Islam

Perang Uhud

061 Perang Uhud yang terjadi pada tahun ke 3 Hijrah banyak ditulis para ahli sejarah Rasul. Pihak Quraisy menganggap peperangan ini dimenangkannya. Kedua pihak kehilangan 70 pejuangnya, namun kaum Muslimin kehilangan pahlawan kesayangan Nabi, paman sekaligus saudara sepersusuan, pembela utamanya, Hamzah bin Abd.Muthalib.

 

Nabi terluka pada perang ini. Nabi melalui isyarat mimpinya memilih tinggal di dalam kota dan bertahan, namun pengikut Nabi mendesak menyerbu keluar karena mereka tidak sudi berpangku tangan melihat tentara Quraisy menghancurkan ladang2 gandum mereka yang subur serta merampas dan menyembelih ternak mereka se-mena2.

Perang ini merupakan perwujudan dari berbagai niat yang tersimpan dalam hati pelakunya. Niat Abu Sofyan yang banyak membiayai perang ini adalah mengamankan jalur perdagangan Mekah Syria yang diganggu kaum Muslimin yang terusir dari Mekah. Mekah bisa bangkrut dan kelaparan bila jalur perdagangan itu terganggu.

Sedang bagi Hindun, istri Abu Sofyan, ia ikut maju perang untuk membalas dendam atas kehilangan ayah, putra dan pamannya dalam perang Badar satu tahun yang lalu. Dendamnya hendak ditumpahkan
terutama kepada pahlawan perang Badar yang paling dibencinya, Hamzah bin Abd.Muthalib.

Bagi orang-orang Badui yang direkrut Abu Sofyan untuk dijadikan perajurit Quraisy semata-mata niat mereka adalah mendapatkan bayaran. Dengan cara yang mudah mereka akan dibayar dengan harta dan ternak dalam jumlah yang tidak sedikit. Sedangkan bagi prajurit perang yang tangguh seperti Khalid bin Walid, perang ini adalah kewajibannya berpartisipasi dalam membela tanah Mekah.

Bagi El Wahsyi, seorang budak dari Abissinia yang mahir melempar tombak ia berniat ikut berperang semata-mata untuk kebebasannya. Hindun menjanjikan hadiah besar dan kebebasannya bila ia berhasil membunuh orang yang paling dibencinya, Hamzah.

 

Wahsyi berniat hanya mencari Hamzah, menguntitnya, menunggu kelemahannya dan membunuhnya dengan lemparan tombaknya yang jarang meleset. Ia tidak ada hubungannya dengan perang ini. Bagi para sahabat Nabi, perang ini untuk membela Nabi dan membela Islam, agama yang dipercayainya. Mengusir musuh yang datang mengepung mereka.

 

Bagi yang tidak ikut perang Badar, ada niat menunjukan kepada Nabi bahwa merekapun siap berjuang. Ada yang berniat untuk mencari surga, bila ditakdirkan gugur dalam perang ini seperti Hamzah, Anas bin Nadkir, Abu Dejana, Abu Talha.

 

Ada pula yang terbentik niat mendapatkan harta rampasan seperti yang pernah diperoleh saat perang Badar. Sedang bagi kaum munafik dan kaum Yahudi yang memang dari awal enggan ikut dalam perang ini, kemudian memang mengundurkan diri, sehingga dari 1000 orang pejuang yang maju perang, tinggal 700 saja melawan tentara Quraisy yang jumlahnya 3000 orang.

Nabi memilih sendiri medan perangnya, dengan menyelinap melalui ladang palem milik Bani Haritha. Diam-diam pasukan muslimin berjalan memutar menuju ke Jabal Uhud. Pasukan Islam memunggungi Jabal Uhud, Nabi menempatkan 50 orang pemanah tangguh diatas bukit yang menjorok ke lembah, tempat yang strategis untuk mengawasi seluruh medan.

 

Nabi sudah berpesan, pasukah pemanah harus tetap ditempat, apapun yang terjadi. Hanya turun dengan perintah Nabi. Dihadapan pasukan adalah lembah Ainein. Sejarah kemudian mencatat bahwa pada awalnya tentara Muslim mendapat kemenangan dan tentara Quraisy meninggalkan harta rampasan dilembah.

 

Kemudian sebagian pemanah mengabaikan perintah Nabi, tergiur oleh harta rampasan, berlarian turun
berebut. Khalid yang cerdas melihat kesempatan emas ini dan dengan pasukan berkudanya dengan cepat mengelilingi bukit naik dari arah berlawanan dan menghancurkan sisa pasukan pemanah yang masih di jaga oleh Ibnu Jubair yang sebelumnya sia-sia menahan anak buahnya turun.

 

Situasi cepat berbalik, Nabi tersudut di salah satu celah bukit dengan luka di pipinya. Abu Talha dan Abu Dejana gugur dengan tubuh penuh luka melindungi Nabi. Nabi sendiri selamat namun pasukan Islam mengalami kerugian besar.

Nabi sempat diberitakan gugur, sehingga meruntuhkan semangat para sahabatnya, Abu Bakar, Umar dan Ali, namun Anas bin Nadhir menggelorakan kembali semangat mereka dan nekat menghambur ke pasukan musuh seraya berpesan kepada sahabat yang lemas dan bingung, “Nabi wafat? Baiklah, Pikirkan, setelah Nabi wafat apa yang kau lakukan? Ayo, matilah menyusul Beliau”.

Semua tergugah kembali apalagi mengetahui Nabi selamat, segera semua merangsek menuju ke tempat Rasul bertahan. Perang segera berakhir setelah tentara Qraisy tidak mampu lagi mendekati Nabi. Usai perang, Nabi memerintahkan semua jenazah pahlawan dikuburkan di tempat itu. Nabi terkejut ketika melihat jenazah pamannya yang tidak utuh lagi, bagian-bagian tubuhnya banyak diiris oleh Hindun.

 

Dadanya robek dan hatinya tercabut. Nabi sempat berdoa untuk membalas dendam, namun Allah melarang Nabi membalas dendam dan memintanya untuk bersabar. Bersabar lebih utama dari balas dendam. Kelak saat Nabi menguasai Mekah Abu Sofyan dan istrinya ini diampuni.

Kini, para pejiarah Haji atau Umrah banyak yang menyempatkan diri untuk mengunjungi makam pahlawan Uhud mengenang kepahlawanan dan seraya mendo’agar Allah SWT menempatkan para syuhada ini di tempat yang terbaik. Wallahu Alam bi’shawab. (Sadhono Hadi; dari grup FB ILP)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Enter Captcha Here :

Back to top button
Close
Close