Selingan

Kandang Sapi (FE 035)

Jaman dulu, makan di restoran adalah kemewahan. Paling2 beli bakmi goreng satu bungkus, di rumah dibagi-bagi se keluarga, setiap orang kebagian dua sendok. Usai makan tangan jangan buru-buru di cuci, karena bau minyaknya masih melekat dan sedap tercium.

Kemudian tamu restoran tidak lagi menjadi ciri orang kaya, orang kebanyakan mampu duduk di restoran. Tapi tamu mulai bosan duduk di meja kursi, muncul-lah ide lesehan. Jadi, rame-rame restoran membuat tempat duduk ngesot dibawah, persis seperti pak Tani yang makan pagi di pematang sawah.

 

Memang lahap makan lesehan, apalagi bagi mas Tani yang habis kerja keras mencangkul. Nasi pera-pun (yang mawur seperti pasir) plus ikan asin yang di bakar, lebih enak dari pada makan di atas meja di rumah.

Lalu Restoran menemukan pengunjung lebih senang lagi bila duduk lesehan-nya di saung2 atau gazebo dengan kolam2 ikan disekelilingnya. Persis seperti kenangan jaman dulu, di desa, ada sawah dan ada kolam. Bahkan restoran berlabel “pinggir sawah” pernah ngetrend dan sangat disukai penikmat kuliner.

Percaya atau tidak, kini yang lagi rame dikunjungi adalah restoran yang menyediakan makan di bekas kandang sapi. Kandang sapi yang kokoh, terbuat dari blandar kayu yang besar, yang tidak akan roboh disruduk sapi yang bobotnya hampir satu ton, diangkut dan di pajang di restoran.

 

Padahal, kandang sapi di desa, mungkin tempat yang paling menjijikan, tletong (kotoran sapi), jerami dan rumput, bercampur menjadi satu. Lalatnya pun besar dan berwarna hijau. (SadhonoH; dari grup BPTg)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Enter Captcha Here :

Back to top button
Close
Close