Iptek dan Lingk. Hidup

Persiapan jaringan 5G

Persiapan Jaringan bagi 5G – Keharusan Ikuti Study Group ITU-T dan ITU-R
Rekan2 yang baik, Di bawah ini ulasan kiriman IEEE yang dapat memberikan inspirasi sekaligus peringatan kepada kita mengenai mendesaknya jaringan TIK bagi IMT-2020 atau 5 G.

5G and the next Billion Mobile Users: A view from Africa
http://www.comsoc.org/ctn/5g-and-next-billion-mobile-users-view-africa?utm_source=Real%20Magnet&utm_medium=Email&utm_campaign=86771690

Persiapan Jaringan Pitalebar
Tanpa persiapan yang mencukupi, padahal sangat dibutuhkan, akan tambal sulam yang sangat merugikan, karena biaya akses menjadi amat mahal. Mengapa?

Saat tekno 5G diperkenalkan maka pitalebar harus tersedia, yaitu 1Gbps (hingga 10 Gbps) ke setiap pelanggan, bila kita ingin memperoleh layanan benda-ke-benda (Internet of Things, IoT) atau komunikasi tipe mesin (machine type communication, MTM). Andai kita mau jadi pasar saja dan beli lagi terus menerus, bukan merupakan penyelesaian, karena jaringan pitalebar harus kita sediakan, tidak mungkin dibeli.

Memang belum kita bayangkan bahwa kecepatan harus demikian tinggi. Ini sama saja saat kita belum mengalami peran dari jalan tol karena kita hanya tahu jalan bukan tol antara Bandung – Jakarta saat itu.
Access Now.

Demikian juga saat kita belum punya SKSD Palapa (bagi generasi yang mengalaminya) yang harus berbicara teriak2 dari kantor telepon ke kantor telepon (bukan dari rumah) bila mau bicara dg kota di luar Jawa. Tidak terbayang dengan SKSD Palapa seperti berbicara dengan teman di sebelah kamar.

Bila kita puas jaringan 5G di Jakarta dan kota2 besa, tidak menyelesaikan, karena basis pelanggan kita akan terbatas, di samping menimbulkan kesenjangan fasilitas, sosial, ekonomi, dan politik. Sebaiknya kita segera sadar dan percaya, “Kekuatan suatu rantai (Bangsa dan Negara) ditentukan oleh kekuatan matarantai terlemah (Desa, Daerah terpencil, dan Pulau Terluar)”.

Kini keadaan banci, kita bangga menggunakan teknolog 4G, di sisi lain jaringannya tidak memenuhi sama sekali, walau perangkat terminalnya 4G. Jaringan nasional keseluruhan kita akan menentukan dapat tidaknya menggunakan 4G yang benar, bukan jaringan kota, bukan asal rumah kita tersambung serat optik (SO), yang akan mubazir.

Jaringan ke luar negeri ikut menentukan kecepatan Internet kita. Dan akses ke LN mahal bila beli eceran. Karena itu sebaiknya dana daya dari tiap operator TIK disinergikan memperoleh akses ke LN bersama yang besar, dan tidak bangga punya akses ke LN sendiri2. Dengan berkas besar kita punya kekuatan negosiasi lebih besar sehingga bisa lebih murah. Bandingkan naik bis atau taksi.

Saat atau jelang 5G diluncurkan, kita punya kabel laut dengan negara besar : AS, Jepang, Eropa, dsb. Ya, negara lain boleh nebeng. Adanya MEA (masyarakat ekonomi ASEAN) kita bersama2 memiliki kapasitas yang amat besar puluhan atau ratusan Tbps (1 Tbps= 1000 Gbps).

Jangan tertawa dahulu. Bila ada 100 juta pelanggan pakai akses 1 Gbps, walau dipakai tidak bersamaan, (1-2% bersamaan, dan 1-2% perlu Internet atau ke LN) maka perlu 10-40 Tbps kapasitas ke LN. Ini teori kuno berjenjang, yang akan tidak berlaku lagi saat pitalebar tersedia, dengan trafik melejit, sama seperti kita bandingkan trafik sebelum ada dan setelah ada jalan tol.

Cerita sedikit jaman dilansirnya SKSD Palapa.
Sebelum ada SKSD Palapa, trafik dari Ternate hanya ke Ambon, itupun beberapa sehari. Demikian juga antara Ambon-Jakarta, dan tidak ada antara Ternate-Jakarta. Tahun 1977 melejit jadi 70 panggilan sehari dari Ternate ke Jakarta. Dan bengkel pertanian dan kendaraan bermunculan, karena kini mereka punya kepastian kapan barang2 dari Gelodok bisa sampai! Asyik bukan?

Kemampuan Akhli Dalam Negeri dan UKM-Manufaktur
Akhirnya saya himbau agar kita mulai percaya kemampuan akhli dan konsultan dalam negeri, dan percaya kemampuan UKM-Manufaktur dalam negeri yang kucel pakainnya dibanding akhli perusahaan multi-nasional yang wangi dan memberikan segala fasilitas.

Informasi dari perusahaan multi-nasional tidak terlepas dari kepentingan industrinya. Misal informasi yang diberikan salah satu perusahaan multinasional ke Menkominfo tentang peluncuran 5G baru 10 tahun lagi, th 2025. Saya katakan ke beliau th 2020. Ini tentu bukan salah Menteri, tapi info yang diberikan perusahaan tsb menjebak kita, agar jangan repot dan agar kita ber-leha2.

Padahal ITU-R membicarakannya sejak 2012. Bisa dipastikan, sebelum dibahas di ITU-R, para akhli industri terkait menyiapkannya minimal 5 tahun sebelumnya. Bayangkan, Perusahaan multi-nasional ini pasti tahu karena juga anggota dari 3GPP. Jadi saat IMT-2000 baru dicanangkan, para akhli industri multi-nasional menggagas IMT-2020 (5G). Silahkan simak tautan ITU di bawah ini. http://www.itu.int/en/ITU-R/study-groups/rsg5/rwp5d/imt-2020/Pages/default.aspx

Mutlak Perlu Ikuti Study Group ITU-T dan ITU-R
Melihat semua tantangan dan perkembangan di atas yang berjalan amat cepat maka tidak bisa tidak, para akhli Indonesia harus mengikuti Kelompok Kerja atau Study Group ITU-T (Sektor Standardisasi) dan ITU-R (Sektor Komunikasi Radio).

Hanya lewat SG-SG ini kita bisa memperoleh perkembangan teknologi baru seperti 5G, agar selain kita teknologi yang tepat untuk kondisi dan geografi Negara kita, juga untuk bisa bertemu dengan para akhli industri LN yang menentukan derap arah teknologi TIK. Informasi dari tangan pertama dari para akhli ini tidak ada dalam buku atau dokumen manapun, kecuali langsung berbicara santai dengan mereka.

Akhli2 kita yang mengikuti SG-SG terkait harus juga didukung oleh akhli-akhli lain, baik dari pemerintah, akademiisi, operator, maupun industri manufaktur, sebagai suatu Tim yang kompak dan konsisten.
Hal ini telah disinggung dalam Forum Kelompok Mastel tentang 5G, hari tgl 14 Des lalu, yang juga dihadiri oleh pak Basuki, Kabadan Litbang Kominfo.

Jaringan 3G Merata Hingga Pelosok
Loh, mengapa kok 3G, bukankah sekarang sudah ada perangkat 4G buatan dalam negeri? Begini ya. Kita sebaiknya transparan dan jujur. Jangan besar pasak dari tiang, nanti bisa roboh. Bila 4G benar dijalankan maka akses ke tiap pelanggan 100 Mbps. Mana ada kecepatan ke pelanggan begitu di Republik kita.

Yang kini ada itu pesawat yang kita beli itu misalnya 4G, tetapi kinerjanya (performance) syukur bila bisa 3G (2 Mbps). Teknologi IMT-2000 itu adalah 3G. Sesuai makalah pak Basuki ke Global Forum – “National Strategy Development for 5G, Adoption”, th 2014 ada 340 sambungan selular, dengan komposisi BTS 3G (41%) dan 2G (59%).

Yang urgen dan rasional adalah memeratakan jaringan nasional bergerak hingga pelosok dengan 3G, sambil menyiapkan diri dengan Penelitian semua pemangku kepentingan untuk 5G. Baiklah produk dalam negeri 4G dipakai sejauh mungkin sehingga tidak merugikan pelanggan, walaupun tidak bisa memberikan pelayanan penuh 4G.

Penelitian dan Pengembangan (R&D) 5G
Yang dimaksud penelitian dan pengembangan (R&D) 5G ini bukan beli chip lalu assembling. Hal ini terus terjadi dengan teknologi2 bergerak sebelumnya. Riset ini menyangkut merancang (design) dari awal sehingga konten lokal jadi 70an%. Chipnya bisa dibuat di LN dg nilai hanya sekitar 10%
[Sebagai bandingan, perangkat Sentral dan Terminal NGN (Next Generation Network) hampir 10 tahun lalu dibuat TKD, suatu perusahan UKM dengan konten lokal 90%]

Sebaiknya kita siap berbagai tekanan dari luar (vendor, pejabat, asosiasi, dll) seperti saat WiMax 802.16d ditetapkan. Saat itu pemerintah (Dirjen Postel, pak Basuki) menyediakan dana 100 M untuk penelitian oleh ITB, UI, dan ITS. Hanya Telkom yang taat menggunakannya (beroperasi terbatas). perusahaan bukan BUMN sengaja mengulur waktu penggelaran karena menunggu diizinkannya WiMax 802.16e.

Tujuannya bukan membuat perangkat bergerak (mobile), melainkan mengganti kabel fisik ke rumah atau gedung, dengan sambungan radio. Dan WiMax 16d itu paling tepat saat diputuskan bersama, termasuk operator2 saat itu. Tapi karena iming2 vendor (mereka tidak salah karena jual barang) maka buyar semua. Akhirnya? WiMax 802.16e buyar karena disiap oleh WiMax 802.16m dst, bukan? Dan WiMax pun sudah diganti LTE dsb, bukan?

Andaikata industri lokal yang membuat WiMax 802.16e benar punya tenaga dan hasil yang mampu mendesign dalam negeri, tentu beda. Mereka bisa segera menyesuaikan diri, tetapi apabila harus beli chip atau design dari chip dengan lisensi industri luar negeri, ya tentu beda, bukan?

Saya hanya menyarankan agar peneliti teknologi 4G yang di Batam, dimanfaatkan untuk penelitian dan pengembangan 5G, karena mereka sedikit banyak sudah ada modal, walau rancangan tidak sepenuhnya mereka buat sendiri atau tidak memperoleh dari lisensi (apabila salah tolong dikoreksi).

Peran IEEE Indonesia Section dalam 5G
IEEE adalah singkatan dari Institute of Electrical and Electonic Engineers yang berkedudukan di AS.
Ada baiknya saya jual obat tentang peran IEEE Indonesia Section. IEEE Indonesia Section telah disahkan oleh Board of Director IEEE (Pusat) pada 16 Februari 1988, saat Ir. Soekarno Abdulrachman menjadi Dirjen Postel, dan bahkan menjadi Ketua (Chairman) yang pertama.

Di sisi lain karena ada ketentuan dari Depdagri bahwa Dirjen sebagai penentu kebijakan, tidak boleh menjadi Ketua organisasi kemasyarakatan, maka diganti oleh Ir. Ahmad Djauhari alm. Oleh karena setiap ormas saat itu harus berdasarkan Panca Sila, maka pada saat pengesahan oleh IEEE Pusat, dan IEEE Region 10 (Asia Pasifik) perlu dijelaskan, mengapa dasar Peraturan Organisasi (By Laws) IEEE Indonesia Section adalah Panca Sila sesuai UU no.8 th 1985 tentang Organisasi Kemasyarakatan.

Dengan surat no. 230/2217 tgl 5 September 1988 Direktur Pembinaan Masyarakat Depdagri, dinyatakan bahwa Peraturan Organisasi IEEE Indonesia Section telah memenuhi ketentuan UU no. 8 tahun 1985. Peraturan Organisasi ini menjadi satu kesatuan dengan Constitution dari IEEE di Pusat. Dan pada bulan Oktober 1988, Regional Activities Board IEEE (Pusat) mengesahkan By Laws IEEE Indonesia Section.

Dengan demikian maka IEEE Indonesia Section dapat tampil mewakili IEEE untuk kepentingan dan atas anggota2nya di Indonesia. Demikian juga dapat melakukan perjanjian hubungan dan kerjasama dengan Pemerintah, Lembaga atau Instansi, dan organisasi kemasyarakatan (termasuk profesi) lain.

Anggota penuh IEEE sesuai ketentuan bisa bukan Engineer, selama ybs selama profesinya adalah TIK, sedangkan yang lain bisa Associate Member. Di samping itu masih ada keanggotaan mahasiswa (Student Member), termasuk yang menjalani studi S2 dst (Graduate Student Member).

Untuk menjadi Anggota bisa daring (online), dan untuk kiriman majalah2 dan dokumen lain secara elektronik (saja) hanya dikenakan iuran $50. Tentunya sebagai anggota memperoleh potongan2 apabila menghadiri Conference, Seminar dll.

Seperti diketahui IEEE adalah organisasi profesi yang tidak terikat dengan atau dikendalikan oleh pemerintah atau perusahaan tertentu, di tingkat Pusat, Wilayah, dan nasional, serta memiliki kekayaan pengetahuan dan kepustakaan yang terbesar di dunia. Dan seperti kita ketahui juga membuat standar IEEE sendiri, dengan tentunya memperoleh pengakuan dari ITU-T.

Dengan hubungan ke dalam negeri dan akses ke dunia luar, seperti Pengurus dan Section lain Regional Asia Pasifik khususnya (Region 10), Pusat, dan Section dari Region lain (AS sendiri ada 6 Region (53% dari jumlah seluruh anggota), maka IEEE Indonesia dapat dengan mudah mengundang para akhli luar negari untuk memberikan wejangan dan paparan atau bantuan mereka. Hubungan sesama anggota IEEE tentunya sangat dekat, berbeda apabila dia misalnya bukan anggota.

IEEE Indonesia Section juga memiliki berbagai Kelompok Bidang Ilmu (Chapter) seperti Communications, Computer, Circuit and Systems Engineering in Medicine and Biology, Solid State Circuits, Control System, Aerospace & Electronic Systems, Geoscience & Remote Control Sensing, Microwave Theory, Antenna & Propagation, Robotics & Automation, Education, Electronic Devices, Power Electronics, Signal Processing.

Selain itu walaupun tidak berada langsung di bawah Section melainkan melaporkan langsung ke Pengurus Region 10, yaitu Student Branches yang tersebar di Universitas2 UI, ITB, TelU, GAMA, UNDIP, ITS, BINUS, Udayana, USU, UNHAS, Politeknik Mekatronika Sanata Dharma, Dina Nuswantoro, Swiss German University, Univ. Pendidikan Indonesia, Atma Jaya, Univ. Islam Indonesia, Univ. Brawijaya, Institut Teknologi Nasional Bandung in Women Engineering.

IEEE Indonesia COMSOC Chapter Indonesia Section juga telah mengadakan beberapa kali pelatihan untuk 5G, yang a.l. juga diikuti staf Balitbang Kominfo. (Salam, AphD)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close
Close