lain. Dan di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, juga melebihi hari-hari selainnya.” (HR. Muslim)

Malam2 ramadhan selalu disemarakkan beribadah, qiyamullail: Shalat malam, membaca al-Quran, dan ibadah2 lain. Semarak malam2 ramadhan juga diramaikan oleh keluarga beliau dan masyarakat sekitar.

Suatu ketika, Nabi menyemarakkan malam2 Ramadhan, diketahui para sahabat, maka pada malam berikutnya, beliau dikejutkan banyaknya sahabat yang turut mengikuti beliau di masjid. Lalu, nabi pun kasihan terhadap mereka sehingga beliau melaksanakannya di rumah agar hal itu tidak diwajibkan bagi umatnya. Begitulah cara Nabi dan masayarakatnya melakukan tarhib ramadhan hingga paripurna.

Demikianlah, wujud kegembiraan hakiki menyambut hadirnya bulan Ramadhan. Ketika yang disambut, dirindukan dan di-nanti2 tiba, ia tidaklah dilewatkan begitu saja. Begitu istimewanya bulan ini, maka sepuluh malam terakhir itu pun oleh nabi sekaligus dijadikan sebagai malam perpisahan, Farewell party dengan ramadhan.

Itulah malam teristimewa yang tidak di dapati di malam-malam yang lain, lailatul qadar. Pasti seru, ramai2 tiap malam bersama keluarga di bulan ini dirayakan. Kita semua tahu dan bahkan menyadari betul hal itu.

Namun, kita sering lupa itulah esensi tarhib Ramadhan, penyambutan bulan Ramadhan yang hakiki. Bukan, sekadar mengungkapkan kegembiraan saat menjelang Ramadhan atau di awalnya saja, melainkan setiap hari dan setiap saat hingga Ramadhan itu pulang dan akan datang kembali.

Di bulan Rajab dan Sya’ban kita tiap hari diajari doa agar disampaikan pada bulan Ramadhan.
رَمَضَانَ وَبلِّغْنَا وَشَعْبَانَ رَجَبَ فِيْ لَنَا بَارِكْ اَللَّهُمَّ
“Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah (umur) kami ke bulan Ramadhan.” (Oleh: Ustadz Ahmad Ubaydi Hasbillah – Pengajar Quran Learning Centre; http://www.quranlearningcentre.com/mutiara_kebajikan/read/23/cara-nabi-menyambut-ramadhan)-FatchurR
———
Catatan :
Assalaamualaikum Wr.Wb

Pada forum yang sangat baik ini Kami jajaran Bidang Publik relation / Infokom dan Pengurus PP P2Tel mohon maaf atas segala kekhilafan “MARHABAN YA ROMADLON”

Mengutip kiriman dari Sdr MS Yk, Rasulullah saw bersabda, “Man shaama ramadhaana imaanan wahtisaban ghufira lahu ma taqaddama min dzanbihi. Waman qaama ramadhaana imaanan wahtisaban ghufira lahu ma taqaddama min dzanbihi. Waman qaama lailatal qadr imaanan wahtisaban ghufira lahu ma taqaddama min dzanbihi.”

(Siapa berpuasa pada bulan ramadhan atas dasar iman dan semata-mata mencari keridhaan Allah, maka akan diampuni dosa2nya yang lalu. Siapa beribadah di malam qadar, maka akan diampuni dosanya yang sudah lalu)-Wassalaamualaikum. (FR)

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Enter Captcha Here :

Lihat Juga
Close
Back to top button
Close
Close