Islam

Menghalau Gosip (Ghibah)

Ber-kata2 adalah hal termudah dilakukan. Bila yang terluncur kata2 manis, kebaikan dan manfaat bagi dirinya akan diterimanya. Sebaliknya, jika kata2 kotor dan melukai orang lain, tentu dengan mudah akan menyeretnya ke lubang persoalan yang akan menjerumuskannya.

 

Lidah tidak bertulang, itu ungkapan yang mewakili masalah gosip. Gosip masuk kategori ghibah. Karena bergosip, ngerumpi, dalam prakteknya sama dengan berghibah, yakni sama2 membicarakan orang lain tanpa sepengetahuan mereka. Umumnya pembicaraan aib / keburukan obyek yang dibicarakan.

 

Ghibah itu sesuatu yang benar tentang seseorang dibelakang dia, tapi itu tidak disukai orang yang dibicarakan. Ibnu Katsir mengatakan dalam tafsir surah  al-Hujurat, ghibah dilarang berdasarkan kesepakatan (‘ijma), kecuali situasi mendesak untuk membicarakan seseorang.

 

Hadits diriwayatkan Muslim, Tirmizi, Abu Daud dan Ahmad, mengatakan “Ghibah itu kau ceritakan saudaramu sesuatu yang ia benci.” Si penanya : “Rasulullah apa pendapatmu bila yang diceritakan itu benar?” Rasul : “Kalau itu benar, itu ghibah namanya. Jika tidak, berarti engkau berbuat dusta,”

 

Ulama2 sepakat ghibah itu perkara penting yang harus disoroti. Karena, ghibah itu dosa besar dan  pelaku harus bertaubat pada Allah swt. Dijelaskan di  al-Hujurat 12: “Orang2 yang beriman jauhilah ri prasangka, karena prasangka itu dosa dan jangan kamu men-cari2 kesalahan orang lain dan janganlah menggunjing yang lain. Bertakwalah pada Nya. Allah Maha Penerima taubat  lagi Maha Penyayang.”

 

ALASAN UMUM BERGHIBAH

Seseorang termotivasi berghibah bila ia marah/kesal pada seseorang. Karena ia merasa dirugikan, maka ia tumpahkan beban di dadanya dengan bercerita ke temannya, sebgaimana firman Allah swt:

Namun ada kaul walau ada yang membolehkan ‘bergosip ‘untuk melepas beban dari dadanya’. Karena dengan itu sedikitnya ia bisa melepaskan api marahnya.

 

Alasan umum pegosip, berusaha mengangkat diri dengan menjatuhkan orang lain. Bisa saja seseorang berkata, “Si anu itu bego, dungu…,” dsb. Ia menunjukkan dirinya lebih baik. Yang dekat dengan keseharian kita bergosip, seolah kita mampu membuat orang lain bahagia dan tertawa. Kadang kita tidak menganggap gosip itu dosa.

 

Ada juga hal2 kecil  yang dekat dengan keseharian kita, bahkan kita sering melakukan. Contoh, ketika ada yang di-puji2 dalam pertemuan dan ia disukai banyak orang, bisa jadi ada orang lain iri mendengarnya. Orang ini menghina orang itu, sehingga orang itu kehilangan status yang ia sandang. Orang iri itu harus ingat dampak iri hati dan penghinaannya, yang jadi korban akan berada di atasnya.

 

BEBERAPA PENGECUALIAN DIBOLEHKANNYA GHIBAH

Walau ber gibah dilarang dan dosa, ada alas an boleh membicarakan orang lain, misal orang teraniaya / dizalimi. Ia boleh bergibah menuntut haknya. Surat an-Nisa ayat 148: “Allah tidak mencintai orang yang bergibah kecuali bagi orang yang teraniaya.”

 

Alasan lain dibolehkannya seseorang membicarakan keburukan orang lain adalah jika bertujuan menasehati kaum muslim tentang agama dan dunia. Karena nasehat, menurut hadits yang diriwayatkan Muslim, Abu Daud, Tirmizi, Nas’I, Ad-Darimi dan Ahmad, adalah inti ajaran agama.

 

Menasehati itu wajib untuk memelihara kemaslahatan, seperti menceritakan sifat tercela perawi cacat. Dengan tahu celah2 boleh berghibah, kita tak bisa bergibah leluasa. Karena merupakan pengecualian pada kaum2 tertentu dan dalam kesempatan2 mendesak.

 

Kita harus hati2 bisikan setan-hawa nafsu. Sehingga, tatkala ‘bergosip’ karena dibolehkan, malah menyalahgunakan. Padahal perbuatan itu awalnya tidak dibolehkan syara’. Ia malah terus bergosip.

 

Langkah aman adalah meluruskan dan menyelaraskan antara, ucapan dan tindakan. Karena setiap orang  yang beriman mengakui tidak ada manfaat kaum muslim menggosipkan seseorang apalagi berusaha membuka kesalahan2nya. (Sugiyanto Nasirun IR)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Enter Captcha Here :

Lihat Juga
Close
Back to top button
Close
Close