Psikologi

Kemenangan Pemilihan Pemimpin

(republika.co.id/)-Proses pemilihan pemimpin di berbagai level, selalu berakhir ada pemenang dan yang kalah. Kemenangan itu karunia dan nikmat terbesar yang datang dari Allah SWT (QS al-Shaff [61]: 13), sekaligus merupakan hak prerogratif-Nya (QS Ali Imran [3]: 126). Jadi yang menang tidak jumawa dan yang kalah tidak kehilangan arah.

Hakikat dari kemenangan itu kemenangan terhadap yang diharapkan yang terkandung berbagai kebaikan, keberhasilan, dan kelanggengan dalam kenikmatan dan kebaikan. Utamanya, mendapat dukungan dari-Nya (takyidullah) dan ridha-Nya.

Kemenangan tak datang dengan sendirinya. Ia memiliki hukum dan aturan main yang harus dipahami tiap calon pemimpin. Calon pemimpin yang dimenangkan tidak akan dapat dikalahkan, meski seluruh penduduk bumi bersatu untuk mengalahkannya. 

Sebaliknya, calon pemimpin yang dikalahkan tidak mungkin dapat menang meski ia memiliki pendukung yang militan, perlengkapan yang memadai, dan pendanaan melimpah. (lihat QS Ali Imran [3]: 160).

Dengan pemahaman itu mengantarkan kepada suasana syukur jika menang dan sabar jika kalah. Sebelum pemilihan sejatinya tertulis, siapa yang menang dan yang kalah. Bagi peraih kemenangan akan mendapat kebaikan dan dukungan dari-Nya. Jika kalah, tidak berputus asa, ia tetap berkontribusi untuk kemaslahatan bangsa dan siap dipimpin. Itulah hakikat kemenangan.

Hakikatnya, jika menang sombong, angkuh dan merasa lebih hebat dari yang lain. Jika kalah putus asa, menyalahkan orang lain, tak mau berkontribusi untuk kemaslahatan bangsa, tidak siap dipimpin, bahkan mengganggu jalannya kepemimpinan yang sah.

Kemenangan itu tak diraih instan, perlu proses dan langkah pendukungnya. Paling tidak ada 4 langkah dalam upaya meraih kemenangan.

Pertama, menolong agama Allah. Luruskan niat mengikuti proses pemilihan dalam rangka menolong agama Allah SWT. Jaminan bagi yang mau menolong agama-Nya, akan mendapat pertolongan-Nya untuk dimenangkan.

Dalam Alquran surat Muhammad [47] ayat 7.Firman-Nya, “Orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” 

Dalam ayat lain, Allah akan menolong orang yang mau menolong agama-Nya (membela Islam). “Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah Maha kuat lagi Maha perkasa.” (QS al-Hajj [22]: 40).

Kedua, persatuan dan kesatuan. Jika start-nya sudah Lillah (ikhlas karena-Nya), maka akan melahirkan kesatuan hati, sikap, dan gerak. Karena itu, kita diperintahkan untuk berpegang teguh dengan tali agama Allah SWT dan jangan pernah bercerai-berai (QS Ali Imran [3]: 103).

Karena itu, Allah mengingatkan melalui ayat-Nya, “Dan jangan kamu menyerupai orang2 yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka ituorang2 yang mendapat siksa yang berat.” (QS Ali Imran [3]: 105).

Ketiga, soliditas. Persatuan dan kesatuan yang dibangun atas dasar Lillahitu akanmelahirkan soliditas di antara anggota. Soliditas itu anugerah, dan hal itu akan diberikan kepada orang2 yang beriman yang istikamah dalam menolong agama-Nya.

“Yang mempersatukan hati mereka (orang2 beriman). Walau kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha gagah lagi Maha Bijaksana.” (QS al-Anfal [8]: 63).

Soliditas itu semakin kokoh jika ditopang aspek ruhiyah. Dan, untuk menghadirkan ruhiyah, antara lain dengan membangun hubungan yang kokoh dengan-Nya (hablum minallah) melalui ibadah malam.

Allah SWT berfirman, “Tuhanmu mengetahui bahwa kamu berdiri (shalat malam) kurang dari 2/3 malam, atau 1/2 malam atau 1/3 nya dan (demikian pula) segolongan dari orang2 yang bersama kamu…” (QS al-Muzzammil [73]: 20).

Keempat, efektifitas amal. Upaya itu semua diperlukan perencanaan matang, supaya dalam tiap gerak dan langkah yang dilakukan efektifitasnya terukur dan dapat dipertanggungjawabkan. Efektifitas itu akan menghasilkan produktivitas dalam kerja (amal).

“Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang2 mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS at-Taubah [9]: 105).

Jika keempat langkah ini diwujudkan maka akan dapat mengantarkan pada kemenangan dan tambahan takyidullah (dukungan Allah SWT). Wallahu a’lam. (Ichsan Emrald Alamsyah; Bahan : https://www. https://www.republika.co.id/berita/retizen/surat-pembaca/19/03/04/pnu120349-kemenangan-dalam-pemilihan-pemimpin /berita/retizen/surat-pembaca/19/03/04/pnu120349-kemenangan-dalam-pemilihan-pemimpin)-FatchurR *

*** Pada akhirnya kita berharap-siapapun pemenangnya, NKRI makin maju menuju sejahtera dan yang berketuhanan YME (FR)

Tulisan Lainnya :

  • Tidak ditemukan tulisan
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Enter Captcha Here :

Back to top button
Close
Close