Islam

Bermenung-Sarang rayap vs Sarang lemak

// Sarang rayap itu ya tidak bisa dibandingkan dengan sarang lemak, mohon maaf ini hanya sebuah ibarat, sebuah perumpamaan saja //

Di Papua, ada sarang rayap besar dan tingginya bisa 5 meter. Wow, besar dan tinggi! Berapa hari diperlukan satu kerajaan rayap membuatnya? Bukan sehari, bukan sebulan dan setahun, mungkin puluhan tahun. Mengapa demikian? Sarang itu dibuat sedikit demi sedikit (dengan mulut), akhirnya seperti bukit.

Kalau diibaratkan sarang rayap, manusia itu berbuat baik walau kecil, namun karena dilakukan tiap hari, setiap saat akhirnya jadi banyak. Misalnya : tersenyum ke orang lain, menyapa orang lain, menyalakan lampu di luar rumah pada malam hari, menyingkirkan batu di tengah jalan saja sudah berpahala.

 

Apalagi kalau orang berbuat lebih besar dari itu, misalnya menyumbangkan uang, harta, pikiran dan tenaga untuk kemaslahatan orang banyak, tentu lebih besar lagi. Ibarat membuat sarang rayap, bahannya bukan diangkut dengan mulut rayap tapi dengan sekop. Cepat besar.

Kini kita lihat fenomena lain. Ada yang sehat walafiat, tiba2 terkena serangan jantung koroner? Lho, kok bisa? Koroner itu artinya di saluran darah (dari jantung) ada tumpukan lemak di-pinggir2nya, lama2 tersumbat, sehingga darah dari jantung mental, jantungnya yang terkena. Tumpukan lemak di pinggir saluran darah itu tidak terjadi sehari dua hari, namun puluhan tahun juga.

Jika diibaratkan seperti timbunan lemak itu, orang juga setiap hari bisa berbuat dosa, misalnya mengumpat, omong kasar, mengambil/menyerobot jalan orang lain (dalam berlalu lintas), membuang sampah (termasuk asap) sembarangan, yang merugikan orang lain. Hal seperti ini kalau dilakukan setiap hari berkali-kali akan menumpuk dosa juga.

Dosa yang lebih besar dan yang paling “gurih”, “enak” dan tidak terasa dilakukan adalah membicarakan aib (istilahnya gibah*) : kelemahan, kekurangan, kesalahan orang lain. Itu kalau aib tersebut benar adanya. Kalau aib tidak benar, itu namanya fitnah dan merupakan dosa besar.

Demikianlah, pahala dan dosa kecil dilakukan setiap orang setiap hari tanpa terasa (ini di luar perbuatan baik atau jelek yang besar yang tentunya terasa). Dosa dan pahala kecil ini semakin lama semakin menumpuk seperti sarang rayap di Papua atau sarang lemak di tubuh itu.

Maka seyogyanya kita mengurangi berubuat dosa yang kecil (apalagi dosa besar) seperti megurangi kata kasar, mengumpat, membuang sampah (termasuk asap) sembarangan, menyerobot jalan orang (dalam ber-lalu lintas), menyerobot antrian, membuat / menyebarkan berita yang meresahkan, dan seterusnya.

Sebaliknya, kita upayakan menambah dan menambah pahala kecil (apalagi juga yang besar), misalnya : banyak tersenyum, menyapa orang, bersilaturahim, membersihkan rumah dan lingkungan, membantu tetangga, berbagi tulisan/ berita yang menghibur & menyejukkan, dan seterusnya.

Semoga ke depan dosa kita tidak bertambah besar, namun justru pahala yang jauh lebih besar dari dosa. (Widartoks 2017 ; dari grup FB-ILP)- FR

Catatan : kalau di Islam gibah disamakan dengan memakan bangkai daging saudaranya sendiri, jadi bukan dosa kecil lagi, namun sudah dosa serius. (Widartoks)

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.




Enter Captcha Here :

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Lihat Juga
Close
Back to top button
Close
Close