Psikologi

Berupayalah tidak sombong

Sombong, penyakit yang sering menghinggapi kita, benihnya kerap muncul tanpa kita sadari. Di tingkat pertama, Sombong disebabkan oleh faktor materi. Kita merasa lebih kaya, lebih rupawan, dan lebih terhormat daripada orang lain.

 

Di tingkat kedua, Sombong disebabkan oleh faktor kecerdasan. Kita merasa lebih pintar, lebih kompeten, dan lebih berwawasan dibandingkan orang lain.

 

Di tingkat ketiga, Sombong disebabkan oleh faktor kebaikan. Kita sering menganggap diri kita lebih bermoral, lebih pemurah, dan lebih tulus dibandingkan dengan orang lain. Yang menarik, Semakin tinggi tingkat kesombongan, Semakin sulit pula kita mendeteksinya.

 

Sombong karena materi mudah terlihat, namun sombong karena pengetahuan, apalagi sombong karena kebaikan, sulit terdeteksi karena sering berbentuk benih halus di dalam batin kita. Cobalah setiap hari, kita memeriksa batin kita, pikiran kita.

 

Manusia seperti debu, yang suatu saat hilang dan lenyap, meninggal. Kesombongan hanya akan membawa kita pada kejatuhan yang dalam. Mari berlatih untuk menghindari segala bentuk kesombongan. (http://iphincow.com/2015/09/01/dalam-keadaan-apapun-berusahalah-untuk-tidak-sombong/)-FatchurR

————-

 

Artikel sejenis kami sajikan juga, monggo :

  1. Anak itu adalah guru kehidupanku
  2. Kita Jadi Orang Pelit Tapi Bangga
  3. Keunikan angka dlm basa Jawa

—————-

 

Anak itu adalah guru kehidupanku
Tak tahan air mataku menetes. Sesudah jumatan aku duduk di teras mesjid di kompleks sekolah.
Jamaah mesjid, bubar masing2 dengan kesibukannya. Seorang nenek tua menawarkan dagangannya, kue traditional. Satu plastik Rp 5.000,-. Aku tidak berminat, tapi karena kasihan aku beli satu plastik.
Si nenek penjual kue terlihat letih dan duduk di teras mesjid tak jauh dariku. Kulihat masih banyak dagangannya. Tak lama kulihat anak lelaki dari komplek sekolah itu mendatangi nenek. Aku perkirakan bocah itu baru murid kelas satu atau dua.
Dialognya dengan si nenek jelas terdengar dari tempat aku duduk.
“Berapa harganya Nek?”
“Satu plastik kue Lima ribu, nak”, jawab si nenek.
Anak kecil itu mengeluarkan uang 50.000 dan berkata : “Saya beli 10 plastik, ini uangnya, tapi buat Nenek aja kuenya kan bisa dijual lagi.”
Si nenek jelas sekali terlihat berbinar2 matanya : “Ya Allah terima kasih banyak Nak. Alhamdulillah ya Allah kabulkan doa saya utk beli obat cucu yang lagi sakit.”
Nenek langsung jalan. Refleks aku panggil anak lelaki itu.
“Siapa namamu ? Kelas berapa?”
“Nama saya Radit, kelas 2, pak”, jawabnya sopan.
“Uang jajan kamu sehari 50.000?'”
” Tidak Pak, saya dikasih uang jajan sama papa sepuluh ribu sehari. Tapi saya tidak pernah jajan, karena saya juga bawa bekal makanan dari rumah.” “Jadi yang kamu kasih ke nenek tadi tabungan uang jajan kamu sejak hari senin?”, tanyaku semakin tertarik.

“Betul Pak, jadi setiap jumat saya bisa sedekah Lima puluh ribu rupiah.
Sesudah itu saya selalu berdoa agar Allah berikan pahalanya untuk ibu saya almarhumah. Saya pernah mendengar ceramah ada seorang ibu yang Allah ampuni dan selamatkan dari api neraka karena anaknya bersedekah sepotong roti, Pak”, anak SD itu berbicara dengan fasihnya.
Aku pegang bahu anak itu : ” Sejak kapan ibumu meninggal, Radit?.
“Ketika saya masih TK, pak”
Air mataku menetes : “Hatimu jauh lebih mulia dari aku Radit, ini aku ganti uangmu 50.000 tadi”, kataku sambil menyerahkan 50.000an ke tangannya.
Tapi dengan sopan Radit menolaknya : “Terima kasih, Pak… Tapi untuk keperluan bapak aja, saya masih anak kecil tidak punya tanggungan. Tapi bapak punya keluarga. Saya pamit balik ke kelas Pak”.
Radit menyalami tanganku dan menciumnya.
“Allah menjagamu, nak ..”, jawabku lirih.

Aku beranjak pergi, tidak jauh dari situ kulihat si nenek penjual kue ada di apotik. Bergegas aku kesana, kulihat nenek membayar obat yang dibelinya. Aku bertanya kepada kasir berapa harga obatnya.
Kasir menjawab : ” Empat puluh ribu rupiah..”
Aku serahkan uang yang ditolak anak tadi ke kasir : ” Ini saya bayar. Kembaliannya berikan ke nenek ini”
“Ya Allah.. Pak…”
Belum sempat si nenek berterima kasih, aku sudah bergegas meninggalkan apotik…
Aku bergegas menuju Pandeglang menyusul teman-teman yang sedang keliling dakwah disana.
Dalam hati aku berdoa semoga Allah terima sedekahku dan ampuni kedua orang tuaku serta putri tercintaku yang sudah pergi mendahuluiku kembali kepada Allah. (Suhirto M; dari milis FB ILP)-FR

———–

 

Kita Jadi Orang Pelit Tapi Bangga
Pak Ujang (65), pemilik kios ikan kecil di Jakarta Pusat. Kiosnya sederhana, berupa papan kecil 2,5 x 4 meter. Dia lebih dari 30 tahun berjualan ikan di sana. Di sudut kanan toko terdapat tangga menuju lantai dua. Lantai yang tingginya 1 m merupakan tempat tinggal Pak Ujang dan istri.
Saat saya berkunjung, muncul pembeli bermobil mewah brand Jerman. Dia beli makanan ikan Rp 5.000,-. Ia berusaha menawar. Akhirnya Pak Ujang sepakat Rp 9.000,- per dua bungkus. Pembeli melihat ikan koi 3 warna ukuran 30 cm. Pak Ujang jual Rp. 40.000,-/ekor. Terjadilah tawar-menawar. Pembeli memaksa ingin ikan itu berharga Rp 25.000,-. Katanya, ikan begitu tidak layak dihargai Rp 40.000,-.

Pak Ujang keberatan menjual ikan itu di bawah Rp 35.000,-. Namun, saya menyaksikan betapa kerasnya si pembeli memaksa. Pak Ujang luluh dan menjual 4 ekor dengan harga yang diinginkan pembeli. ”Ikan ini sudah hampir 1 bulan tidak laku,” Jawabnya setelah saya menanyakan alasannya menjual.

Pembeli kembali beli tanaman air yang berharga Rp 5000,- per buah. Begitu gigihnya 4 buah dengan uang Rp 10.000,-, sampai2 Pembeli memasukkan 2 tanaman air tambahan ke plastik. Tidak berhenti di sana, saat hendak membayar, dia pembeli kembali minta dua ekor ikan kecil Rp 5.000,- per ekor untuk mainan anaknya. Dan Pak Ujang akhirnya memberikannya

Banyak orang sering berhemat tiap keping rupiah dari si miskin. Mereka mengganggap harga barang dari pedagang kecil / pasar tradisional tidak pantas dan menawar serta puas karena bisa berhemat Rp 500,- Ketika mereka berjalan ke mal atau supermarket mereka tidak pernah melihat harga atau memprotes secangkir kopi yang harganya bisa lebih 50.000, ,-

 

Atau semangkok bakso Rp. 60.000,-. Mereka bahkan membeli dengan bangga dan malu bila menawar. Mereka menawar dari tukang becak yang harus mengayuh sepeda dengan berat, tetapi tidak pernah memprotes argo taksi yang bergerak tak terkendali.

Setelah itu, mereka akan bicara pengentasan kemiskinan. Mereka salahkan pemerintah atas data kemiskinan yang tidak pernah turun. Di balik itu, mereka mengeksploitasi Si Miskin. Mereka berhemat tiap keping rupiah dari Si Miskin yang bekerja lebih keras, lebih berat, dan panas dari mal untuk memberi makan keluarganya. Mereka menghabiskan uang yang jauh lebih banyak di mal tanpa tanya kepantasannya.

Sarannya, kalau bisa jangan lagi menawar barang yang dijual di pasar atau PKL, selagi wajar, karena hanya mencari sedikit rezeki untuk anak istrinya dirumah dan tidak ambil untung banyak, malah mereka terkadang harus berjalan jauh ber-panas2an untuk mengedarkan dagangannya, bukan pedagang besar atau perusahaan besar yang ambil untung sebesar besarnya tapi kita tidak pernah memprotesnya. (Suhirto M; dari milis FB ILP)-FR

———–

 

Keunikan angka dlm basa Jawa
Misal dalam bahasa Indonesia diucapkan 21, 22,…….sampai 29. Dalam bahasa jawa tidak diberi nama rongpuluh siji, rongpuluh loro, dst; melainkan selikur, rolikur, …, songo likur. Di sini terdapat satuan LIKUR yang tidak lain merupakan kependekan dari LIngguh KURsi, artinya duduk di kursi.
Pada usia 21-29 itulah umumnya manusia mendapat “tempat duduknya”, pekerjaannya, profesi yang akan ditekuni dalam kehidupannya; apakah sebagai pegawai, pedagang, seniman, penulis, dan lain sebagainya.

Ada penyimpangan, bilangan 25 tidak disebut sebagai limang likur, melainkan selawe. SELAWE singkatan dari SEneng-senenge LAnang lan WEdok. Puncak asmaranya laki-laki dan perempuan, yang ditandai oleh pernikahan. Maka pada usia tersebutlah pada umumnya orang menikah (dadi manten).

Bilangan selanjutnya sesuai dengan pola: telung puluh, telung puluh siji, telung puluh loro, dst. Tapi ada penyimpangan lagi nanti pada bilangan 50. Setelah sepuluh, rongpuluh, telung puluh, patang puluh, mestinya limang puluh. Tapi 50 namanya jadi seket. Pasti ada sesuatu di sini.
SEKET dapat dipanjangkan : SEneng KEthonan, suka pakai kethu/tutup kepala/topi/kopiah. Tanda Usia makin lanjut, tutup kepala bisa utk nutup botak, atau rambut memutih. Di sisi lain bisa juga Kopiah atau tutup kepala melambangkan orang beribadah. Usia 50 mestinya seseorang lebih memperhatikan ibadah. Setelah sejak umur likuran bekerja keras cari kekayaan untuk kehidupan dunia, 25 tahun kemudian, yaitu usia 50 perbanyaklah ibadah, untuk bekal memasuki kehidupan akhirat.

Masih ada satu bilangan lagi, yaitu 60, yang namanya menyimpang dari pola, bukan enem puluh melainkan sewidak (suwidak). SEWIDAK dipanjangkan jadi SEjatine WIs wayahe tinDAK. Artinya: sudah saatnya pergi, sudah matang. Siap wafat. (Suhirto M; SUMBER: Diajeng Tatty dr Kawruh Jawa)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close
Close