Pengalaman Anggota

Oh Organ-ku (FE-x)

Ada dua perangkat elektronik yang sangat saya jaga agar jangan rusak, treadmill dan organ. Treadmil menjaga kinerja fisik saya, agar tetap bugar. Setidaknya 4x seminggu ia setia melayani kaki tua ini tanpa mengeluh. Catu listriknya, saya lewatkan “voltage-regulator”.

 

Landasan karet ban-nya denganteratur saya minyaki dengan pelumas khusus. Bila sedang tidak dipakai, selalu saya selimuti agar terlindung dari debu atau air. Bahkan kaki2nya tidak saya ijinkan menyentuh lantai, ada landasan karet yang menjaganya.

Perangkat kedua, adalah organ. Organ ini tempat saya berlabuh bila penat membaca atau cape belajar. Alunan irama dan dentingan nada-nya seperti siraman air yang menyegarkan. Melarutkan semua letih atau risau yang mengotori pikiran. Saya malah menjaga catu listriknya dengan “selvo voltage regulator”, agar ia tetap berfungsi baik manakala saya butuhkan.

Organ diciptakan bukan hanya untuk ahli musik, namun juga untuk orang yang buta musik. Lha saya, sense of musiknya, nol-putul. Ketukan dalam berirama, saya kacau sama sekali. Kadang terlalu ter-buru2 kadang terlambat. Menyamakan nada saya juga payah. Suara apa lagi. Super sumbang kek, nggalur kek, pokoknya amburadul. Tapi, karena semua jauh dibawah passing grade, 5 tahun yang lalu saya membeli organ, Yamaha PSR 910.

Organ adalah sebuah mesin ajaib, sebuah “master-piece” dalam penemuan perangkat musik. Bagi pemula yang takut menyentuh tuts, masukan saja rekaman music yang sudah disimpan dalam flashdisk, alunan musik ajaib dari lagu kesayangan kita, kita tinggal bernyanyi mengikuti tanpa sekalipun menyentuh tuts. Bahkan suarapun bisa diatur tunggal atau duet.

Bagi yang sedikit lebih berani, tinggal membeli sebuah buku musik yang berisi partitur. Misalnya lagu “Kembali ke Jakarta” ciptaan Koes Plus. Sesuai partitur, stel jenis musiknya, 8 Beat. Kemudian stel lagi temponya, 86. Ok. Tinggal mainkan, anda bahkan cukup memainkan dengan satu jari telunjuk kiri saja.Satu jari? Ya, cukup. Pijit sesuai petunjuk partitur, C .. G … atauF dst.

 

Bila sudah mahir, anda bisa mencoba dengan dua jari, tentu mutu iringan anda sedikit lebih baik, anda bisa memainkanG7, C7 atau Am, atau Em, tentu tergantung jenis lagunya. Bila lebih tekun, tangan kiri anda bisa lima jari dan tangan kanan bisa memainkan melodi. Mudah sekali bukan? Bagi pensiunan yang kaya akan waktu, bermain organ adalah tantangan yang mengasyikan.

Nah, selama beberapa minggu ini rumah saya sepi. Organ saya sedang mogok, tidak mau menyala. Mother boardnya rusak. Ongkos perbaikannya mahal, padahal cash-flow saya juga lagi kacau. Pos pemasukan yang saya harapkan bulan lalu masuk, ternyata macet.

Tapi Allah memang sayang kepada saya. Waktu ulang tahun kemarin, anak saya menelepon,
“Bapak mau kado apa?”, tanyanya.
“Ah, nggak usah lah Lul”, jawab saya.
“Lha, butuh apa?”, desaknya lagi..

“Eng …….. anu Lul, Organ Bapak rusak, perlu perbaikan”. Jawab saya
“Butuh berapa pak?, desak dia
“Ya, transfer saja. Kalau kurang bapak nambahin sendiri”
Alhamdulillah. Satu masalah solved. Tinggal mikir SPP bulan depan. Semoga yang macet lancar kembali. Amien. (Sadhono Hadi; dari grup WA-BPTg)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.




Enter Captcha Here :

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Lihat Juga
Close
Back to top button
Close
Close