Pengalaman Anggota

Tualang Tangerang

Kesempatan untuk mencicipi MRT Jakarta datang juga ketika seorang diri saya harus menghadiri sepupu punya gawe mantu di Tangerang. Pertama buka petanya dulu, ada banyak jalur berbagai warna, Tangerang termasuk di dalamnya (jelas saja, namanya juga commuter JabodeTAbek), ada dua alternatif jalur untuk ke Tangerang dari Jatinegara.

Kedua, konfirmasikan kepada konsultan public transportation kita, Angku Rizal Chaniago, plus bertanya beberapa hal. Jawaban mantab didapat, bismillah berangkat.

Turun dari Argo Parahyangan di Jatinegara, memang kudu keluar stasiun dulu untuk membeli tiket Commuter, baru masuk stasiun lagi. Di loket sebutkan saja tujuan akhir, Tangerang, walaupun dalam proses mencapai tujuan itu bergonta-ganti jalur.

Berapa kali ganti kereta dan jalur yang mana itu pilihan calon penumpang, makanya pelajari petanya. Yang mengherankan adalah tarifnya. Jatinegara – Tangerang cuma 13 ribu, itupun nanti dikembalikan 10 ribu di stasiun tujuan. Tiga ribu perak, man ! Di lingkungan Commuter ini rupiah berasa amat berharga.

Trip pertama, naik jurusan Jatinegara – Bogor nanti turun di Duri setelah kereta singgah di 7 stasiun, setengah menit setiap stasiun. Trip ini makan waktu 35 menit. Ganti kereta, trip kedua Duri – Tangerang singgah di 6 stasiun, menghabiskan 30 menit.

Pulangnya dari Tangerang harus ke Gambir karena Argo Parahyangan tak melayani penumpang dari Jatinegara, dan karena Commuter tidak berhenti di stasiun Gambir maka cari stasiun yang paling dekat dengan Gambir.

Di resepsi pernikahan rupanya petualangan kereta ini menjadi bahan obrolan menarik. Para kerabat itu berembug tentang rute mana sebaiknya yang akan saya ambil untuk ke stasiun paling dekat dengan Gambir. Tercapailah kesepakatan sbb :

Saya diantar oleh kerabat (yang tinggal di kawasan Situ Gintung) ke Stasiun Pondok Ranji, lalu naik jurusan ke Tenabang, dari sini terus ambil Bajay ke Gambir. Itu rute yang paling efisien, katanya. Saya manut.

Secara keseluruhan saya puas atas layanan Commuter ini. Waktu tunggu di stasiun T (transit) sangat singkat, ketika saya turun, kereta pengganti telah tersedia. AC berfungsi dengan baik, pintu buka-tutup kereta tak ada yang macet, kebersihan terjaga, dan ada info tentang next stop melalui speaker dalam gerbong. Akan lebih bagus kalau setiap kereta diberi identitas sesuai warna jalur dalam peta resmi. Misalnya, jurusan Jatinegara—Bogor diberi nama “Jalur Kuning”, Kota—Depok jalur merah, dst.

Penumpangnya juga perlu ‘diperbaiki’. Ketika hendak turun dari gerbong di stasiun Duri dan stasiun Tenabang, saya harus ‘berjuang keras’. Calon penumpang tak peduli dengan aturan memberi kesempatan penumpang untuk turun dulu sebelum mereka naik ke gerbong. Mereka langsung merengsek masuk. Dengan demikian, laporan pertanggungjawaban telah dibuat. (Zaenal Arifin)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.




Enter Captcha Here :

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close
Close