Pengalaman Anggota

Fauna Indonesia-Lanceng-klanceng penghasil madu mungil

Beberapa waktu lalu, ketika dalam perjalanan dari Semarang ke Magelang, di daerah Pingit, yang sejuk dulu terkenal sebagai penghasil lengkeng terbesar di Indonesia (sebelum datang lengkeng bangkok), saya melihat penjual madu di pinggir jalan.

 

Saya dan istri berhenti untuk membeli. Istilah sosialnya, membelanjakan uang di daerah, bukan hanya di kota besar seperti Bandung dan Jakarta saja. Oh ya, ini ajakan juga, kalau anda berkunjung ke daerah, belanjalah di sana. Penuhi bahan bakar kendaraan di sana, bukan di kota besar saja. Belanjalah makanan, pakaian dan barang-barang dari daerah tersebut.

 

Bagi kaum wanita, ke salon di daerah juga boleh, malah lebih murah, sebab sewa gedungnya juga lebih murah. Kembali ke soal madu tadi. Dari sekian banyak madu yang dipajang, saya tertarik dengan tulisan “Madu Lanceng” yang belum pernah meminumnya. Ternyata harganya sedikit lebih mahal dibandimg madu tawon, tak apalah, sekalian mencoba.

Madu ini ternyata rasanya enak dan kata “internet” lebih bagus khasiatnya dibanding madu tawon. Saya percaya saja, karena rasanya memang lebih enak, tidak ada rasa atau aroma yang mengganggu. Namun, tentu saja hal ini tergantung di daerah tersebut banyak terdapat bunga apa sebagai penghasil madu.

Madu lanceng itu apa sih?
Jawabannya : Ya madu yang dikumpulkan oleh hewan yang disebut lanceng. Nah, lalu lanceng itu apa? Anda ada yang belum tahu? Kalau belum, di bawah ini penjelasannya.

Lebah klanceng (Apis Trigona) itu jenis lebah madu yang banyak dipelihara tradisional oleh masyarakat pedesaan sekitar kawasan hutan se-Indonesia. Lebah ini tidak memiliki sengat dan tidak ganas. Ukurannya sangat kecil (lebih kecil dibanding lalat rumah) dan menjadi penyerbuk bunga-bunga kecil.

Dalam bahasa Jawa, Apis Trigona disebut lanceng atau klanceng atau lonceng, teuweul (Sunda), gala-gala (lilin lebah). Dalam bahasa lain disebut juga galo-galo, kelulut, kalulut, ketape, kammu, dsb.

Umumnya klanceng trigona sp dipelihara tradisional dengan gelodok yang pembuatannya meniru rumah2 lebah yang ada di rongga2 batang pohon besar atau gua yang terlindung dari terik matahari dan hujan. Rumah tiruan dibuat dari batang kelapa (pucuk), kayu randu (kapuk), ruas bambu, batok kelapa, atau bisa juga dari kotak terbuat dari papan kayu.

Setiap koloni klanceng menghasilkan 1-2 kg madu per tahun, bandingkan dengan Apis mellifera (lebah madu) yang mampu menghasilkan 10 kg madu per koloni tiap tahun. Maka tak mengherankan harganya lebih mahal dibanding madu umumnya. Tiap botolnya dijual petani Rp 200.000 dan di toko2 umum atau koperasi harganya meningkat jadi paling murah Rp 65.000 per botol ukuran 140 ml.

Lebah klanceng tinggal di daerah tropis dan subtropis yang bersuhu rata-rata di bawah 32 derajat celcius, mereka menetap di dalam batang pohon, ruas bambu, lubang di tanah, bebatuan, dll. Suhu ideal yang disukai trigona berkisar 18 – 24 derajat Celcius dan kelembaban (60 – 70)%.

Anda sudah pernah mencoba madunya? Kalau belum dan kalau ada, cobalah. Kalau anda mau beternak, beternaklah . . . . ( Widharto KS-2017; dari grup FB-ILP; Referensi : http://medikal.blogspot.co.id/2012/06/mengenal-madu-lebah-apis-trigona-sp.html)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.




Enter Captcha Here :

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Lihat Juga
Close
Back to top button
Close
Close