Pengalaman Anggota

Gerimis melankolis

Aku tak tau ini cerita apa puisi.

Tetapi sore itu gerimis jelang senja, mengingatkanku sebuah dusun kecil diantara bukit Cisarua.

Jalan kesana yang menurun berkelok,  melewati rumpun bambu mengesankan suasana sunyi.

 

Beberapa rumah dengan dinding bilik dan  genteng tanah  hitam legam serta sebagian  dari atap rumbia, tengah mengeluarkan asap putih, menjadi pemandangan  kontras dengan warna sekitarnya yang kelabu sendu.

 

Nampaknya kalau bukan ibu rumah tangga sedang menyiapkan makan malam, mungkin juga petani sedang membakar jerami guna mengusir dingin dikandang sapi. Beberapa anak bersarung dan  berpeci, sudah dari bada Ashar mengaji  memperdengarkan nyanyi penuh puji kepada Sang Maha Suci dan Salawat Nabi.

 

Rasa tentram dihati sekalipun jauh dari radio televisi,  seolah menjauhkan dari suasana duniawi.

Ternyata benar ukuran tentram dan bahagia. Bukan harus selalu dirumah mewah dan penjagaan SATPAM. Kesederhanaan dan keikhlasan itulah kuncinya. (Soenarto SA; dari grup WA-VN)-FR

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.




Enter Captcha Here :

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close
Close