Psikologi

Masih terasa manisnya Permen di lidah

Seorang lelaki tua terbaring lemah di sebuah RS. Seorang pemuda datang membezoeknya tiap hari dan ia menghabiskan waktu ber-jam2 bersama lelaki tua itu. Menyuapinya, membersihkan badan dan membimbingnya ber-jalan2 di taman, lalu membantunya kembali berbaring dan baru pergi setelah merasa tenang orang tua itu sdh bisa ditinggal.

Suatu ketika perawat yang datang memberi obat dan memeriksa kondisi orang tua itu berkata, “TUHAN telah memberkahi Bapak dg anak yg berbakti. Setiap hari ia datang untk mengurus Bapak”. Tanpa berkata lelaki tua itu memandang perawat itu sejenak, lalu memejamkan kedua matanya.

Kemudian berkata dg nada sedih, Saya ber-angan2 andai ia adalah salah seorang anakku ! Dia adalah anak yatim di lingkungan tempat tinggal kami. Suatu ketika saya melihatnya menangis setelah kematian ayahnya. Maka sayapun membujuknya dan membelikan permen untuknya.

Setelah itu saya tidak pernah lagi berbincang dngnya. Ketika ia tahu bahwa saya dan istri sudah tinggal berdua saja, ia pun berkunjung setiap hari untk memastikan kami baik2 saja. Ketika kondisi fisik saya mulai menurun, ia mengajak saya dan istri saya tinggal di rumahnya dan membawa saya ke rmh sakit utk berobat.

Saya pun bertanya, “Nak, mengapa engkau menyusahkan diri mengurus kami ?” Sambil tersenyum ia menjawab, “Manis permennya masih terasa di mulut saya”.

TUHAN telah tetapkan Hukum Tabur Tuai. Setiap dr kita akan memetik hasil dr apa yg pernah kita tanam. Krn itu taburlah kebaikan, walaupun cuma memberi senyuman. (Tjahjo Rahardjo-72; https://groups.google.com/forum/#!topic/hallopim/fdV-2THk0eI)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Enter Captcha Here :

Back to top button
Close
Close