Pengalaman Anggota

Cerita waktoe itoe-Agustusan di RSJ

// Cerita ‘Waktoe Itoe’ ini cerita tentang Indonesia di waktu yang lalu. Kita batasi paling tidak 40 tahun yang lalu ya. Anda juga sangat ditunggu cerita pengalamannya. Cerita bisa apa saja, pokoknya menarik. Bisa juga mengambil cerita sendiri, orang tua, kakek-nenek, guru, dsb. //

Jaman dulu, sampai 1970-an, perayaan Agustusan (memperingati HUT RI) meriah di-mana2. Semua  berusaha merayakannya. Mungkin waktu itu banyak pelaku atau saksi sejarah yang tahu “mahalnya” kemerdekaan itu. Tak terhitung jumlah korban nyawa, harta dst. Juga tidak enaknya hidup dijajah.

Hampir semua kampung, kota, kantor merayakannya. Karena waktu itu belum ada (atau jarang) hiburan TV termsuk kaset, maka hiburan yang ada kebanyakan ya “live” alias langsung. Ada lomba2, menyanyi, menari, wayang kulit, wayang golek, wayang orang dsb.

Kalau menari tari Jawa (Sunda, Bali) ya diiringi gamelan beneran, bukan dari kaset. Saat itu kampung2 atau perkantoran memiliki gamelan dan penabuh, penari, pemain wayang dari lingkungan kampung atau kantor itu. Di kota saya, Magelang, ada Rumah Sakit Jiwa (RSJ) terbesar di Indonesia. Di RS ini tiap tahun diselenggarakan Agustusan dengan meriah.

 

Ada lomba2 (makan kerupuk, panjat pinang, balap karung dsb), juga seni tari dan nyanyi, kuda lumping, wayang kulit semalam suntuk, dst. Lama acara beberapa hari. Penontonnya bebas, siapapun boleh menonton. Kuda lumping (memanggil dari tempat lain) dilaksanakan di lapangan wayang kulit di aula.

Di tanggal 17 itu pentas seni di panggung di aula. Penontonnya bebas. Yang tampil, kebanyakan anak2 pegawai dan pasien/gila. Orang gila yang mampu menyanyi / menari. Pentas seni ini menarik anak kecil, maka penontonnya banyak. Baik warga kompleks RS, kampung sekitar dan yang kebetulan lewat di depan RS yang terletak di pinggir jalan raya itu.

Kalau ada penyanyi, ya menyanyi saja, tidak diiringi musik, sebab waktu itu “keyboard” gak ada. Band di kota itu hanya beberapa grup dan  mahal kalau memanggilnya. Palingan gitar. Kalau tari Jawa diiringi gamelan Jawa secara live yang memang ada di sana atau kaset jaman dulu yang bentuknya besar.

Perlu disampaikan bahwa di RSJ ada pasien “abadi” yang tidak pulang. Mereka ini tidak sembuh 100%, kadang ada yang bicara sendiri, atau senyum2, dan tetap tinggal di RS. Ada yang sembuh 100%, namun ketika pulang keluarganya tidak menerima dengan baik, ada rasa takut, curiga atau malu.

 

Karena tak diterima di keluarganya, dia tidak kerasan, maka orang ini kembali ke RS dan diperlakukan sebagai pasien, tidur di bangsal dan makan makanan jatah RS. Tapi mereka ini menerima dengan senang hati. Kadang mereka disuruh kerja membantu pegawai dan diberi makan dan honor ala kadarnya.

Lomba2, seni budaya itu Agustusan itu, sebagai sarana bersosialisasi sekaligus hiburan bagi pasien. Apakah dia sebagai peserta, pemain atau penonton. Di panggung aula, ada penyanyi2 dari pasien yang ada di RS itu. Dari pasien “abadi”, yang tidak gila-gila amat, namun juga tidak 100% sembuh tadi.

Seorang penyanyi wanita dari pasien yang tiap tahun tampil di panggung. Dia menyanyi (tanpa iringan musik), menari, atau tepatnya menggerakkan tangan dan kepala, sebab badan dan kaki diam, tidak bergerak, tanpa senyum. Yang lucu, dari tahun ke tahun pakaiannya ya yang itu, lagunya ya lagu yang itu dan menarinya ya seperti itu. (Widharto KS-2017; dari grup FB-ILP)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Enter Captcha Here :

Back to top button
Close
Close