Selingan

Pendekatan ala Kang Yoto

Sungguh saya merasa beruntung dapat mengikuti acara Global Forum tangal 11 sd 12/2/2014 di MIT Boston USA. Sebuah forum yang disemangati oleh keinginan untuk membaca ulang perjalanan sejarah umat manusia dan bagaimana mewujudkan masa depan yang lebih baik.

 

Mengapa kini manusia mengalami krisis yang tidak pernah diinginkannya. Otto Scharmer, guru besar, dosen senior MIT, penulis buku Leading By Emerging Future yang kini banyak mengispirasi pemimpin dunia, salah seorang penggagas forum ini mengemukakan adanya krisis dalam bidang lingkungan hidup.

 

Salah satunya konsumsi manusia yang melebih kemampuan produksi alam. Krisis sosial ekonomi yang ditandai pertumbuhan GDP tapi tidak disertai peningkatan kesejahteraan. Lalu krisis psikologis yang ditandai dengan tingginya angka bunuh diri yang meningkat.

 

Otto mengatakan akar masalahnya adalah adanya keterbelahan dan tidak nyambungnya manusia dengan lingkungan alamnya, manusia dengan lingungan sosialnya, dan pribadi dengan dirinya. Sejarah telah dibangun dengan semangat ego.

Untuk itulah diperlukan upaya sistematis bersama, sebuah upaya yang tidak dapat dilakukan dengan cara tambal sulam melainkan dengan perubahan mendasar mengubah ego sistem ke eco sistem. Kesadaran ini harus dilakukan dengan saling mendengar, menyatukan niat.

 

Membuka semua kemungkinan sinergi gerakan dengan semangat kebersamaan dan melakukan langkah kongkrit prototype dalam bidang masing masing atau bersinergi bersama, dalam prototype lingkungan hidup, sosial dan spiritualitas.

Dalam forum inilah saya merasa berbangga hati jadi WNI. Suyoto, Bupati Bojonegoro, atau Kang Yoto, begitu dia dipanggil menjadi pembicara utama yang sangat menginsipirasi. Kang Yoto (KY) diminta berbicara dua sesi. Sesi pertama dihadapan seluruh peserta, 250an orang dari berbagai dunia dan latar belakang yang hadir langsung dan ribuan lewat steeming.

 

KY diminta bicara tentang cara mengelola pemerintahan yang demokratis. Sesi kedua, menjelaskan pengalamannya dalam pembangunan jalan paving yang berbasis masyarakat sebagai sebuah contoh program pembangunan yang memenuhi semangat eco sytem yang berdampak kebahagiaan bagi semua.

Uraian KY memperjelas dan meyakinkan peserta, membangun ekonomi politik bersemangat eco system itu nyata dan bisa dilakukan. Saya menyaksikan peserta dari berbagai negara itu mengapresiasi. Saya merasa Otto Scharmer sangat jeli membaca Bojonegoro, dan menjadikannya sebagai model dunia untuk perkembangan demokrasi, yang disebutnya demokrasi 4.0.

Apa yang menarik dari KY, ada empat hal yang saya catat:
Pertama, bagaimana meraih kekuasaan dengan cara murah. Masalah ini dipandang penting, mengingat biang kerok pembajakan demokrasi sebenarnya dimulai dari biaya demokrasi yang mahal, yang kemudian menyebabkan banyak politisi tersandera kepada penyumbangnya.

 

Alih-alih bekerja untuk kesejahteraan semua, lebih baik fokus melayani kepentingan penyumbangnya. Fenomena ini terjadi di hampir seluruh dunia. Kang Yoto menjelaskan, kunci politik itu kepercayaan. Bila seorang politisi dipercaya maka semakin murah biaya politiknya.

 

Namun bila kepercayaan rakyat rendah maka semakin mahal biayanya. Kepercayaan diperoleh dengan cara menyatu dengan rakyat, lewat mendengarkan langsung seluruh problem rakyat, merumuskan bersama rakyat agenda prioritas, dan menjaga integritas dan intensitas komunikasi langsung dengan rakyat.
Kedua: soal pengalaman KY mengelola birokrasi. KY menjelaskan pengalamannya ketika memenangkan pilkada melawan incumbent, dimana pendukungnya menganggap para birokrat sebagai musuh. Dalam hal ini KY memilih memaafkan semua birokrat yang tidak mendukungnya, kemudian merangkulnya untuk melayani rakyat.

 

Dengan budaya baru: pantang mengatakan bukan tanggung jawabnya, pantang mengatakan tidak ada uang, pantang mengeluh dan berusaha sekuat tenaga menjadi orang baik dan benar, tidak korup. Inilah yang kemudian melahirkan semangat eco system di kalangan birokrat.

Ketiga, bagaimana melaksanakan pola pemerintahan yang berbasis eco system. Untuk ini KY menjelaskan 4 mekanisme: menjaga hubungan langsung dengan rakyat lewat dialog, kunjungan lapangan (blusukan), membuka akses dengan memberi nomor telp semua pejabat termasuk KY  kepada semua rakyat.

 

Lewat cara ini rakyat dapat mengemukakan masalahnya, mengontrol semua pelaksanaan pemerintahan dan cari solusi bersama. Dengan cara ini antara pemerintah-rakyat, dan kekuatan sospol lain terhindar dari kompetisi dan konflik radikal. Sebagai gantinya terbuka proses co creating dan dialog produktif menyelesaikan masalah dan memujudkan mimpi bersama, kebahagiaan berkelanjutan semua pihak.

Keempat, atas permintaan Otto Scharmer, KY diminta menjelaskan bagaimana melakukan transformasi spiritualitas untuk mendorong lahirnya kepribadiaan yang utuh dan saling nyambung dengan lingkungan sosial dan lingkungan alam. Spiritualitas harus menjadi basis ego system. Untuk inilah saya benar-benar terkejut. KY menemukan mekanisme self managemen lewat surat alfatehah.

 

KY menguraikan alfatihah secara luar biasa. Dalam forum itulah saya mengerti universalitas ajaran Islam, surat alfatihah. Untuk ini KY telah membuat pelatihannya, yang Otto Scarmer telah mengikuti langsung, KY juga menulis buku alfatihah codes yang saat ini bisa dibeli di toko buku, dan bahkan senam alfatihah.

Uraian tentang ajaran Islam ini telah membukakan mata banyak peserta, untuk jauh lebih apresiatif melihat muslim dan Islam. MIT meninta KY setelah penutupan wawancara khusus untuk bahan kuliah mahasiswa MIT.

Di akhir sesi pertama, Otto Scharmer sempat bertanya kepada Kang Yoto, are you politician, educator or relegius leader? Kang Yoto menjawab: it is I am. Kepada saya Kang Yoto mengatakan untuk kontek Bojonegoro, seorang pemimpin itu rasanya tidak cukup dengan hanya jadi politisi, tapi harus juga jadi pendidik, pemberdaya, pengayom, pelindung dan pelayan masyarakat. Itulah semangat eco system.

Tulisan ini lahir sebagai penghargaan seorang warga negara Indonesia kepada seorang anak negeri yang bukan hanya telah dan sedang berkarya, namun juga menginsipirasi dunia. KY, tokoh muda, yang anak desa dan anak Indonesia, mengajarkan demokrasi kepada dunia. (Endartono; dari grup WA-VN; sumber Adrianto Machribie (Dirut MetroTV;  https://ndeso94.com/2014/02/22/are-you-politician-educator-or-relegius-leader-kang-yoto-menjawab-it-is-i-am/)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.




Enter Captcha Here :

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close
Close