Islam

Kafan itu tak bersaku

Kafan itu tak bersaku. Tak bisa kita masukkan uang barang serupiahpun sebagai bekal dalam perjalanan kita kelak, karena ketika kita mati. Allah tak melihat seberapa banyak harta kita tapi hanya melihat apa yang pernah kita beri.

Kafan itu tak berwarna-warni. Tak dapat kita fashion-kan, ketika kelak tubuh kita diam terbujur kaku tanpa ada daya upaya. Karena ketika kita mati, Allah tak menilai seberapa indah dan mahal pakaian duniawi kita, yang kita kenakan tetap saja kain putih yang murah dan bahkan tak berjahit…

Kafan itu tak bertutorial, tak butuh kreatifitas ketika dikenakan. Karena ketika kita mati, Allah tak menilai keren atau tidak manusia ketika mengenakannya. Pakaian taqwa manusia bukan karya designer ternama, tapi secarik kain putih polos. KAIN KAFAN ITU PUTIH WARNANYA. seperti harapan kita semua, semoga putih hati dari khilaf dan dosa, Agar kelak pantas masuk ke dalam Jannah Allah Azza Wa Jalla.

Kain Kafan itu sama bagi semua manusia. Sama harganya, Sama warnanya, Sama cara memakainya…
Tak bisa kau selipkan apa-apa didalamnya. Kain kafan akan menutupi sekujur tubuh dari kaki hingga kepala… Masih adakah rasa angkuh dalam diri kita?

Masih adakah rasa benci dalam diri? Masih adakah rasa bermusuh dalam diri kita? Masih menganggap diri kita lebih mulia dari pada yang lain ??? dan lebih mulia dari orang yang selama ini kita rendahkan dan kita abaikan? Semoga Allah berkenan membersih kan hati kita dari penyakit hati. (Djohan Noor; dari grup WA-78)-FR
———

Sajian IBO lainnya : Menilai orang lain
“Syaikh.” ujar seorang pemuda.
“Mana yang lebih baik, seorang muslim yang banyak ibadahnya tapi akhlaqnya buruk ataukah seorang yang tak beribadah tapi amat baik perangainya pada sesama.”
“Subhaanallah, keduanya baik”, ujar sang Syaikh sambil tersenyum.

“Mengapa bisa begitu?”
“Karena yang tekun ibadah itu boleh jadi kelak dibimbing Allah, berakhlaq mulia bersebab ibadahnya.
Dan karena orang baik perilakunya boleh jadi kelak dibimbing Allah untuk semakin taat kepadaNya.”
“Jadi siapa yang lebih buruk?”, desak si pemuda.

Airmata mengalir di pipi Syaikh. “Kita Anakku”, ujar beliau. “Kitalah yang layak disebut buruk; sebab kita gemar sekali menghabiskan waktu untuk menilai orang lain dan melupakan diri kita.” Beliau terisak. “Padahal kita akan dihadapkan pada Allah dan ditanyai tentang diri kita, bukan tentang orang lain (Ny. Enny Marius; dari grup WA-Adance)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.




Enter Captcha Here :

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close
Close